JAKARTA, Bisnistoday – JP Morgan Indonesia mempertemukan para investor kelembagaan global, pembuat kebijakan senior, serta para tokoh dunia usaha. Pertemuan ini untuk membahas prospek perekonomian Indonesia, peluang investasi, dan berbagai perkembangan penting yang akan menentukan arah pertumbuhan negara.
“APBN 2027 Indonesia mencerminkan keseimbangan konstruktif antara upaya mendukung pertumbuhan dan tekad menjaga disiplin fiskal. Di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung, ketahanan perekonomian Indonesia, likuiditas domestik kuat, serta berbagai upaya reformasi yang terus berjalan tetap menjadi fondasi bagi potensi pertumbuhan jangka panjang.” Ungkap Gioshia Ralie, Chief Executive Officer J.P. Morgan Indonesia, dalam sambutan pada acara diskusi tahunan J.P. Morgan Investment Forum di Jakarta, Rabu (2/9).
Diskusi dilanjutkan dalam acara media briefing pada tanggal 3 September 2026, di mana para narasumber J.P. Morgan memaparkan sejumlah poin penting mengenai prospek perekonomian dan pasar Indonesia.
Benny Kurniawan, Head of Equity Research J.P. Morgan Indonesia (kanan), memaparkan pandangan mengenai perekonomian dan pasar saham Indonesia dalam media briefing di Jakarta, Kamis (3/9) bahwa beberapa hal yang diakui para ekonom bahwa Presiden Prabowo Subianto menyebut Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 bersifat ekspansif, dengan tujuan mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lebih cepat. Sedangkan, target defisit fiskal lebih rendah, sebesar 2,4% (dari 2,85% pada 2026), mengisyaratkan pemerintah tetap menjaga kehati-hatian fiskal.
Dalam jangka menengah, dalam kesimpulannya, Benny menuturkan, bahwa penurunan rasio penerimaan negara terhadap produk domestik bruto (PDB) serta kenaikan beban pembayaran bunga tetap menjadi tantangan utama bagi prospek fiskal Indonesia. “Secara umum, sikap fiskal yang lebih konservatif dinilai dapat membantu menurunkan gejolak pasar saham Indonesia dan nilai tukar rupiah,” dalam kesimpulan diskusi, menurut Benny.
Sementara, dijelaskan Benny, dalam pertumbuhan & eksekusi fiscal bahwa, pemerintah memproyeksikan penerimaan negara tumbuh 6,8% pada 2027, dengan asumsi PDB nominal tumbuh sekitar 8,5%. Meski pertumbuhan belanja pemerintah melambat, pengeluaran untuk prioritas utama (di luar pembayaran bunga dan subsidi) diperkirakan meningkat tipis, menandakan kelanjutan dukungan terhadap langkah atau program terencana untuk mencapai pertumbuhan.
Sedangkan, lanjut Benny, mengenai penurunan pengeluaran subsidi berpotensi memperkuat posisi fiskal Indonesia, namun kenaikan harga energi dapat membuat pemerintah terpaksa mengurangi subsidi secara lebih berangsur-angsur dari rencana semula. Untuk menuju pertumbuhan berkelanjutan akan bergantung pada efektivitas pengeluaran pemerintah serta kemampuan menarik investasi swasta lebih besar melalui penanaman modal asing (FDI), deregulasi, dan investasi pelengkap nonanggaran negara.
Pendorong Pertumbuhan
Megnenai investasi dan pendorong pertumbuhan ekonomi, Benny memaparkan, para pakar sepakat dengan sumber daya fiskal dialokasikan ke berbagai prioritas, investasi sektor swasta lebih kuat akan semakin penting untuk mengangkat kurva pertumbuhan Indonesia dalam jangka menengah.Peningkatan efisiensi belanja, penanaman modal asing, dan reformasi regulasi dinilai menjadi jalur penting untuk menarik modal swasta.
Benny menambahkan, terkait Investasi BUMN dan Danantara dapat melengkapi belanja pemerintah pusat, membantu memperluas sumber investasi yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan lebih tinggi. Investasi domestik tetap perlu terus dipantau terkait sektor musiman (sektor yang kinerjanya sangat dipengaruhi naik-turunnya kondisi siklus ekonomi makro) dan permintaan barang modal
Dalam kesimpulan diskusi JP Morgan mengenai suku bunga, Rupiah, dan arus modal dijelaskan bahwa sikap fiskal yang lebih berhati-hati diperkirakan mendukung stabilitas aset finansial Indonesia dan nilai tukar rupiah.Namun, tingginya imbal hasil obligasi global dapat memengaruhi prospek suku bunga serta berpotensi memoderasi laju pertumbuhan laba emiten dan perbaikan valuasi pasar saham.
Benny menambahkan, eksposur investor asing sudah berada di level rendah menyusul arus keluar saham sebesar sekitar US$4,2 miliar sejak awal tahun. Ditambah likuiditas domestik kuat dan valuasi murah (saham atau aset diperdagangkan di pasar lebih murah dari nilai wajarnya), kondisi ini dinilai dapat mengendalikan tekanan untuk menurunkan harga lebih lanjut di pasar.Sedangkan, kinerja pasar akan terus dipengaruhi oleh pergerakan imbal hasil global serta perkembangan terkait indeks MSCI/FTSE./









































