JAKARTA, Bisnistoday – Center for Budget Analysis (CBA) menuding Istana sudah tidak memiliki rasa kepedulian terhadap kondisi krisis kesehatan dan ekonomi berat dimasa krisis. Terbukti, dalam kondisi darurat seperti sekarang, masih melakukan kegiatan cuek seperti mengecat pesawat ketimbang berjibaku mengatasi krisis.
Ada apa semua itu, apa mungkin masih saja terpikir dibenak pejabat itu untuk tetap mengejar setoran ditengah masyarakat sedang sekarat? “Pantesan mereka kelihatan lebih enak dan nikmat mengurus proyek pesawat kepresidenan daripada urusin Covid 19?” tukas Uchok Sky Khadafi, Direktur CBA dalam keterangan persnya di Jakarta, Selasa (10/8).
“Kami dari CBA (Center For Budget Analysis) ingin bertanya kepada Menteri Setneg Pratikno, Berapa sih nominal angka Anggaran ngecat Pesawat kepresidenan atau pemeliharaan pesawat VVIP kepresidenan,” tegas Uchok.
Baca juga : Presiden RI, Joko Widodo Mendapatkan Vaksin Covid-19 Perdana, di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (13/1).
Direktur CBA ini melalui keterangan persnya mengatakan, dari penelusuran dokumen RUP (Rencana Umum Pengadaan) Kementerian Sekretariat Negara pada tahun 2020, ada dua proyek untuk pemeliharaan pesawat VVIP kepresidenan sebesar Rp45,7 miliar. Satu proyek dengan kode RUP 22432000 mempunyai anggaran sebesar Rp25,7 miliar. Sedangkan dengan kode RUP 22433549 yang mempunyai nilai sebesar Rp20 miliar.
Kemudian, lanjut Uchok, dari proyek sebesar Rp45,7 miliar ini, banyak publik tidak tahu. Yang diketahui publik adalah anggaran ngecat pesawat kepresidenan sebesar Rp2,1miliar. Sedangkan dua proyek pesawat kepresidenan sebesar Rp45,7 miliar seperti disembunyikan dalam labirin kantor Setneg sendiri.
“Maka untuk itu, pihak setneg sebaiknya memberikan penjelasan secara detail kepada publik, untuk biaya apa saja anggaran sebesar Rp.45.7 milyar dikeluarkan. Apakah anggaran sebesar Rp.45.7 milyar sudah termasuk untuk ngecat pesawat kepresidenan sebesar Rp.2.1 milyar. Karena alokasi anggaran Rp.2.1 milyar tidak ada dalam dokumen RUP (rencana Umum Pengadaan),” tutur Uchok Sky Khadafi.
Tetapi yang penting, menurut Uchok, pihak Setneg harus menjelaskan anggaran sebesar Rp45,7 miliar dipakai untuk apa saja. Misalnya, Kalau ada kabel pesawat yang rusak, maka harus dijelaskan kabel merek apa atau perkakas seperti apa yang diperbaiki sehingga negara harus mengeluarkan anggaran yang begitu tinggi, sampai sebesar Rp45,7 miliar.
Baca juga : Sebanyak 33 RS Darurat Disiapkan Untuk Pasien Covid-19
Uchok menambahkan, selanjutnya, selain anggaran tersebut, pihak Setneg juga mengeluarkan anggaran lain untuk program pesawat kepresidenan. Yaitu ada proyek pemeliharaan Hanggar untuk pesawat kepresiden sebesar Rp2,1 miliar. Padahal pada tahun 2020 proyek pemeliharaan Hanggar kepresidenan hanya sebesar Rp1,1 miliar.
“Jadi Anggaran untuk proyek pemeliharaan Hanggar kepresidenan dari tahun 2020 ke 2021 seperti disulap membengkak sebesar Rp.1 milyar,” tukasnya.
Selain itu, katanya, Sekretariat Negara juga harus menguras APBN untuk proyek – proyek pesawat kepresiden seperti pada tahun 2021 ada proyek CCTV untuk hanggar pesawat kepresiden sebesar Rp148 juta.
Demikian halnya pada tahun 2020, menurut Uchok, ada juga proyek proyek yang boros, dan tidak masuk akal untuk pesawat kepresidenan seperti pemeliharaan kebersihan pesawat kepresiden sebesar Rp2,1 miliar, kemudian proyek pemeliharaan mekanikal, Elektrikal hanggar pesawat kepresidenan sebesar Rp519 juta.
“Sehigga Proyek proyek seperti pemeliharaan pesawat kepresidenan ini, jadi tempat yang “basah” bagi orang orang setneg. Bagimana tidak basah, dua proyek saja seperti pemeliharaan pesawat VVIP kepresidenan sebesar Rp45.7 miliar, dengan memakai metode pengadaannya hanya penunjukan langsung. Jadi enak dong perusahaan yang ditunjuk jadi pemenang,” tukasnya./



















![Polisi antihuru-hara berhadapan dengan siswa SMA saat unjuk rasa di Paris [Yves Herman/Reuters]](https://bisnistoday.co.id/wp-content/uploads/2026/10/Pelajar-prancis-680x533.jpg)






















