JAKARTA, BisnisToday – Keberanian Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal membuka ‘investasi’ Bhayangkara Presisi FC dengan bermarkas di Stadion Sumpah Pemuda, Kota Bandar Lampung dinilai sebagai upaya membangun atmosfer sepak bola daerah yang sudah lama tertidur pulas. Ini disampaikan Mico Periyando mantan pengurus KONI Lampung.
Mico Periyando menyebut beberapa pihak justru setuju dan ikut andil mendukung langkah yang strategis yang dilakukan.
Bukan berarti, membuka pintu seluas-luasnya bagi Bhayangkara FC yang kini berganti nama menjadi Bhayangkara Presisi Lampung FC menanggalkan sejumlah klub asal Lampung yang kini terseok-seok di liga 3 dan 4, seperti PSBL dan Persikomet Metro atau Badak Lampung yang jejaknya terkesan menghilang.
“Mencapai tujuan itu bisa dari mana saja, tapi kalau cuma asal jalan, mungkin bisa sampai tapi lama,” kata dia.
Mico juga memberikan apresiasi terhadap Rahmat Mirzani Djausal yang ‘menghramkan’ memakai dana APBD untuk membiayai Bhayangkara Presisi Lampung FC.
“Maka saya tidak salah pilih, ini kan janji dia saat kampanye, artinya APBD tetap sehat, pembangunan sepak bola, tumbuh dengan hadirnya Bhayangkara yang diwajibkan membangun akademi,” tutur Mico seraya melempar senyum.
APBD Tidak Rasional
Bagi Mico, tidak rasional lagi APBD digunakan untuk mensuport salah satu cabang olahraga karena berimplikasi negatif. Salah satunya kecemburuan terhadap cabor lain.
“Saat di KONI saja, yang harus diurusi sekitar 70 cabor, tidak bisa satu cabor diprioritaskan,” kata dia.
Terlebih, pemerintah saat ini, mengupayakan efesiensi anggaran mendukung kebijakan nasional. Konteks yang dilakukan jika tidak kreatif, maka muncul sikap pasif.
“Keren sekali tanpa anggaran APBD, saya pikir ini terobosan membangkitkan euforia sepak bola di daerah, konsep yang dibangun menumbuhkan animo masyarakat dan membangkitkan peluang usaha,” kata dia.
“Bayangkan saja, di sekitar stadion tumbuh usaha-usaha kecil, dari penjualan jersey, makanan, minuman hingga usaha sejenis misalnya marchendise, ini yang saya katakan berimbas pada dimensi usaha rakyat,” ujar pengurus APINDO Lampung itu.
Ditekankannya lagi, bahwa sepak bola membutuhkan orang-orang gila, yang mau berkorban baik waktu, tenaga, pemikiran sampai finansial.
“Kalau Pak Gubernur sudah berpengalaman mengurus cabor lain artinya sudah paham, tak perlu diajari. Posisi kita hanya mendukung,” ujar Mico dalam Komunikasi Massal (Komal) di TikTok yang dipandu Host Syaiful Amri mantan wartawan sepak bola.
Menariknya, sebelum gelarn Liga 1 Indonesia digelar musim depan, Stadion Sumpah Pemuda, sebagai markas Bhayangkara Presisi Lampung FC sudah direnovasi.
“Kabar yang saya dapat, hampir menyedot anggaran sampai Rp 20 miliar. Pihak swasta membantu dalam upaya perbaikan, kursi, kamar ganti, ya tak ubahnya seperti standar liga satu,” imbuhnya.
Upaya ini belum termasuk venue lain sebagai tempat latihan pemain, yang kabarnya akan dilakukan di Stadion Pahoman dan beberapa lapangan lain yang nantinya digunakan sebagai tempat latihan tertutup.
Artinya, kedatangan Bhayangkara Presisi Lampung FC memantik reaksi positif dari banyak kalangan.
“Sampai-sampai, ketika tadi saya berdiskusi dengan teman-teman di Apindo Lampung, mereka begitu antusias membicarakan progres Bhayangkara,” kata pemilik Harian Pilar itu.
Aroma Political Will
Lalu ketika disinggung kepentingan politik Rahmat Mirzani Djausal dalam dimensi political will untuk sekarang dan ke depan, Mico yang kebetulan ikut terlibat dalam suksesi Pemilihan Gubernur, mengatakan, implementasi adalah kunci.
“Kemauan politik dalam suasana Pilgub itu diukur bagaimana merealisasikannya. Eksekusi dan komitmennya ya harus segaris. Kalau dianggap murni kepentingan politik, mengapa dilakukan baru sekarang, kenapa tidak sebelum Pilgub,” ujarnya.
Sementara, jika ini dikaitkan dengan investasi politik untuk lima tahun ke depan, justru sebaliknya.
“Konteksnya ini adalah bentuk implementasi dari janji yang disampaikan. Kalau implementasinya positif sesuai janji, artinya tuntas janji ditunaikan. Kalau pun lima tahun ke depan ada dampak positifnya, itu bagian dari kerja, kembalikan pada masyarakat Lampung,” kata Mico Periyando.
“Pertanyaannya, mengapa pemimpin yang terdahulu tidak bisa melakukan langkah-langkah ini, sebenarnya saya tak berhak menjawab, karena bukan dari bagian itu. Mungkin saja kurang kreatif,” tandasnya.
Memantik SSB di Daerah
Majunya atmosfer sepak bola di daerah, pemicunya adalah klub yang berdiri di liga domestik mampu berbicara di kancah liga nasional.
Meski hadirnya Bhayangkara yang lekat dengan istilah klub nomaden, lantaran kerap berpindah home base, tetap saja menarik perhatian masyarakat tempatnya bermarkas.
“Terutama di Lampung. Bhayangkara bisa memicu reaksi publik, gairah SSB akan terbawa. Tinggal tunjukan saja keseriusan, yakinlah akan lebih dicintai,” ujarnya.
Dengan jumlah penduduk di Provinsi Lampung yang hampir menembus angka 14 juta jiwa, ini memungkinkan Bhayangkara FC menarik fanatisme lokal yang begitu besar.
“Terlebih kewajiban membangun akademi atau kelompok umur tidak sia-sia, karena banyak sekali potensi pemain-pemain muda berbakat di Lampung yang lahir dan tumbuh jika Bhayangkara merekrut dan mempromosikannya,” kata dia.
Bisnis Multi Efek
Hadirnya Bhayangkara Presisi Lampung FC menimbulkan iklim investasi di segala sektor akan lebih hidup.
Muliti efek yang ditanamkan membuat semua unsur ikut ‘bermain’ pada konteks bisnis sepak bola.
Bayangkan, dari UMKM, sampai pedagang kaki lima tumpah di halaman stadion. Bisnis jersey bermunculan, nama Provinsi Lampung ikut terangkat dampak pemberitaan yang meluas, menggema akibat sepak bola.
Sektor swasta diuntungkan, hotel-hotel akan didatangi official dan pemain dari berbagai klub peserta liga 1. Penjual merchandise berupaya menampilkan kearifan lokal yang memadupadankan sepak bola.
“Bhayangkara Presisi Lampung FC menimbulkan multi efek benar adanya. Untuk stadion, saya tidak bisa membayangkan, bakal sesak dipadati penonton. Ini bukan sekadar sepak bola, ini entertainment,” tuturnya.
Sekali lagi, kata Mico, membangun ekosistem sepak bola yang sehat dapat dilakukan jika seseorang terkhusus pemimpin daerah punya keberanian.
“Maka jangan cuma bisanya memainkan uang APBD, di situlah seorang pemimpin dituntut kreatif dalam membangun sepak bola. Ingat lho, sudah banyak yang terjerat akibat tidak bijak dengan uang rakyat,” timpalnya.
Menurutnya, pelibatan swasta dalam upaya memajukan dunia olahraga juga merupakan sebuah kemajuan dan sebagai solusi di tengah keterbatasan kemampuan APBD untuk memajukan olahraga.
Partisipasi Swasta
Swasta bisa terlibat sesuai kemampuan dalam konteks membangun sepak bola di Lampung. Ada sisi moril yang tergugah dalam garis gotong-royong.
Kolaborasi bukan berarti membebani swasta, pasalnya, swasta juga sadar akan perannya dalam membangun daerah, dari sektor mana pun.
“Yang bisa memperbaiki stadion silakan, yang bisa memperbaiki rumput stadion silakan, yang bisa memperbaiki kursi stadion juga boleh. Jadi swasta bisa terlibat sesuai kemampuan dan peran yang bisa dilakukan,” terang Mico.
Apalagi, tidak ada aturan yang dilanggar dalam keterlibatan swasta di dunia olahraga, justru memajukan olahraga menjadi tanggung jawab semua pihak.
“Seperti yang disampaikan tadi, bahwa APBD itu sudah terbebani dengan skala prioritas. Ada Pendidikan, infrastruktur dan sektor lain, lalu sepak bola di urutan ke berapa?” terangnya.
Apindo Buka Suara
Sementara itu dalam rilis yang diterima, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Provinsi Lampung, Ary Meizari Alfian menyampaikan apresiasi atas langkah berani Gubernur Lampung menghadirkan Bhayangkara FC tanpa menggunakan APBD.
Ary mengaku ikut menyerukan dan mengajak kalangan swasta, mulai dari perusahaan hingga individu pengusaha untuk terlibat aktif dalam mendukung langkah Gubernur itu.
“Selama ini masyarakat Lampung hanya menonton pertandingan liga satu di TV, dengan Bhayangkarq FC bermarkas di Lampung maka kita bisa menonton langsung,” ujarnya.
“Ini juga akan membawa multiefek, bukan hanya membawa atmosfer kemajuan olahraga, tapi secara ekonomi akan berdampak positif, karena penonton akan ramai datang ke Lampung,” terangnya.
Ary mengaku akan mengajak para anggota Apindo untuk berperan aktif mendukung kehadiran Bhayangkara FC di Lampung.
“Semua bisa terlibat sesuai kemampuan masing-masing, karena ini demi kemajuan Lampung daerah kita sendiri,” jelasnya.
Dampak ‘Bisnis’ Klub Sepak Bola Papan Atas di Daerah
Syaiful Amri mantan wartawan olah raga mengatakan kehadiran klub sepak bola papan atas di sebuah daerah membawa marwah perubahan baik dari sisi ekonomi, sosial, hingga budaya. Di satu sisi, klub besar menjadi magnet pertumbuhan positif; di sisi lain, ada tantangan dan dampak negatif yang juga perlu diantisipasi.
“Dampak positifnya sudah banyak diulas olah berbagai kalangan di daerah, saya lebih cenderung menyoroti konteks negatif dampak bisnis klub sepak bola papan atas di daerah,” kata dia.
Kehadiran klub besar seperti Bhayangkara FC yang kini mengubah namanya menjadi Bhayangkara Presisi Lampung FC membawa arus tantangan tersendiri.
Terkadang budaya asli daerah bisa tergerus oleh budaya populer sepak bola modern yang dibawa oleh klub, terutama jika promosi komersial lebih mendominasi ketimbang kearifan lokal.
Dari aspek sosial, ada juga potensi konflik antar kelompok pendukung atau bahkan munculnya fanatisme berlebihan yang berujung pada kerusuhan, baik di dalam maupun luar stadion.
“Di Jawa Barat, Jawa Timur termasuk Jawa Tengah, kita bisa cek dimensi negatif supporter ‘buta’ itu seperti apa,” kata dia.
Tragedi Kelam
Tragedi Stadion Kanjuruhan Malang, pasca-pertandingan Arema FC vs Persebaya pada 1 Oktober 2022 merupakan tragedi terbesar di dunia merupakan bukti nyata.
“Jumlah meninggal dunia akibat peristiwa tersebut menembus 125 orang. Belum yang cacat dan bisnisnya terdampak, ingat itu adalah history kelam yang tak akan terlupakan,” ungkapnya.
Maka, samabung Syaiful Amri, jika Bhayangkara Presisi Lampung FC tidak dikelola dengan baik, semangat sportivitas bisa berubah menjadi tindakan anarkis yang justru merusak citra daerah.
Pada akhirnya, kehadiran klub sepak bola papan atas di daerah adalah peluang besar yang perlu dikelola secara bijaksana.
Pemerintah daerah, manajemen klub, dan masyarakat harus bersinergi untuk memaksimalkan manfaat positif, sambil menyiapkan mitigasi terhadap potensi dampak negatif.
“Jangan di awal saja semangatnya bagus. Setahun tidak ada hasilnya, melempem dan cuek. Sudah banyak klub sepak bola di Lampung yang berkutat di Galatama, Liga Dunhil sampai ISL tidak terurus atau ‘mati’, akibat banyak faktor,” ungkapnya.
Sebagai saksi mata, sepak bola di Lampung, Syaiful berhadap pendekatan akan menjadikan klub bukan hanya menjadi lambang prestasi olahraga, tetapi juga pendorong kesejahteraan dan kemajuan daerah secara menyeluruh.
Usul untuk Gubernur Lampung
Sepak bola telah menjadi olahraga paling populer di dunia, sekaligus instrumen pembangunan karakter generasi muda.
Di berbagai negara maju, pembangunan sepak bola tidak hanya bertumpu pada klub-klub profesional, melainkan dimulai secara sistematis dari institusi pendidikan, yaitu sekolah.
“Sebagai bahan pertimbangan, saya berhadap Gubernur atau Bhayangkara mau mencontoh konsep pembangunan sepak bola berbasis sekolah dari negara maju yang dapat diadaptasi,” ungkapnya.
