www.bisnistoday.co.id
Rabu , 2 September 2026
Home OPINI Gagasan Sumpah Pemuda: Akad Kebangsaan yang Harus Terus Diperbarui
Gagasan

Sumpah Pemuda: Akad Kebangsaan yang Harus Terus Diperbarui

Univ. Paramadina
WISUDA MAGISTER Universtitas Paramadina, Jakarta./
Social Media

SETIAP kali tanggal 28 Oktober tiba, bangsa Indonesia memperingati Sumpah Pemuda — momen monumental yang meneguhkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Namun lebih dari sekadar seremoni, Sumpah Pemuda adalah akad kebangsaan, sebuah janji kolektif yang menuntut pembaruan makna dan tindakan nyata dari generasi ke generasi.

Pemikiran Nurcholish Madjid atau Cak Nur, pendiri Universitas Paramadina, memberi tafsir mendalam atas peristiwa ini. Ia menyebut Sumpah Pemuda sebagai ‘aqdun’ (akad) dan ‘iqrorun’ (ikrar), pernyataan komitmen moral terhadap kebangsaan. Namun Cak Nur juga mengingatkan, yang lebih penting bukan hanya mengucap sumpah, melainkan menunaikan tanggung jawabnya: bekerja keras, berkarya nyata, dan menegakkan nilai keadaban.

Cak Nur menolak melihat pemuda sekadar sebagai kelompok usia muda. Bagi dia, pemuda adalah subjek sejarah, agen perubahan yang memikul tanggung jawab moral dan intelektual untuk memperbaiki masyarakat. Pemuda sejati adalah mereka yang berani berpikir merdeka, memadukan iman, ilmu, dan kerja keras. Dalam pandangan ini, Sumpah Pemuda bukan sekadar simbol, tetapi panggilan untuk terus menyalakan semangat pembaruan.

Tantangan Nasionalisme di Era Kini

Hampir seabad setelah ikrar itu diucapkan, tantangan kebangsaan justru semakin kompleks. Kesenjangan sosial-ekonomi melebar, kualitas pendidikan merosot, dan elit politik kerap terjebak dalam arogansi kekuasaan. Di tengah kondisi ini, semangat persaudaraan dan solidaritas nasional mulai memudar.
Padahal, seperti dikatakan Bung Karno, bangsa ini hanya akan kuat bila seluruh elemen bersatu padu samen bundeling van alle krachten van de natie.

Cak Nur menilai demokrasi Indonesia masih terjebak dalam “jiwa kerdil”, di mana kepentingan pribadi dan golongan lebih diutamakan daripada kepentingan bangsa. Reformasi yang diharapkan membawa perubahan pun sering kehilangan arah karena lemahnya moral politik.

Menghidupkan Kembali Akad Kebangsaan

Di sinilah relevansi pemikiran Cak Nur kini terasa semakin penting. Ia mengajak generasi muda untuk membaharui Sumpah Pemuda bukan hanya lewat lisan, tetapi lewat tindakan. Nasionalisme tidak cukup berhenti pada simbol, melainkan harus diterjemahkan menjadi kerja konkret: menegakkan keadilan, memperjuangkan pendidikan, dan memupuk toleransi di tengah keberagaman.

Dalam konteks Indonesia yang majemuk, nasionalisme yang dikehendaki Cak Nur bukanlah chauvinisme sempit, tetapi nasionalisme inklusif, yang menghargai perbedaan dan menjadikannya kekuatan bersama.

Penutup: Dari Ikrar ke Aksi

Jika Sumpah Pemuda 1928 menjadi titik awal lahirnya bangsa, maka Sumpah Pemuda abad ke-21 seharusnya menjadi titik tolak lahirnya bangsa yang cerdas, adil, dan beradab.

Setiap generasi muda dipanggil untuk memperbarui ikrar itu bukan dengan upacara, tetapi dengan tindakan nyata yang meneguhkan makna kebangsaan.

Seperti kata Cak Nur, “Kerja dan karya adalah bagian paling penting untuk mengisi perjalanan sejarah bangsa menjadi makmur dan cerdas.”Sumpah Pemuda bukan hanya untuk diingat, tetapi untuk dikerjakan.//

Jakarta, Oktober 2025

Oleh : Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J Rachbini.

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Ustadz Das'ad
Gagasan

Meneladani Rasulullah Disaat Riuh Digitalisasi

JAKARTA, Bisnistoday- Di tengah kehidupan yang semakin cepat, tuntutan gaya hidup yang...

Bencana Banjir Bandang dan Longsor di Nepal, 26 Agustus 2026 (Dok: NDTV)
Gagasan

Ketika Alam Mulai Kehilangan Daya Tahannya

SEJUMLAH  kengerian demi kengerian terjadi di berbagai belahan dunia: badai, kebakaran hutan,...

Saiful Chaniago
Gagasan

Gas sebagai Jembatan Energi Indonesia

MENJAGA lampu tetap menyala bukan sekadar perkara menekan sakelar. Di baliknya terdapat...

Patung Kota Jakarta
Gagasan

Mengurai Benang Kusut Jakarta: Saatnya Fakta dan Data Berbicara

MEMBAHAS Kota Jakarta tidak pernah kekurangan persoalan. Dari urusan bantuan sosial, transportasi...