www.bisnistoday.co.id
Rabu , 21 Oktober 2026
Home LIFESTYLE Komunitas Reuni 40 Tahun Aua’86 : Merajut Rasa, Persaudaraan Tetap Membara
Komunitas

Reuni 40 Tahun Aua’86 : Merajut Rasa, Persaudaraan Tetap Membara

Social Media

BUKITTINGGI, Bisnistoday.co.id–Empat puluh tahun. Empat dekade, waktu yang cukup untuk membuat rambut memutih dan cerita hidup yang naik turun. Tapi pada tanggal 17 Oktober 2026, semua itu seakan menguap begitu gerbang SMAN 3 Bukittinggi kembali dimasuki oleh kami — Angkatan 86.

Pagi itu jam 8, halaman sekolah yang dulu jadi tempat upacara dan kejar-kejaran, kini jadi saksi haru. Ada yang datang dari Jakarta, Pekanbaru, Padang, Medan, Jambi, bahkan dari rantau jauh. Pelukan pertama pecah begitu saja. Empat dekade yang lalu kami mengenakan seragam putih abu-abu di sekolah yang berlokasi di Aua Kuning ini. Dulu kami adalah anak-anak SMA yang berlarian di lapangan SMAN 3 Bukittinggi, yang menghafal rumus sambil mencuri pandang, yang bermimpi tentang masa depan tanpa tahu sekeras apa hidup nantinya.Kini kami datang sebagai alumni yang ingin berbakti.

“Eh, Ang masih samo sarupo dulu, ndak barubah!” teriak seorang teman, padahal kacamatanya sudah tebal dan perutnya sudah bulat.

Tawa meledak. Tak ada lagi panggilan Pak Haji, Bu Dokter, atau Pak Bos. Pagi itu kami semua kembali jadi anak SMA, memanggil nama panggilan nakal zaman dulu.Tempat yang sempurna untuk melepas semua titel – Direktur, Pengusaha, Pensiunan, Nenek, Kakek. Di sini kami hanya satu nama: Anak 86.

Acara silaturahmi di aula sekolah berlangsung sederhana tapi menggetarkan. Kepala sekolah, anak anak siswa, Komite Sekolah menyambut kami dengan senyum bahagia.

Kami tidak ingin datang dengan tangan hampa. Sebagai tanda cinta dan bakti, Angkatan 86 menyerahkan bantuan sebesar Rp 7,5 Juta untuk pembangunan sekolah. Bukan soal nominalnya, kata ketua angkatan kami, “Ini adalah tanda rindu kami pada sekolah yang telah menjadikan kami seperti sekarang. Semoga bermanfaat untuk adik-adik kami.” Terima kasih, SMA 3. Kami tidak pernah melupakanmu.

Setelah doa dan foto bersama di depan kelas dan  gerbang legendaris SMAN 3, langkah menuntun kami ke jantung kota Bukittinggi : Jam Gadang. Ikon yang dulu jadi tempat janjian bolos, tempat nongkrong sepulang sekolah. Di bawah jam kebanggaan orang Bukittinggi itu, kami berfoto bersama. 40 tahun lalu kami foto dengan gaya miring-miring. Sekarang gayanya masih miring-miring, hanya saja pinggangnya yang protes. Nostalgia itu aneh, ia membuat yang tua merasa muda kembali.

Setelah puas berfoto ala ala era 86 an, lapar membawa kami ke Nasi Kapau Ni Cah di Padang Luar. Ah, tidak ada yang bisa mengalahkan dendam 40 tahun yang dibayar dengan Gulai Tambusu, Rendang, Ayam Goreng.Ini yang dirindukan perantau.

Bayangkan, satu meja panjang penuh lauk bertumpuk — rendang hitam pekat, gulai tambunsu, ayam goreng, gulai tunjang, sambal lado mudo. Kami makan tidak lagi jaim. Makan dengan tangan, sambil berebut cerita. “Ingat dak waktu kita bolos dan makan di Pasar Lereng?” Semua tertawa sampai tersedak. Aroma Nasi Kapau itu seakan mengunci kembali ingatan Bukittinggi yang tak pernah hilang.

