JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20–21 Oktober 2026. Keputusan ini menjadi bagian dari strategi bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Dalam keputusan tersebut, BI juga menetapkan suku bunga Lending Facility sebesar 6,5% dan menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 5,00%.
Direktur Eksekutif Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, kebijakan moneter tersebut diperkuat melalui peningkatan insentif untuk instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) guna mendukung upaya lindung nilai, menarik aliran masuk modal asing, serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Langkah tersebut sekaligus diarahkan untuk mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing (PUVA), sehingga ketahanan sektor keuangan domestik dapat semakin diperkuat.
Fokus Menjaga Rupiah dan Inflasi
Keputusan mempertahankan BI Rate mencerminkan upaya bank sentral menyeimbangkan kebutuhan menjaga stabilitas makroekonomi dengan mendukung pertumbuhan ekonomi. Tekanan eksternal yang masih kuat menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan arah kebijakan moneter.
BI menegaskan, strategi stabilisasi nilai tukar rupiah tetap menjadi prioritas, dengan tetap menjaga pencapaian sasaran inflasi sebesar 2,5% plus minus 1% pada 2026 dan 2027.
Bank sentral juga menyatakan akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter untuk memperkuat ketahanan eksternal. Penyesuaian kebijakan akan ditempuh apabila diperlukan demi menjaga stabilitas perekonomian nasional.
Stabilitas rupiah dan inflasi menjadi faktor penting bagi dunia usaha. Nilai tukar yang terjaga dapat membantu mengendalikan biaya impor, sedangkan inflasi yang terkendali berperan menjaga daya beli masyarakat.
Kredit dan Pembiayaan Sektor Riil Didorong
Di tengah kebijakan moneter yang berorientasi pada stabilitas, BI tetap berupaya menjaga momentum pertumbuhan melalui kebijakan makroprudensial yang longgar.Kebijakan tersebut diperkuat untuk meningkatkan penyaluran kredit dan pembiayaan ke sektor riil, dengan tetap memperhatikan stabilitas sistem keuangan.
Arah kebijakan ini diharapkan mendukung aktivitas produksi, investasi, dan kegiatan usaha, terutama ketika dunia usaha membutuhkan akses pembiayaan untuk memperluas kapasitas bisnis dan meningkatkan produktivitas.Meski demikian, efektivitas kebijakan tersebut akan bergantung pada respons perbankan dalam menyalurkan kredit serta kemampuan dunia usaha menyerap pembiayaan secara produktif.
Pembayaran Digital Jadi Penopang Ekonomi
Selain kebijakan moneter dan makroprudensial, BI juga mengarahkan kebijakan sistem pembayaran untuk mendukung kegiatan ekonomi nasional.Fokusnya mencakup perluasan akseptasi pembayaran digital, penguatan manajemen risiko layanan pembayaran, serta peningkatan keandalan dan ketahanan infrastruktur sistem pembayaran.
Perluasan transaksi digital diharapkan mempermudah aktivitas ekonomi masyarakat dan dunia usaha, sekaligus mendukung efisiensi transaksi di tengah perkembangan ekonomi digital.Dengan kombinasi kebijakan stabilisasi rupiah, pengendalian inflasi, dorongan pembiayaan sektor riil, dan penguatan sistem pembayaran, BI berupaya menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan.
Ke depan, tantangan utamanya adalah memastikan stabilitas makroekonomi tetap terjaga tanpa menghambat penyaluran kredit, investasi, dan konsumsi domestik. Konsistensi pelaksanaan kebijakan serta respons pelaku pasar dan perbankan akan menjadi faktor penting dalam menentukan efektivitas langkah bank sentral tersebut./





















![Noni Madueke mencetak gol kemenangan untuk Arsenal di City Ground [AFP]](https://bisnistoday.co.id/wp-content/uploads/2026/10/arsenal-680x533.jpg)

















