JAKARTA, Bisnistoday- Sinyal bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed) tidak akan terlalu agresif menaikkan suku bunga menjadi sentimen positif. Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditranssikan antarbank di Jakarta pada Rabu (26/10) pun menguat 60 poin ke posisi Rp15.365 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp15.623 per dolar AS.
“Hari ini indek dolar (DXY) turun ke level 110, level terendah dalam dua pekan terakhir. Hal inidisebabkan oleh harapan akan adanya sinyal yang tidak terlalu hawkish dari The Fed karena data ekonomi AS yang mulai menunjukkan pelemah,” kata Ekonom Senior Mirae Aset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, Rabu (26/10).
Ia mengatakan, The Fed telah mengambil kebijakan kenaikan suku bunga sebesar 75 basis poin sebanyak tiga kali pertemuan sebelumnya, yang menjadi langkah darurat untuk menekan inflasi yang tinggi di AS.
Tetapi belum adanya tanda-tanda penurunan inflasi dan beberapa data ekonomi yang menunjukkan kondisi ekonomi yang makin melemah, memberikan dukungan pada peringatan beberapa pejabat The Fed yang menyuarakan untuk lebih bersikap hati-hati dalam mengambil kebijakan moneter.
Setidaknya tiga pejabat The Fed sudah menyuarakan kekhawatiran imbas buruk pada ekonomi, jika The Fed melanjutkan untuk mengambil langkah moneter yang agresif ke depannya.
“Rupiah memang masih dipengaruhi oleh sentimen global dan dolar AS masih relatif tinggi,” ujar Rully.
Rupiah pada pagi hari dibuka menguat ke posisi Rp15.599 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp15.562 per dolar AS hingga Rp15.608 per dolar AS.
Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Rabu menguat ke posisi Rp15.596 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya Rp15.616 per dolar AS./


















![Polisi antihuru-hara berhadapan dengan siswa SMA saat unjuk rasa di Paris [Yves Herman/Reuters]](https://bisnistoday.co.id/wp-content/uploads/2026/10/Pelajar-prancis-680x533.jpg)






















