JAKARTA, Bisnistoday – PT Bank Danamon Indonesia Tbkmencatatkan pertumbuhan laba bersih konsolidasian sebesar 14% secara tahunan menjadi Rp4,0 triliun pada tahun buku 2025. Pencapaian ini diraih meski bank telah memperhitungkan dampak implementasi standar akuntansi terbaru PSAK 338, menandakan fondasi bisnis yang dinilai semakin kuat.
Bank Danamon Indonesia yang merupakan bagian dari grup keuangan global MUFG ini menilai pertumbuhan laba didorong oleh kombinasi faktor strategis: penurunan biaya kredit yang konsisten, ekspansi penyaluran kredit, peningkatan dana pihak ketiga, serta kualitas aset yang tetap terjaga.
Direktur Utama Danamon, Daisuke Ejima, menegaskan capaian tersebut merupakan hasil implementasi prioritas strategis perusahaan sepanjang tahun. Ia menyebut kepercayaan nasabah dan dukungan pemangku kepentingan menjadi faktor penting yang menjaga momentum pertumbuhan.
“Danamon menyambut tahun 2026 dengan tekad lebih kuat untuk menjadi penyedia solusi finansial yang terus mendapatkan kepercayaan nasabah sekaligus berkontribusi bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ujarnya.
Dari sisi intermediasi, total kredit dan trade finance konsolidasian mencapai Rp212,7 triliun atau naik 9% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan kredit ditopang lini bisnis Enterprise Banking dan Financial Institution yang melonjak 14%, diikuti Consumer Banking 10%, SME Banking 7%, serta pembiayaan dari Adira Finance sebesar 2%.
Di sisi pendanaan, simpanan dana pihak ketiga mencapai Rp176,9 triliun atau meningkat 16% secara tahunan. Pertumbuhan ini terutama berasal dari tabungan dan giro (CASA) yang naik 18% menjadi Rp75,2 triliun, indikator penting karena dana murah dapat menekan biaya bunga bank.
Pendapatan Non-Bunga Jadi Motor Baru
Menurut Daisuke, pendapatan operasional bank tercatat Rp21,6 triliun, naik 5% secara tahunan. Salah satu penopang utama berasal dari pendapatan non-bunga yang tumbuh 9% menjadi Rp3,7 triliun. Menariknya, pendapatan non-bunga dari aktivitas tresuri melonjak hingga 64%, menunjukkan optimalisasi strategi pengelolaan likuiditas dan pasar keuangan.
Pendapatan operasional sebelum pencadangan (PPOP) juga meningkat 4% menjadi Rp9,6 triliun. Sementara margin bunga bersih (NIM) tercatat tinggi di level 7,7%, menandakan kemampuan bank menjaga profitabilitas dari aktivitas penyaluran kredit.
Selain pertumbuhan laba, Dirut Bank Danamon ini mengutarakan, indikator risiko kredit menunjukkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah (NPL) bruto turun menjadi 1,7%, sementara rasio cakupan NPL mencapai 280,7%. Rasio loan-at-risk (LAR) membaik menjadi 8,3% dengan coverage ratio naik menjadi 54,9%.
Dari sisi likuiditas dan permodalan, bank mencatat rasio cakupan likuiditas (LCR) 158,9%, rasio pendanaan stabil bersih (NSFR) 117,9%, serta rasio kecukupan modal (KPMM) 25,4%, seluruhnya jauh di atas batas minimum regulator.
Sinyal Positif Industri Perbankan
Bagi Dirut Bank Danamon ini, kinerja ini memperkuat optimisme bahwa sektor perbankan Indonesia tetap resilien di tengah dinamika ekonomi global. Pertumbuhan kredit, peningkatan dana masyarakat, serta rasio permodalan yang solid menjadi indikator bahwa bank memiliki ruang ekspansi lebih luas pada 2026.
Dengan fondasi fundamental yang kuat dan dukungan grup global, Danamon menempatkan diri sebagai salah satu bank yang siap memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi domestik sekaligus menjaga stabilitas kinerja di tengah ketidakpastian global./



