JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Industri sawit Indonesia memasuki babak perubahan. Untuk pertama kalinya, kebutuhan minyak sawit di dalam negeri diproyeksikan melampaui ekspor.
Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) dalam Outlook Industri Sawit Indonesia Q4 2026 bertajuk “Menjaga Ruang Tumbuh di Tengah Keseimbangan Baru” mencatat, konsumsi domestik 2026 akan mencapai 51,3% dari total penggunaan minyak sawit nasional, sementara ekspor 48,7%.
Pergeseran ini didorong oleh implementasi program biodiesel B50 sejak Juli 2026.
Produksi Seret, Ekspor Anjlok
Di tengah lonjakan kebutuhan domestik, produksi justru tumbuh tipis. IPOSS memperkirakan produksi minyak sawit nasional 2026 hanya mencapai 52,4 juta ton, naik 1,86% dibanding 2025.
Sebaliknya, konsumsi domestik melesat 7,4% menjadi 27,1 juta ton karena kebutuhan bahan baku biodiesel.
Dampaknya, ruang ekspor semakin sempit. Ekspor produk sawit diperkirakan turun 15,4% menjadi 25,76 juta ton sepanjang 2026. Pada kuartal IV 2026 bahkan anjlok lebih dalam, hanya 4,9 juta ton atau turun 37,2% dibanding periode sama tahun lalu.
“Persoalannya bukan memilih antara biodiesel dan ekspor. Keduanya sama-sama penting. Tantangannya adalah memastikan produksi mampu mengimbangi pertumbuhan kebutuhan domestik, sehingga penguatan ketahanan energi tidak terus mempersempit ruang ekspor,” ujar Direktur IPOSS Nanang Hendarsah.
Biodiesel vs Devisa
Melalui B50, sawit memainkan peran vital dalam substitusi impor BBM. Namun penyerapan CPO yang besar untuk energi juga mengancam dua hal lain: ketersediaan bahan baku industri dan kinerja ekspor.
Padahal ekspor bukan hanya soal devisa. Ekspor menjadi basis penerimaan Pungutan Ekspor (PE) yang membiayai program strategis sawit, termasuk biodiesel itu sendiri dan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).
Jika volume ekspor terus turun, penerimaan PE berpotensi tergerus, meski masih dipengaruhi harga dan kebijakan pungutan. IPOSS menilai keberlanjutan B50 harus ditopang pasokan yang seimbang dan pembiayaan yang adaptif.
“Pasar sawit terus berkembang, tapi kemampuan produksinya belum tumbuh secepat kebutuhan. Tanpa terobosan produktivitas, keseimbangan antara energi, ekspor, dan pembiayaan akan semakin menantang,” tambah Nanang.
Stok Menipis, Produktivitas Jadi Kunci
IPOSS juga mencatat stok minyak sawit nasional sempat menyentuh titik terendah sekitar 300 ribu ton pada Oktober 2026, sebelum pulih ke 1,7 juta ton pada akhir Desember.
Namun, pemulihan stok bukan berarti pasokan longgar. Kenaikan stok lebih disebabkan penurunan ekspor dan pergeseran musim panen. Produksi kuartal IV memang naik 15,6% dibanding kuartal sebelumnya menjadi 13,3 juta ton, tapi itu bersifat musiman, bukan pemulihan struktural.
Solusinya, menurut IPOSS, adalah produktivitas tanpa perluasan areal. Salah satunya percepatan PSR. Areal PSR yang mulai menghasilkan diproyeksi menyumbang 0,94 juta ton CPO pada 2026, atau sekitar 2% produksi nasional.
Angka itu menunjukkan manfaat PSR mulai terasa, tapi percepatan masih dibutuhkan melalui penguatan kelembagaan pekebun, pendampingan berkualitas, dan perbaikan proses verifikasi.
“Menjaga ruang tumbuh industri tidak cukup dengan memperkuat permintaan domestik. Butuh peningkatan produktivitas, efisiensi, kepastian usaha, dan akses pasar berkelanjutan,” tutup IPOSS.//



















![Polisi antihuru-hara berhadapan dengan siswa SMA saat unjuk rasa di Paris [Yves Herman/Reuters]](https://bisnistoday.co.id/wp-content/uploads/2026/10/Pelajar-prancis-680x533.jpg)



















