Press "Enter" to skip to content

IHSG Terkoreksi, Rupiah Menguat Tipis

JAKARTA, Bisnistoday- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Rabu (24/2) mengalami koreksi. IHSG ditutup melemah tipis 21,75 poin atau 0,35 persen ke posisi 6.251,05. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 8,49 poin atau 0,89 persen ke posisi 950,72.

“Sebenarnya IHSG hanya koreksi wajar saja karena IHSG sudah mengalami kenaikan selama beberapa hari dan pekan ini juga lagi minim sentimen baik dari global atau domestik,” kata analis Bahana Sekuritas, Muhammad Wafi di Jakarta, Rabu (24/2).

Ia menuturkan sebenarnya ia memprediksi koreksi IHSG akan terjadi pada Selasa (23/2) kemarin, namun sentimen positif dari keluarnya turunan UU Cipta Kerja yaitu Peraturan Pemerintah (PP) sektor telekomunikasi berhasil membuat IHSG bertahan di teritori positif.

“Ke depan, sepertinya pasar menunggu sentimen dari laporan keuangan kuartal IV emiten untuk melihat arah selama tahun 2021 serta sentimen lain dari pemerintah, jika ada,” ujar Wafi.

Dibuka menguat, IHSG hanya menguat di separuh sesi pertama, sebelum terkoreksi dan berakhir di zona merah pada penutupan perdagangan saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tujuh sektor terkoreksi dimana sektor barang baku turun paling dalam yaitu minus 2,44 persen, diikuti sektor perindustrian dan sektor kesehatan masing-masing minus 2,05 persen dan minus 1,64 persen.

Tiga sektor meningkat dimana sektor barang konsumen primer naik paling tinggi yaitu 0,64 persen, diikuti sektor keuangan dan sektor properti masing-masing 0,42 persen dan 0,16 persen.

Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau net foreign buy sebesar Rp302,2 miliar.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.424.724 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 30,57 miliar lembar saham senilai Rp16,98 triliun. Sebanyak 198 saham naik, 275 saham menurun, dan 169 saham tidak bergerak nilainya.

Rupiah Menguat Sementara itu,nilai tukar (kurs) yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup menguat tipis 8 poin atau 0,05 persen ke posisi Rp14.085 per dolar AS dari posisi penutupan hari sebelumnya di Rp14.093 per dolar AS. Penguatan didukung oleh pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell terkait kebijakan suku bunga rendah bank sentral AS tersebut.

“Penguatan rupiah didukung Gubernur The Federal Reserve AS Jerome Powell yang menegaskan kembali komitmen bank sentral untuk suku bunga rendah dan pembelian obligasi untuk mendukung pemulihan ekonomi AS,” kata Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi.

Dukungan The Fed tersebut bisa menjadi faktor negatif jangka panjang bagi dolar AS. Powell juga menepis kekhawatiran bahwa kebijakan moneter yang longgar dapat menyebabkan inflasi dan gelembung keuangan.

Dari domestik, Bank Indonesia sudah beberapa kali menurunkan suku bunga acuan, tujuan utamanya adalah untuk membantu memulihkan ekonomi dari pandemi Covid-19 dan menstabilkan rupiah. Namun, penurunan suku bunga BI belum dibarengi dengan penurunan suku bunga kredit perbankan.

Apabila perbankan tidak menurunkan suku bunga kredit, maka masyarakat atau pengusaha akan terbebani dengan bunga yang tinggi sehingga masyarakat dan pengusaha enggan untuk meminjam dana di perbankan.

“Sinyal positif data eksternal kurang didukung dengan data internal yang mengakibatkan penguatan mata uang garuda tertahan,” ujar Ibrahim./

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *