JAKARTA, Bisnistoday – Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memperkirakan, perekononomian Indonesia masih menghadapi tantangan tidak mudah pada Kuartal IV-2022. Kendati, dalam pertumbuhan ekonomi Kuartal III-2022 mampu bertumbuh 5,72% dibanding pada periode yang sama tahun lalu.
Tauhid Ahmad, Direktur Eksekutif INDEF, melalui keteranganya di Jakarta, Selasa (8/11) mengutarakan, selayaknya pemerintah mempercepat belanja modal dan belanja barang yang hingga Oktober 2022 masing-masing baru mencapai 66,44 persen dan 66,83 persen.
“Perlu ada terobosan memanfaatkan waktu yang sempit dengan memanfaatkan beragam momentum hingga akhir tahun 2022,” ungkap M Tauhid Ahmad, dalam pemaparan tanggapan respon Perlambatan Ekonomi Akhir Tahun di Jakarta, Selasa (8/11).
“INDEF memproyeksi pertumbuhan ekonomi triwulan IV- 2022 akan melambat secara moderat di level 5,3 persen, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan pada 2022 ini sebesar 5,1 persen,” terangnya.
Selain itu, Tauhid Ahmad mengatakan, penyesuaian secara moderat suku bunga acuan Bank Indonesia mengikuti perkembangan inflasi yang terjadi serta dinamika kondisi ekonomi global agar laju kredit ke sektor riil tetap meningkat.
“Dibutuhkan, penguatan pasar domestic untuk berbagai produk-produk yang memiliki daya saing di pasar global serta mempercepat industri substitusi impor di tengah menguatknya arus importasi beragam produk industri,” paparnya.
‘Low Base Effect’
Menurut pandangan, INDEF, tren peningkatan laju pertumbuhan triwulanan (YoY) sejak mengalami -5,32 persen di triwulan II 2020 hingga 5,72 persen triwulan III 2022, namun tidak mudah berlanjut ke triwulan IV 2022.
“Dapat dikatakan low base effect tinggal tersisa sedikit di triwulan IV 2022, sehingga tidak mudah mencapai pertumbuhan di atas triwulan III 2022,” tuturnya.
Ia menerangkan, peningkatan inflasi serta suku bunga acuan Bank Indonesia juga akan berdampak pada kenaikan cicilan rumah, kendaraan dan pinjaman lainnya sehingga akan mengurangi disposable income rumah tangga./
Risiko geoplitik masih tinggi dan pertumbuhan banyak negara partner dagang Indonesia menurun, sehingga perusahaan akan berpikir ulang untuk investasi khususnya pada sektor manufaktur yang berorientasi ekspor./






































