JAKARTA, Bisnistoday- Di tengah kehidupan yang semakin cepat, tuntutan gaya hidup yang terus berubah, serta derasnya arus digitalisasi, pesan tentang keteladanan Rasulullah SAW terasa semakin relevan. Bukan sekadar mengenang sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW, tetapi bagaimana ajaran dan perilakunya dapat menjadi pegangan dalam menghadapi persoalan kehidupan sehari-hari.
Pesan itu disampaikan Ustaz Das’ad Latif dalam tausiah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan Yayasan Kemanusiaan Rombsis Indonesia di Jakarta, Minggu (30/8). Di hadapan jamaah, Das’ad mengajak umat Islam untuk tidak berhenti pada perayaan seremonial, tetapi benar-benar meneladani perilaku utama Rasulullah.
Menurut Das’ad, salah satu pesan penting Nabi adalah menjaga salat. Bukan semata-mata sibuk menjaga harta, karena kualitas ketakwaan seorang Muslim justru tercermin dari bagaimana ia menjaga ibadahnya.
Pesan tersebut menjadi penting di tengah kehidupan modern ketika ukuran keberhasilan sering kali dikaitkan dengan kepemilikan materi. Rumah, kendaraan, jabatan, hingga gaya hidup kerap menjadi simbol keberhasilan seseorang. Padahal, kata Das’ad, kehidupan tidak semestinya hanya diukur dari apa yang dimiliki.
“Orang bisa galau karena selera gaya hidupnya tidak sesuai kemampuan,” ujar Das’ad.
Kegelisahan itu, menurutnya, dapat muncul ketika seseorang memaksakan diri mengikuti gaya hidup yang sebenarnya berada di luar kemampuannya. Karena itu, Rasulullah mengajarkan umatnya untuk memiliki kepedulian terhadap sesama melalui sedekah.
Bersedekah tidak membuat seseorang menjadi miskin.
Das’ad menekankan bahwa bersedekah tidak membuat seseorang menjadi miskin. Rasulullah justru dikenal sebagai sosok yang gemar berbagi dan tidak pernah merasa kekurangan meski terus memberikan hartanya kepada umat.
Semangat berbagi tersebut menjadi salah satu keteladanan yang menurut Das’ad perlu kembali dihidupkan. Kedermawanan bukan hanya soal memberikan materi, tetapi juga menghadirkan kepedulian kepada orang lain yang sedang menghadapi kesulitan.
Di tengah derasnya digitalisasi, perhatian terhadap kondisi keluarga juga menjadi pesan penting. Das’ad mengingatkan agar anak-anak mendapat perhatian dan pengawasan yang cukup. Lingkungan pergaulan perlu dijaga agar tidak membawa pengaruh buruk.
Jangan kasih makan anak dengan barang yang haram.
Bagi Das’ad, hubungan antara anak dan orang tua juga tidak boleh diabaikan. Anak merupakan bagian penting dalam kehidupan keluarga, termasuk ketika orang tua telah meninggal dunia. Doa anak menjadi salah satu bentuk kasih sayang yang terus menyambung hubungan tersebut.
Maulid Nabi, kata Das’ad, seharusnya menjadi momentum untuk kembali mempelajari bagaimana Rasulullah menyikapi kehidupan. Mulai dari menjaga salat, memperkuat zikir, berpikir positif, bersedekah, hingga membangun hubungan yang baik dalam keluarga.
Ia juga mengingatkan jamaah agar tidak kehilangan kekhusyukan dalam berdzikir. Zikir perlu dilakukan dengan fokus dan diiringi pikiran positif agar tidak sekadar menjadi rutinitas lisan.
Di akhir tausiah, Das’ad kembali mengajak jamaah taklim Yayasan Kemanusiaan Rombsis Indonesia untuk meneladani Rasulullah. Ketika ada sahabat atau orang lain yang sedang berduka, kepedulian sederhana seperti menggenggam tangannya dan mengajaknya bersalawat dapat menjadi bentuk penguatan spiritual.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh informasi dan tuntutan kehidupan, pesan Rasulullah yang disampaikan kembali oleh Das’ad menjadi pengingat sederhana: kekuatan seorang Muslim bukan hanya terletak pada apa yang dimilikinya, tetapi pada bagaimana ia menjaga ibadah, keluarga, kepedulian, dan hubungan dengan sesama./







































