www.bisnistoday.co.id
Rabu , 3 Juni 2026
Home BURSA & KORPORASI Investor Khawatirkan Munculnya Virus Covid-19 Varian Baru, IHSG Ditutup Anjlok
BURSA & KORPORASI

Investor Khawatirkan Munculnya Virus Covid-19 Varian Baru, IHSG Ditutup Anjlok

IHSG melemah
IHSG pada perdagangan akhir pekan, Jumat (01/03) ditutup melemah
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan akhir pekan, Jumat (26/11) ditutup anjlok 137,79 poin ke posisi 6.561,55, sementara indeks LQ45 turun 24,03 poin  ke posisi 941,11. Tertekannya IHSG dipengaruhi oleh munculnya varian baru virus Coviv-19, B.1.1.529

Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam ulasannya di Jakarta, Jumat (26/11) menyebutkan melemahnya IHSG sejalan dengan sentimen eksternal yang turut menekan pasar saham regional Asia. Bursa Asia terkoreksi dipicu munculnya varian baru dari virus Covid-19 yang menambah kekhawatiran pelaku pasar tentang pertumbuhan di masa depan.

Varian B.1.1.529 telah ditemukan di Afrika Selatan dan Hong Kong. Kekhawatiran virus baru tersebut menjadi perhatian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dikabarkan akan menjadwalkan pertemuan khusus untuk membahas hal tersebut.

Sentimen lainnya, spekulasi akselerasi terhadap kebijakan moneter tapering The Fed membuka ruang adanya kenaikan suku bunga.

Sementara sentimen internal datang dari putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait UU Cipta Kerja. MK dalam putusannya memerintahkan DPR bersama Pemerintah untuk memperbaiki UU Cipta Kerja dalam jangka waktu dua tahun ke depan.

Pelaku pasar tampaknya khawatir hal itu akan menjadi ganjalan dalam menarik investor untuk berinvestasi di dalam negeri.

Dibuka melemah, IHSG terus berada di zona merah sepanjang sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih tak mampu beranjak dari teritori negatif hingga penutupan bursa saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sepuluh sektor terkoreksi dimana sektor perindustrian turun paling dalam yaitu minus 3,61 persen, diikuti sektor barang baku dan sektor energi masing-masing minus 2,82 persen dan minus 2,6 persen. Sedangkan satu sektor meningkat yaitu sektor kesehatan sebesar 0,24 persen.

Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau “net foreign sell” di seluruh pasar sebesar Rp185,16 miliar.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.607.004 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 28,42 miliar lembar saham senilai Rp16,47 triliun. Sebanyak 99 saham naik, 476 saham menurun, dan 98 tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia yang mengalmi penurunan antara lain indeks Nikkei melemah 747,66 poin atau 2,53 persen ke 28.751,62, indeks Hang Seng turun 659,64 poin atau 2,67 persen ke 24.080,52, dan indeks Straits Times terkoreksi 55,25 atau 1,72 persen ke 3.166,27.

Rupiah Tertekan

Sementara itu, kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup melemah 70 poin ke posisi Rp14.358 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.288 per dolar AS.

“Cukup menarik pergerakan rupiah hari ini, karena di AS sendiri perdagangan USD relatif sepi karena libur Thanksgiving sejak Kamis kemarin. Pelemahan IDR hari ini saya melihatnya karena masih menyerap sentimen tapering di global,” kata analis Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), Nikolas Prasetia seperti dilansir Antara.

Berdasarkan hasil notula rapat pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang dirilis dua hari lalu menunjukkan bahwa sejumlah pembuat kebijakan The Fed mengatakan bahwa mereka akan terbuka untuk mempercepat penghapusan program pembelian obligasi mereka jika inflasi bergerak lebih tinggi, dan bank sentral akan bergerak lebih cepat untuk menaikkan suku bunga.

Presiden Fed San Fransisco Mary Daly juga mengatakan bahwa dia dapat melihat adanya sebuah argumen untuk mempercepat pemangkasan program pembelian obligasi The Fed.

“Sementara di Indonesia minim isu, sehingga membuat IDR relatif melemah hari ini. Pelemahan IDR ini pun mengabaikan keyakinan Bank Indonesia bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2022 akan bisa mencapai 4,7-5,5 persen,” ujar Nikolas./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

GEDUNG BEI
BursaBURSA & KORPORASI

Investor Masih Selektif, Tren “Bearish” Masih Menyelimuti IHSG

JAKARTA, Bisnistoday – Tekanan pasar saham diperkirakan masih berlanjut pasca rebalancing MSCI...

eBay (dok: usplash/appshunter-io)
BURSA & KORPORASIEkonomi & BisnisKorporasiOtomotif & Tekno

GameStop Akuisisi eBay Senilai Rp975 Triliun

JAKARTA, Bisnistoday -GameStop, salah satu perusahaan ritel pengecer video game asal Amerika...

BursaBURSA & KORPORASIHEADLINE NEWS

Astra Tebar Deviden Fantastis Rp15,6 Triliun, Pemegang Saham Perseoran Raup Rp292 Per Saham

JAKARTA, Bisnistoday - PT Astra International Tbk  (Astra) berhasil mencetak laba bersih...

Panama City (dok: Unsplash/Sol Cerrud)
BURSA & KORPORASIEkonomi & BisnisGLOBALKawasan Global

Para Konglomerat Sembunyikan Pajak Senilai 3% dari PDB Global

JAKARTA-Bisnistoday: Lembaga nirlaba internasional, Oxfam mengungkapkan orang-orang superkaya di dunia diduga menyembunyikan...