JAKARTA, Bisnistoday- Kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin (3/10) kembali melemah sebesat 76 poin ke posisi Rp15,303 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di posisi Rp15.227 per dolar AS. Pelemahan lebih dipengaruhi oleh tingginya tingkat inflasi domestik pada September 2022.
Analis DCFX, Lukman Leong mengatakan, pelemahan kurs rupiah kali ini lebih dipengaruhi oleh data inflasi domestik pada bulan September yang hampir tembus 6 persen. Hal ini akan semakin menberi tekakan pada Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga lebih agresif.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sebesar 1,17 persen pada September 2022 atau adanya kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,57 pada Agustus menjadi 112,87 pada September 2022.
Penyumbang inflasi pada September utamanya dari kenaikan harga bensin, tarif angkutan dalam kota, beras, minyak solar, tarif angkutan antarkota, tarif kendaraan daring, dan bahan bakar rumah tangga.
Dengan terjadinya inflasi pada September, maka inflasi tahun kalender September 2022 terhadap Desember 2021 sebesar 4,84 persen dan inflasi tahun ke tahun (yoy) September 2022 terhadap September 2021 sebesar 5,95 persen.
“Ekspektasi suku bunga dan inflasi ke depan yang meningkat membuat investor menghindari obligasi pemerintah,” ujar Lukman.
Rupiah pada pagi hari dibuka melemah ke posisi Rp15.245 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp15.243 per dolar AS hingga Rp15.305 per dolar AS.
Sementara itu kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Senin melemah ke posisi Rp15.293 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya Rp15.232 per dolar AS./

















![Polisi antihuru-hara berhadapan dengan siswa SMA saat unjuk rasa di Paris [Yves Herman/Reuters]](https://bisnistoday.co.id/wp-content/uploads/2026/10/Pelajar-prancis-680x533.jpg)























