SANUR,Bisnistoday.co.id – Dalam mendukung agenda Bali Net Zero Emission (NZE) 2045 dan target pemanfaatan 100 persen energi terbarukan di Nusa Penida pada 2030, Kementerian PPN/Bappenas bersama Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH melalui Proyek Kerja Sama Indonesia-Jerman Green Jobs for Social Inclusion and Sustainable Transformation (GESIT) menyelenggarakan Satu Hari Energi Bersih (SHEB) 2026 dengan dukungan Pusat Keterampilan Energi Terbarukan (PKET).
Diselenggarakan di Mercure Hotel Sanur sebagai bagian dari Bali Climate Week 2026, SHEB menyoroti pentingnya menyiapkan sumber daya manusia lokal dan memperkuat ekosistem pekerjaan hijau agar transisi energi dapat membuka peluang nyata bagi masyarakat Bali, khususnya generasi muda.
GESIT dilaksanakan bersama oleh Bappenas atas nama Pemerintah Indonesia dan GIZ atas nama Pemerintah Jerman. Proyek ini mendukung pemerintah dan sektor swasta dalam mempromosikan pekerjaan hijau secara inklusif, termasuk melalui pengembangan kebijakan, peningkatan keterampilan, kegiatan percontohan di daerah, serta penguatan koordinasi dan pemantauan pengembangan pekerjaan hijau.
Di Bali, GESIT dengan dukungan PKET melaksanakan kegiatan percontohan untuk mempelajari bagaimana penyiapan sumber daya manusia dapat mendukung transisi energi di Nusa Penida.
Pembelajaran dari kegiatan ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pengembangan kebijakan dan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan industri, lembaga pendidikan, dan masyarakat lokal.
Pengembangan infrastruktur energi bersih di Nusa Penida terus berjalan. Namun, seiring dengan pembangunan infrastruktur, kesiapan tenaga kerja lokal juga perlu diperkuat sejak awal. Tenaga kerja terampil tidak dapat disiapkan secara instan. Karena itu, pengembangan keterampilan perlu dilakukan sebelum kebutuhan tenaga kerja meningkat secara signifikan.
Salah satu tantangan yang ditemukan melalui kegiatan percontohan adalah masih terbatasnya pilihan pendidikan dan jalur karier yang terkait dengan energi terbarukan.
Di SMKN 1 Nusa Penida, misalnya, program keahlian saat ini masih berfokus pada bidang pariwisata. Di sisi lain, sebagian tenaga teknis kelistrikan masih membutuhkan peningkatan kompetensi dan sertifikasi yang sesuai dengan standar industri energi terbarukan.
“Transisi energi tidak hanya soal teknologi, tetapi juga tentang manusia. Jika kita ingin Nusa Penida 100% beralih ke energi terbarukan, kita tidak bisa terus-menerus mendatangkan teknisi dari luar daerah. Tenaga kerja lokal, khususnya generasi muda Bali, harus menjadi aktor utama dan penerima manfaat terbesar dari lahirnya era pekerjaan hijau ini,” kata Sim Budiman Setiawan, Ketua Umum PKET.
“Transformasi sekolah kejuruan adalah kunci. Saat ini kami mengawal integrasi kurikulum energi terbarukan di 5 SMK percontohan di Bali, mengubah paradigma dari sekadar teori menjadi praktik riil yang terhubung langsung dengan kebutuhan industri energi terbarukan, ” katanya lebih lanjut.
Sebagai bagian dari kegiatan percontohan GESIT, sejumlah pendekatan untuk mengintegrasikan kompetensi energi terbarukan ke dalam pendidikan vokasi telah diuji dengan dukungan PKET. Pendekatan tersebut mencakup pengembangan konsentrasi keahlian, integrasi mata pelajaran pilihan dalam Kurikulum Merdeka, kegiatan ekstrakurikuler, serta program guru tamu dari industri.
Lima SMK percontohan di Bali juga didorong untuk memperkuat sarana praktik yang sesuai dengan kebutuhan industri serta mendukung peningkatan kompetensi dan sertifikasi guru melalui skema yang relevan.
Generasi Muda dan Peluang Pekerjaan Hijau
Mengusung tema “From Learning to Living”, SHEB 2026 menjadi salah satu kegiatan GESIT yang secara khusus mendekatkan isu transisi energi dan pekerjaan hijau kepada generasi muda.
Melalui sesi “Ngobrolin Energi: Kenalan dengan Green Jobs di Sektor Energi Bersih”, peserta dapat mengenal berbagai peluang karier, keterampilan yang dibutuhkan, serta pengalaman langsung dari praktisi industri dan akademisi.
