Sejak awal berdiri bangsa ini, semua sepakat untuk berkumpul menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan semangat untuk persatuan, kebersamaan serta bergotong-royong untuk bersama hidup sejahtera secara berkeadilan. Kebersamaan itu rasanya sudah tergadaikan dengan segelitir elite negeri ini, sehingga fondasi dasar yang seharusnya kemakmuran berkeadilan terwujud,tidak dapat dirasakan bangsa ini.
Terlebih, sekarang ini situasi global yang dilanda kecamuk perang serta pagebluk terjadi dihampir seluruh negara. Celakanya, juga kondisi ekonomi yang morat-marit di dalam negeri ini juga harus dihadapkan dengan rencana mencusuar, serta politik yang saling menggadaikan.
Apapun yang terjadi, seharusnya rakyat kecll janganlah menjadi korban atas morat-maritnya kondisi sekarang ini. Rakyat semakin terjepit dengan keadaan semua harga pangan mengalami kenaikan. Kisruh minyak goreng belum mereda, harga gas sudah mengikuti, harga BBM bakal menyusul. Belum merasa tenang masih dipaksa lagi kebijakan JHT dan persyaratan Kartu BPJS dalam kepengurusan izin transaksi tanah dan kebijakan yang menyulut emosi lainnya.
“Sebuah Negeri terkaya, tersubur dan paling strategis di dunia, namun realitasnya saat ini makin paradoksal.”
Disisi lain, negara masih dalam pandemik, sehingga pembatasan masih diberlakukan. Belum juga semua bergerak kembali ke normal dengan terbukti pertumbuhan ekonomi biasa saja, 3,6 persen tahun lalu. Kenaikan itupun, juga terdorong oleh naiknya harga komoditas energi dunia sehingga nilai ekspor meningkat.
Sekelumit celoteh ini seperti yang diungkapkan oleh CEO Pondok Gede Center’s dr. M. Ali Mahsun ATMO, M. Biomed yang juga Ketua Umum APKLI & Presiden GBN seusai bercengkrama mesra dengan Pak Gumanto Pedagang Cendol dan Pak Rumdi Pedagang Kopi di Depan RS Haji Pondok Gede Jakarta Timur, Sabtu (5/3).
“Sebuah Negeri terkaya, tersubur dan paling strategis di dunia, namun realitasnya saat ini makin paradoksal,” tukas Ali Mahsun.
Seperti halnya, keberadaan para pedagang kaki lima kawula alit yang ditemuinya, kata Ali Mahsun, menyatakan betapa beratnya kehidupan yang dialaminya. Mereka panas kepanasan serta kehujanan kedinginan. Mereka ta kenal subuh, pagi, siang, sore, malam atau dini hari.
“Pedagang ini, bahkan tidak jarang harus mengalami tindakan represif dan kekerasan fisik. Itulah yang dialami puluhan juta rakyat kecil (kawulo alit) di negeri ini. Di negeri ini keadilan makin meredup. Kesenjangan makin menganga. Keserakahan dan kesewenang-wenangan makin meraja lela. Kesatuan dan persatuan bangsa makin robek, makin jauh dari panji-panji Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa.”
“Tak pernah lelah dan letih. Bahkan tak takut resiko untuk kail rejeki halal penuhi kebutuhan keluarga dan sekolahkan generasi penerus bangsa. Jalani hidup keras, cadas, dan serba terbatas. Terbiasa berhadapan dengan ‘premanisme lokal’ dan “oknum aparatur negara.” Ingat, tanpa keberadaan kawulo alit tak ada presiden,” ujarnya.
Pedagang ini, tambah Ali Mahsun, bahkan tidak jarang harus mengalami tindakan represif dan kekerasan fisik. Itulah yang dialami puluhan juta rakyat kecil (kawulo alit) di negeri ini. “Di negeri ini keadilan makin meredup. Kesenjangan makin menganga. Keserakahan dan kesewenang-wenangan makin meraja lela. Kesatuan dan persatuan bangsa makin robek, makin jauh dari panji-panji Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa,” tambahnya.
“Presiden itu, raja itu, pemimpin itu miliki segala kewenangan namun tidak boleh sewenang-wenang. Karena tanpa keberadaan rakyat, bumi dan perjalanan panjang sejarah tidak akan pernah ada presiden atau raja. Juga takkan pernah ada Gubernur, Bupati, Walikota. Dan Kekuasaan setinggi apapun dibatasi oleh hukum Tuhan.”
Hukum Alam Semesta
Mahsun Atmo, dokter ahli kekebalan tubuh (imunolog) lulusan FK Unibraw Malang dan FK UI Jakarta merasa seakan terlupakan bahwa ada hukum alam semesta Tuhan yang tidak bisa ditawar, direkayasa dan dipermainkan oleh siapapun dan dengan apapun.
“Presiden itu, raja itu, pemimpin itu miliki segala kewenangan namun tidak boleh sewenang-wenang. Karena tanpa keberadaan rakyat, bumi dan perjalanan panjang sejarah tidak akan pernah ada presiden atau raja. Juga takkan pernah ada Gubernur, Bupati, Walikota. Dan Kekuasaan setinggi apapun dibatasi oleh hukum Tuhan,” ungkap Ali Mahsun.
Ali mengatakan, silahkan suka-suka yang di mau namun harus diingat ada hukum alam semesta Tuhan yang tidak bisa direkayasa atau dipermainkan oleh siapapun atau dengan apapun. Juga peluh dan cucuran keringat kawulo alit tidak akan pernah sirna dalam perjalanan negeri ini!
“Nek wancine wis teko orak iso di undur-undur. Ojo mekso. Ojo dumeh lan nggege mongso. Ora ilok Gusti Alloh Murko. (Kalau waktunya sudah tiba tidak bisa ditunda-tunda. Jangan memaksa. Jangan sombong dan merasa berkuasa tidak baik Gusti Allah Murka),” ucap Cah Ndeso Pinggir lor Sungai Brantas Pelosok Kampung Mojokerto Jatim./







































