MALANG, Bisnistoday – Anda pejabat atau aparat penyuka kopi ? nah anda mesti merogoh kantong 3 kali lipat untuk meminum atau memesan kopi di Atitud Coffee. Pasalnya sang pemilik menilai Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) hanya berdampak bagi masyatakat bukan pejabat atau aparat.
“Menaikkan harga untuk aparat dan pejabat pemerintahan adalah pilihan tepat karena profesi tersebut tetap mendapatkan gaji,” kata Cahya Sinda sang pemilik kafe.
Atitud Coffee sendiri berada di Ruko Sunan Kalijaga, Jalan Sunan Kalijaga, Kota Malang, Jawa Timur. Sebelum PPKM darurat bisa mendapatkan pemasukan Rp500.000 per hari. Namun, saat kebijakan PPKM Darurat diberlakukan, pendapatan kafe saya anjlok hingga hanya dapat Rp100.000, bahkan pernah tidak ada pembeli sama sekali.
Untuk mendongkrak pendapatan, kafe ini memasang promo besar atau big promo di papan tulis depan kafe dengan tulisan “Big promo khusus aparat dan pejabat pemerintahan bayar tiga kali lipat dari harga normal”.
Cahya Sinda mengaku langkah ini diambil juga dikarenakan tidak adanya anggaran yang memadai untuk memberikan diskon bagi pelanggannya.
PPKM Wujud Ketidakadilan
PPKM Darurat bagi Cahya merupakan perwujudan ketidakadilan yang diterapkan pemerintah. Karena, pembatasan jam operasiona yang hanya memperbolehkan kafe buka hingga pukul 20.00 WIB yang menyebabkan penghasilan mengalami penurunan.
“PPKM membuat usaha kami berantakan karena sepinya pengunjung serta adanya penggerebekan. Maklum, masih banyak pelanggan yang belum mengenal kedai kopi barunya itu,” jelasnya.
Saat ini sendiri penghasilan kafe maksimal per harinya Rp 100 ribu, padahal sebelumnya bisa Rp 500 ribu. Di sisi lain, Cahya masih diwajibkan membayar sewa ruko dan gaji karyawan.
Viral di Media Sosial
Keunikan kafe milik Cahya ini menjadi perhatiaan banyak nitizen. Salah satunya setelah diunggah ulang akun Instagram @omg.indonesia.id. Sejak diunggah ada 9.629 likes dan 303 komentar.
“Nah mantap, lima kali lipat juga gak papa,” tulis akun @tosa2105. “Sumpah ini keren sih, ayo semua tiru dan menerapkan kayak ini,” sahut @mimowner19
Terakhir, warganet bernama @kendrassen tidak setuju dengan kenaikan harga itu. “Kita nggak bisa menyalahkan aparat, mereka terkadang harus tunduk ke atasannya. Kalau tidak patuh pekerjaan mereka hilang. Lagi pula tinggal ganti baju saja tidak ketahuan ASN atau bukannya,” tulisnya.


















![Polisi antihuru-hara berhadapan dengan siswa SMA saat unjuk rasa di Paris [Yves Herman/Reuters]](https://bisnistoday.co.id/wp-content/uploads/2026/10/Pelajar-prancis-680x533.jpg)




















