JAKARTA, Bisnistoday.co.id- Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat pertumbuhann IKM fesyen dan Kriya sepanjang Januari -September 2026 sebesar 23, 2 Persen. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita di Jakarta, Jumat (23/10).
Reni mengungkapkan, berbagai program pemberdayaan yang dilaksanakan BPIFK telah menunjukkan hasil positif, terutama dalam meningkatkan kemampuan usaha, memperluas pasar, dan mendorong pertumbuhan ekspor IKM fesyen dan kriya.
Sepanjang 2018–2026, lanjut Reni, sebanyak 525 IKM telah mendapatkan pembinaan melalui berbagai program BPIFK dan tersebar di 30 provinsi. Jumlah tersebut meliputi 369 IKM di Pulau Jawa, 54 IKM di Bali, 43 IKM di Sumatera, 34 IKM di Sulawesi, serta pelaku usaha dari sejumlah wilayah lainnya di Indonesia.
“Program pembinaan yang kami jalankan diarahkan agar IKM dapat berkembang secara berkelanjutan. Kami tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga mendorong inovasi desain, peningkatan kapasitas produksi, penguatan manajemen usaha, serta membuka peluang kemitraan dan pemasaran,” ungkap Reni.
Dari sisi ekspor, IKM binaan BPIFK mencatatkan nilai ekspor sebesar US$150,191 ribu pada 2025 yang berasal dari 17 IKM. Sementara itu, sepanjang Januari–September 2026, nilai ekspornya telah mencapai US$184,941 ribu dari 25 IKM, atau meningkat 23,1 persen dibandingkan total ekspor sepanjang tahun sebelumnya.
Potensi Ekspor Kuartal IV
BPIFK juga mengidentifikasi potensi ekspor pada triwulan IV tahun 2026 sebesar US$68,533 ribu dari 13 IKM. Apabila seluruh potensi tersebut terealisasi, total ekspor sepanjang 2026 diproyeksikan mencapai US$253,474 ribu atau meningkat 68,8 persen dibandingkan 2025.
“Peningkatan ekspor ini menunjukkan bahwa produk fesyen dan kriya Indonesia memiliki peluang yang semakin terbuka di pasar internasional. Kami akan terus memperkuat pendampingan agar semakin banyak IKM mampu memenuhi standar pasar global dan membangun hubungan bisnis yang berkelanjutan,” jelas Reni.
Produk IKM binaan BPIFK telah menjangkau 22 negara di kawasan Asia, Eropa, Timur Tengah, dan Amerika. Selain itu, sebanyak 16 IKM telah menjalin kemitraan dengan berbagai jaringan ritel, department store, pemasok, dan sektor perhotelan, antara lain SOGO, Metro, Sarinah, Uniqlo Neighbourhood, serta Amayi Hotel & Resort.
Reni menambahkan, salah satu keberhasilan pembinaan terlihat dari perkembangan Eboni Watch, alumni program Creative Business Incubator (CBI) 2018 asal Klaten. Omzet perusahaan tersebut meningkat dari Rp2,16 miliar pada 2019 menjadi Rp4,5 miliar pada 2025, dengan kapasitas produksi bertambah dari 200 menjadi 2.500 unit per bulan.
Perkuat Inkubasi Bisnis dan Kemitraan
Kepala BPIFK Dickie Sulistya Aprilyanto mengatakan, pemerintah mengoptimalkan berbagai program untuk meningkatkan kreativitas, kapasitas usaha, dan daya saing IKM fesyen dan kriya. Program tersebut mencakup Indonesia Fashion and Craft Awards (IFCA), Design Lab, Creative Business Incubator, Coaching Export, serta penguatan literasi digital melalui LENTERA.
“BPIFK berupaya menghadirkan layanan pemberdayaan yang terintegrasi, mulai dari pengembangan ide dan desain produk, pendampingan bisnis, hingga fasilitasi akses pasar. Kami ingin para pelaku IKM memperoleh manfaat nyata yang dapat mendukung pertumbuhan dan keberlanjutan usahanya,” ujar Dickie.
BPIFK juga memperluas fasilitasi pemasaran internasional. Pada pameran Home InStyle di Hong Kong, April 2026, tiga IKM binaan memperoleh kesempatan memperkenalkan produknya kepada calon pembeli global. Salah satunya, Koto Batu, berhasil meraih penghargaan Best of Show Award pada European Product Design Award x HKTDC Home InStyle 2026 melalui karya Felora.//




































