www.bisnistoday.co.id
Rabu , 14 Oktober 2026
Home OPINI Gagasan Ketika Alam Mulai Kehilangan Daya Tahannya
Gagasan

Ketika Alam Mulai Kehilangan Daya Tahannya

Semakin kita merusak lingkungan, semakin besar pula harga yang harus kita bayar ketika alam memberikan responsnya.

Bencana Banjir Bandang dan Longsor di Nepal, 26 Agustus 2026 (Dok: NDTV)
Bencana Banjir Bandang dan Longsor di Nepal, 26 Agustus 2026 (Dok: NDTV)
Social Media

SEJUMLAH  kengerian demi kengerian terjadi di berbagai belahan dunia: badai, kebakaran hutan, hingga yang terkini banjir dan longsor di Nepal. Bencana yang terjadi di pegunungan Himalaya  pada 26 Agustus 2026 itu, diduga akibat ada bagian dari gletser yang runtuh. Es, batu, lumpur, dan air lantas meluncur dengan kekuatan yang begitu dahsyat, kemudian berubah menjadi banjir bandang yang menghantam permukiman di wilayah Nepal dan Tibet.

Jalan, jembatan, bangunan, bahkan ribuan manusia tersapu dalam sekejap. Kita yang melihatnya dari tayangan televisi atau media sosial, mungkin mengira itu bencana alam. Dan memang benar, ada kekuatan alam yang tidak mungkin kita kendalikan. Tapi, itu bukan satu-satunya faktor, karena kondisi alam yang kita tinggali hari ini tidak lagi sama seperti puluhan atau ratusan tahun lalu.

Suhu bumi terus meningkat. Es di banyak wilayah dunia mencair. Di Himalaya, gletser menyusut dan berubah semakin cepat. Ketika es dan tanah yang selama ini membeku mulai berubah, kestabilan pegunungan pun ikut goyah. Para ahli menilai pemanasan yang terjadi di kawasan Himalaya dapat meningkatkan risiko berbagai kejadian yang berkaitan dengan gletser dan lereng pegunungan.

Dan di sinilah manusia sama sekali tidak bisa lepas tangan. Meningkatnya suhu bumi bukan sesuatu yang muncul begitu saja. Selama puluhan tahun, manusia membakar batu bara, minyak, dan gas dalam jumlah sangat besar. Hutan ditebang, lahan berubah fungsi, dan kita semakin masif mengeksploitasi alam. Semua itu memiliki konsekuensinya.

Di Tanah Air

Mungkin Nepal terasa sangat jauh dari kita. Himalaya terasa seperti dunia lain. Tetapi kalau kita melihat ke negeri sendiri, rasanya kita tidak perlu pergi terlalu jauh untuk menemukan cerita yang sama.

Akhir tahun lalu, banjir dan longsor besar melanda sejumlah wilayah di Sumatera. Hujan ekstrem menjadi salah satu pemicu utama, tetapi kerusakan hutan dan kondisi daerah aliran sungai yang sudah terdegradasi membuat dampaknya menjadi jauh lebih parah. Para ahli menyoroti kerusakan hutan di wilayah hulu dan buruknya pengelolaan lahan sebagai faktor yang memperbesar bencana tersebut.

Jauh sebelumnya, pada 2010, Wasior di Papua Barat juga dilanda banjir bandang yang menewaskan banyak orang dan meninggalkan kerusakan besar. Hujan deras dan kondisi atmosfer menjadi bagian penting dari kejadian tersebut.

Kita bisa berdebat panjang mengenai penyebab setiap bencana. Apakah hujan, perubahan iklim, hutan yang menyusut, ataukah tata ruang yang buruk? Sering kali jawabannya bukan hanya satu. Tetapi mungkin ada satu hal yang seharusnya tidak kita perdebatkan: Semakin kita merusak lingkungan, semakin besar pula harga yang harus kita bayar ketika alam memberikan responsnya.

Hutan bukan hanya kumpulan pohon. Ia menyimpan air. Akar pohon membantu menjaga tanah. Sungai membutuhkan daerah tangkapan air yang sehat. Gunung membutuhkan vegetasi untuk membantu menjaga kestabilan lereng. Dan bumi membutuhkan keseimbangan yang selama ini terlalu sering kita anggap tidak akan pernah berubah.

Kita sering mengatakan bahwa bencana adalah kehendak alam. Mungkin benar. Tetapi seberapa besar bencana itu menjadi tragedi bagi manusia, sering kali juga dipengaruhi oleh apa yang telah kita lakukan terhadap alam sebelum bencana itu datang.

Kita mungkin tidak bisa menghentikan hujan atau mengendalikan aktivitas gunung, tapi kita masih bisa mengurangi kerusakan lingkungan dan menggunakan sumber daya dengan lebih bijaksana. Kita juga masih bisa memilih untuk tidak menganggap alam sebagai sesuatu yang selalu tersedia untuk dieksploitasi.

Peran manusia

Kerusakan alam tidak terjadi dalam satu hari. Ia terbentuk dari begitu banyak keputusan kecil manusia yang dilakukan terus-menerus. Oleh karena itu, menjaga alam juga harus dimulai dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan kontinyu. Karena pada akhirnya, menjaga alam bukan hanya tentang menyelamatkan hutan, sungai, gunung, atau gletser. Kita sedang menjaga tempat kita sendiri untuk hidup.

Dan mungkin, sebelum kita bertanya mengapa alam semakin sering memberi kita bencana, ada baiknya kita bertanya lebih dulu: Apa yang sudah kita lakukan terhadap lingkungan?

Adiyanto, wartawan Bisnis Today

Arsip

Beritasatu Network




BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

OJOL beroperasi di jalan raya.
Gagasan

Dilema Sepeda Motor: Antara Perjuangan Hidup dan Ancaman Keselamatan

JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Setiap pagi, jutaan sepeda motor menyerbu jalanan Indonesia. Di balik...

SUMUR MIGAS
Gagasan

Hulu Migas Nasional di Persimpangan: Produksi Bertahan, Investasi dan Perizinan Jadi Ujian

JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Ditengah meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah yang berpotensi mengguncang harga...

Layanan Transportasi
Gagasan

Integrasi Transportasi Jakarta: Satu Aplikasi, Bukan Banyak Aplikasi

JAKARTA, Bisnistoday.co.id- Integrasi transportasi publik Jakarta memasuki babak penting menjelang 2027. Namun, di...

SIDANG MK
Gagasan

Bola Panas MK kepada MPR: Perlukah Gibran Mengundurkan Diri?

JAKARTA,Bisnistoday.co.id- Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai keabsahan syarat pendidikan Wakil Presiden Gibran...