JAKARTA, Bisnistoday – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan, Rabu (17/1) ditutup melemah 42,16 poin ke posisi 7.200,63. Sementara indeks LQ45 turun 6,45 ke posisi 968,94.
Pelemahan seiring ekspektasi pasar bahwa Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) tidak akan segera menurunkan tingkat suku buga acuannya dalam waktu dekat.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 16-17 Januari 2024 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate tetap di level 6 persen.
“Keputusan mempertahankan BI-Rate pada level 6 persen tetap konsisten dengan fokus kebijakan moneter yang pro-stability yaitu untuk penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo.
Dibuka menguat, IHSG bergerak ke teritor negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG betah di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sebelas atau semua sektor turun yaitu dipimpin sektor energi yang turun minus 0,72 persen, diikuti sektor barang baku dan sektor industri yang masing-masing turun sebesar 0,85 persen dan 0,93 persen.
Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu SURI, SRAJ, MSKY, CGAS, dan NICE. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni GTRA, IRRA, CHEM, ACRO dan TPA.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.284.671 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 23,86 miliar lembar saham senilai Rp11,33 triliun. Sebanyak 197 saham naik, 333 saham menurun, dan 242 tidak bergerak nilainya.
Bursa Regional
Sementara itu, bursa regional Asia melemah dipengaruhi sikap pelaku pasar yang menurunkan ekspektasi akan penurunan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) dalam waktu dekat,” sebut Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya.
Hal tersebut seiring dengan pernyataan Gubernur The Fed Christopher Waller yang mengatakan The Fed tidak bisa terburu-buru menurunkan suku bunga acuannya.
Baca juga: Pasar Cermati Data Perekonomian China, IHSG Melemah
Sehingga, mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury 10-tahun naik 11,9 basis poin menjadi 4,0695 persen, dan yield obligasi di Eropa berfluktuasi karena para pejabat bank sentral Eropa mempertahankan ketidakpastian mengenai waktu penurunan suku bunga.
Sementara itu, National Bureau of Statistics China melaporkan pertumbuhan ekonomi China pada kuartal IV-2023 sebesar 1 persen, atau sesuai dengan ekspektasi pasar namun tidak sebesar kenaikan 1,3 persen pada kuartal III-2023.
Pasar memandang bahwa pertumbuhan itu melambat, seiring dampak pemerintah China yang masih berjuang melawan krisis properti yang melumpuhkan, lesunya konsumsi, dan gejolak global. Namun, secara tahunan melebihi target pemerintah dimana perekonomian China tumbuh 5,2 persen pada 2023.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain, indeks Nikkei melemah 141,39 poin atau 0,40 persen ke 35.477,80, indeks Hang Seng melemah 589,02 poin atau 3,71 persen ke 15.276,90, indeks Shanghai melemah 60,37 poin atau 2,09 persen ke 2.833,62, dan indeks Strait Times melemah 37,93 poin atau 1,19 persen ke 3.147,06./