1. Model Jepang: Integrasi Sepak Bola dalam Kurikulum Sekolah
Di Jepang, sepak bola telah menjadi bagian dari pendidikan jasmani sejak usia dini.
Konsep kunci:
Sekolah-sekolah wajib menyediakan tim sepak bola untuk berbagai jenjang (SD, SMP, SMA).
Ada kerja sama erat antara sekolah dan klub profesional, seperti J.League, yang mengirimkan pelatih berlisensi untuk membina anak-anak sekolah.
Kompetisi reguler antar sekolah diselenggarakan dengan struktur profesional (misalnya “All Japan High School Soccer Tournament”).
Poin adaptasi:
Kepala daerah dapat mewajibkan sekolah menyediakan program ekstrakurikuler sepak bola, melatih guru olahraga dengan lisensi sepak bola, serta mendorong kerja sama aktif dengan klub-klub lokal.
2. Model Jerman: Sekolah Elit Sepak Bola (Eliteschulen des Futballs)
Jerman membangun jaringan “Sekolah Elit Sepak Bola” untuk mengembangkan talenta muda.
Konsep kunci:
Sekolah-sekolah tertentu diberi status khusus sebagai pusat pembinaan bakat sepak bola, didukung oleh DFB (Federasi Sepak Bola Jerman).
Anak-anak berbakat bersekolah sambil menjalani program latihan intensif sepak bola dengan kurikulum terintegrasi.
Ada koordinasi antara sekolah, akademi klub, dan federasi sepak bola.
Poin adaptasi:
Kepala daerah bisa menunjuk beberapa SMA/SMK sebagai “sekolah sepak bola unggulan” dengan dukungan fasilitas, beasiswa, serta pelatih bersertifikat nasional atau internasional.
3. Model Prancis: Akademi Sepak Bola Nasional (Clairfontaine)
Prancis mendirikan pusat pembinaan nasional seperti Clairefontaine, yang sudah menghasilkan banyak pemain bintang dunia.
Konsep kunci:
Pemain-pemain muda dari seluruh penjuru negeri diseleksi dan diasramakan untuk mendapat pendidikan akademik dan sepak bola berkualitas tinggi.
Kurikulum formal tetap berjalan, diimbangi dengan latihan teknik, taktik, mental, dan nutrisi olahraga.
Program ini dibiayai sebagian oleh pemerintah dan federasi.
Poin adaptasi:
Kepala daerah dapat mengembangkan akademi regional dengan skema asrama, tempat siswa mendapatkan pelatihan sepak bola serius sambil tetap melanjutkan pendidikan formal mereka.
4. Model Amerika Serikat: Keterpaduan Liga Usia Muda dan Sekolah
Amerika Serikat mengandalkan sistem liga usia muda yang diintegrasikan dengan sekolah.
Konsep kunci:
Banyak sekolah menengah memiliki tim sepak bola resmi yang bertanding dalam kejuaraan negara bagian (State Championships).
Atlet sekolah bisa mendapatkan beasiswa kuliah di universitas berbasis prestasi olahraga (NCAA).
Pendidikan dan olahraga berjalan beriringan, dengan jalur prestasi yang jelas dari SMA ke Universitas hingga profesional.
Poin adaptasi:
Kepala daerah bisa membuat kompetisi sepak bola antar-SMA dan SMP resmi, dengan jalur prestasi untuk mendapatkan beasiswa kuliah di universitas-universitas yang mendukung atletik.
Sebagai rekomendasi, gubernur Lampung memperkenankan kepala daerah membentuk program pengembangan sepak bola berbasis sekolah yang terstruktur dan terintegrasi dengan Dinas Pendidikan dan Dinas Pemuda dan Olahraga
“Tentu mendirikan sekolah unggulan sepak bola di kabupaten/kota lengkap dengan fasilitas standar nasional adalah tantangan, kalau ini bisa, saya rasa Lampung minimal bisa seperti Jepang,” kata mantan Redaktur Pelaksana Disway.id dan wartawan Radar Lampung (Jawa Pos Group) itu.
Terakhir, Mas Ipul sapaan akrab-Syaiful Amri itu menyampaikan salut kepada Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal atas dedikasi dan komitmen tidak memakai uang APBD untuk membiayai klub sepak bola.
“Salut ya, kalau benar Bhayangkara Presisi Lampung FC anti uang APBD. Apresiasi dan patut jadi contoh di Indonesia,” pungkasnya.



















![Noni Madueke mencetak gol kemenangan untuk Arsenal di City Ground [AFP]](https://bisnistoday.co.id/wp-content/uploads/2026/10/arsenal-680x533.jpg)
