Kegiatan juga dilengkapi dengan sesi pembelajaran kreatif, sesi bersama komika dan kreator konten Bali kak Onyot, Gerai Edukasi, serta Green Jobs Clinic yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk berkonsultasi langsung dengan praktisi industri. Rangkaian SHEB 2026 juga mencakup kegiatan pembelajaran di lapangan.
Sehari sebelumnya, pada 14 Oktober 2026, sebanyak 30 peserta yang terdiri atas siswa dan guru SMK, mahasiswa, serta instruktur pelatihan mengikuti kunjungan pembelajaran ke PLTS Bali Timur berkapasitas 25 MWp di Karangasem, Bali Timur.
Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk melihat secara langsung pengoperasian pembangkit energi terbarukan serta mengenal jenis kompetensi dan pekerjaan yang dibutuhkan di sektor tersebut.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan GESIT dan SHEB 2026, juga diselenggarakan Bali Renewable Energy Young Innovators (BREYI) 2026. Kompetisi ini diikuti oleh 118 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dalam dua kategori, yaitu inovasi teknologi dan inovasi sosial.
Empat finalis dari Universitas Udayana, Institut Teknologi Nasional Bandung, Universitas Negeri Semarang, dan Universitas Negeri Gorontalo mempresentasikan gagasan mereka di hadapan dewan juri dan peserta SHEB 2026.
Selain itu, kompetisi video edukasi PLTS bagi siswa SMK di Bali juga diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan. Sembilan finalis terpilih menampilkan karya mereka selama SHEB 2026.
Rekomendasi Industri melalui “Policy Room”
Selain kegiatan edukasi dan keterlibatan generasi muda, SHEB 2026 juga menghadirkan sesi strategis Policy Room atau Ruang Kebijakan. Sesi ini mempertemukan pemerintah, industri, asosiasi energi terbarukan, lembaga pendidikan, dan pemangku kepentingan lainnya untuk membahas kebutuhan keterampilan dan tenaga kerja dalam mendukung transisi energi.
Asosiasi yang terlibat antara lain Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Asosiasi Energi Angin Indonesia (AEAI), Masyarakat Energi Biomassa Indonesia (MEBI), dan Asosiasi Pengembang Pembangkit Listrik Tenaga Air (APPLTA).
Masukan dari sektor swasta penting untuk memastikan bahwa pengembangan kurikulum, pelatihan, dan penyiapan SDM sesuai dengan kebutuhan nyata dunia usaha.
Sebelum pelaksanaan Policy Room, pemerintah, industri, dan pemangku kepentingan lain yang tergabung dalam Tim Penguatan Peran Masyarakat dan Pemangku Kepentingan dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia Bidang Energi Terbarukan telah merumuskan sejumlah rekomendasi awal.
Rekomendasi tersebut antara lain mencakup: pengembangan regulasi daerah yang dapat memperkuat keterlibatan dan pengembangan tenaga kerja lokal dalam proyek energi terbarukan; integrasi pembelajaran energi terbarukan di SMK serta pengembangan program magang industri yang terstruktur bagi siswa SMK dan mahasiswa, peningkatan kompetensi dan sertifikasi bagi guru SMK serta calon tenaga kerja melalui kerja sama dengan industri; dan pengembangan Bursa Kerja Hijau atau Green Jobs Portal untuk menghubungkan tenaga kerja terampil dengan peluang kerja dan proyek energi bersih. Tim tersebut dibentuk melalui Keputusan Gubernur Bali Nomor 494/03-M/HK/2026 tanggal 18 Mei 2026.
Melalui kolaborasi Bappenas dan GIZ dalam pelaksanaan Proyek GESIT, dengan dukungan PKET, Pemerintah Provinsi Bali, industri, asosiasi, serta lembaga pendidikan, kegiatan percontohan dan SHEB 2026 diharapkan dapat memperkuat hubungan antara pendidikan, kebutuhan dunia kerja, dan kebijakan pengembangan sumber daya manusia.
Sebagai bagian dari Bali Climate Week 2026, rangkaian kegiatan ini juga diharapkan dapat membuka lebih banyak peluang bagi tenaga kerja lokal dan generasi muda untuk berperan aktif dalam transisi energi Bali.



















![Polisi antihuru-hara berhadapan dengan siswa SMA saat unjuk rasa di Paris [Yves Herman/Reuters]](https://bisnistoday.co.id/wp-content/uploads/2026/10/Pelajar-prancis-680x533.jpg)






















