www.bisnistoday.co.id
Jumat , 16 Oktober 2026
Home BURSA & KORPORASI Bursa IHSG Anjlok 11,4 Persen, Kekhawatiran Status Pasar Indonesia Picu Aksi Jual
Bursa

IHSG Anjlok 11,4 Persen, Kekhawatiran Status Pasar Indonesia Picu Aksi Jual

hsg melemah
IHSG pada perdagangan Jumat (16/10) ditutup melemah./
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada perdagangan Jumat (16/10). Indeks saham Indonesia dilaporkan anjlok hingga 11,4 persen di tengah kekhawatiran investor terhadap rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengkaji perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging marketmenjadi standalone market.

Tekanan jual terjadi sejak awal perdagangan. IHSG sempat dibuka anjlok 8,01 persen ke level 5.393,92 sehingga Bursa Efek Indonesia (BEI) menerapkan penghentian sementara perdagangan atau trading halt selama 30 menit mulai pukul 08.58 WIB. Setelah perdagangan dilanjutkan, tekanan jual masih berlanjut. Pada sesi pertama, IHSG tercatat turun 10,76 persen ke level 5.233.

Pemicu utama gejolak berasal dari pengumuman MSCI yang menyoroti persoalan transparansi kepemilikan saham, keterbukaan informasi, serta dugaan praktik perdagangan terkoordinasi. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi kelayakan investasi di pasar saham Indonesia.

MSCI membuka konsultasi mengenai kemungkinan perubahan status Indonesia. Keputusan final dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027. Dengan demikian, perubahan klasifikasi tersebut belum menjadi keputusan final.

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menjelaskan bahwa apabila reklasifikasi menjadi Standalone Market benar-benar diterapkan, saham-saham Indonesia berpotensi keluar dari indeks Emerging Market yang menjadi acuan berbagai produk investasi global. Konsekuensinya dapat berupa penjualan oleh investor pasif yang mengikuti indeks tersebut, disertai penyesuaian alokasi oleh investor institusional aktif.

“Risikonya bukan hanya berapa besar dana asing yang berpotensi keluar. Dalam jangka lebih panjang, perubahan klasifikasi ini dapat mempersempit basis investor institusional, mengurangi likuiditas pasar, dan meningkatkan premi risiko yang diminta investor untuk berinvestasi di saham Indonesia. Dengan kata lain, dampaknya bisa lebih luas daripada tekanan jual yang kita lihat saat ini,” jelas Rully./

Arsip

Beritasatu Network




BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Samuel Sekuritas
BursaHEADLINE NEWS

Samuel Sekuritas : Pemulihan Pasar Saham Bergantung Isu Nilai Tukar Rupiah dan Besaran Bunga

JAKARTA, Bisnistoday – Investor sampai saat ini masih mempertanyakan mengenai kapan Indeks...

GEDUNG BEI
Bursa

IHSG Kembali Menguat, Asing Kembali Akumulasi Saham Bank Besar

JAKARTA, Bisnistoday – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia melihat penguatan Indeks Harga...

Mirae Asset
Bursa

Pasar Kian Selektif, Mirae Asset Sekuritas Tingkatkan Layanan “Wealth Management”

JAKARTA, Bisnistoday – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai ruang penguatan pasar...

GEDUNG BEI
BursaHEADLINE NEWS

MSCI Hapus GOTO dan Turunkan CPIN, Mirae Asset Sekuritas Ungkap Potensi Outflow Jangka Pendek

JAKARTA, Bisnistoday – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai hasil MSCI August...