Perjalanan belum selesai. Rombongan bus kami melanjutkan perjalanan ke lokasi Reuni yakni Tempat Pemandian Sikabu, Guguak Randah.Kami menginap semalam di cottage-cottage sekitar pemandian. Dan disinilah puncak magisnya terjadi

Begitu masuk kawasan itu, udara dingin pegunungan langsung memeluk kami. Kabut tipis turun, suara jangkrik mulai terdengar.

Malam di Sikabu adalah malam yang tidak akan kami lupa. Lampu temaram, sound system seadanya, tapi panggungnya adalah hati kami. Kami nyanyi bersama. Dari lagu era 80 an sampai lagu kekinian, tentu tidak lupa Minang dan dangdut, dari yang suaranya masih emas sampai yang falsnya sudah level nasional. Kami berjoget bersama. Tidak ada yang malu. Tawa meledak di mana-mana. Di sela tawa itu, kami melakukan agenda penting: pemilihan Ketua Baru Angkatan 86. Estafet kepemimpinan harus terus jalan, agar api silaturahmi ini tidak padam setelah reuni usai.

Seperti anak anak lagi

Pagi di Sikabu dingin menusuk, tapi hati kami hangat. Setelah salat subuh dan sarapan, kami mengikuti game yang dipandu oleh tim dari Sikabu. Jangan bayangkan game yang serius. Ini game yang bikin sakit perut karena tertawa.

Kami berteriak, kami tertawa, kami saling mengejek seperti anak SMA lagi. Di usia 58-59 tahun ini, ternyata kami masih bisa lari-larian kecil dan tertawa sampai keluar air mata.

Hadiahnya sederhana — tapi tawanya membuat perut sakit sampai tengah malam. Dan di situlah kami sadar, Reuni 40 Tahun ini bukan sekadar temu kangen. Ini adalah terapi. Terapi untuk jiwa yang lelah oleh pekerjaan, oleh cicilan, oleh masalah anak cucu. Ini adalah pengingat bahwa kami pernah muda, pernah bersama, dan sampai hari ini, kami masih punya satu sama lain.

Reuni ini bukan tentang sekolah. Ini tentang rumah. Dan Angkatan 86 SMAN 3 Bukittinggi sudah membuktikan, rumah itu tidak pernah benar-benar kami tinggalkan.

Terima kasih Angkatan 86 SMAN 3 Bukittinggi. Terima kasih untuk 17 dan 18 Oktober yang penuh cinta. Sampai jumpa di Reuni tahun mendatang. InsyaAllah kita masih lengkap, masih sehat, dan masih bisa berjoget dengan lagu yang sama.SMAN 3 Bukittinggi, Jaya Selalu! Angkatan 86, Solid Selalu.

Arsip

Beritasatu Network




BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Komunitas

Bandung Photography Month 2026 Usung Tema Reclaim, Hadirkan Pameran di Ruang Publik

BANDUNG, Bisnistoday.co.id – Festival fotografi Bandung Photography Month (BPM) kembali digelar pada 2026....

Komunitas

Pedal Puff Girls, Komunitas Sepeda Perempuan Bandung yang Tumbuh dari Empat Teman Gowes

BANDUNG, Bisnistoday.co.id – Berawal dari kebiasaan empat perempuan bersepeda bersama mengelilingi Kota...

Komunitas

Mal Ciputra Jakarta Gelar Barongsai International Competition 2026

JAKARTA, Bisnistoday - Sebanyak 10 tim barongsai dari lima negara bertemu di...

EKONOMIKomunitasLIFESTYLE

15.000 Peserta Ramaikan Pocari Run 2026 Bandung, Pemkot Siapkan Rekayasa Lalu Lintas 19-20 September

BANDUNG, Bisnistoday - Pocari Run 2026 akan digelar selama dua hari di...