www.bisnistoday.co.id
Jumat , 2 Oktober 2026
Home EKONOMI Energi PetroChina International Jabung Berupaya Pertahankan Produksi Minyak Kisaran 50-55 MBOEPD
Energi

PetroChina International Jabung Berupaya Pertahankan Produksi Minyak Kisaran 50-55 MBOEPD

PetroChina Jabung
Temu Media PetroChina Jabung./
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday- PetroChina International Jabung Ltd tetap menjaga produksi minyak dan gas bumi di kisaran 50–55 juta barel ekuivalen per hari (MBOEPD). Kedepan juga disadari bahwa produksi akan mengalami penurunan seiring berjalannya waktu, sehingga PetroChina Jabung berupaya terus menemukan sumber minyak baru, dengan mulai melakukan pengeboran seismic pada akhir semester II 2025.

Exploration Manager PetroChina Jabung Hendra Niko Saputra memaparkan bahwa PetroChina akan melakukan persiapan pengeboran untuk salah satu seismik pada akhir semester kedua 2025. “Insyaallah kami mulai persiapan pengeboran untuk salah satu seismik pada akhir semester II 2025,” ungkap Niko di Jakarta, Jumat (7/3).

Menurut Niko, dibandingkan dengan skenario “Do Nothing”, kegiatan pengeboran yang dimulai pada tahun 2015 menunjukkan perbedaan hasil produksi yang signifikan. Tanpa program pengeboran dan upaya peningkatan produksi, produksi minyak akan menurun seiring berjalannya waktu (sebesar 5-10 MBOEPD pada Oktober 2024).

“Sebaliknya, dengan dimulainya kegiatan pengeboran pada tahun 2015 dan berlanjut pada tahun-tahun berikutnya, produksi meningkat secara signifikan (mencapai 50-55 MBOEPD pada Oktober 2024).”

Kelangkaan Peralatan Pengeboran

Kiki Ariefianto, Drilling Operation Manager mengatakan, PetroChina International Jabung Ltd meminta pemerintah dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) untuk mengatasi kelangkaan alat pengeboran migas.

“Kami membutuhkan perhatian dari pemangku kebijakan untuk memperhatikan hal ini (kelangkaan alat pengeboran),” tutur Kiki.

Kiki menjelaskan bahwa implikasi dari kelangkaan alat pengeboran sumur migas alias rigadalah meningkatnya biaya pengeboran secara signifikan. Misalkan, ketika pemerintah meminta kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) untuk meningkatkan produksi, maka semakin banyak KKKS yang membutuhkan alat pengeboran sumur migas.

Tingginya permintaan atau demand atas alat pengeboran yang tidak selaras dengan ketersediaan alat pengeboran lantas menyebabkan biaya pengeboran akan naik dengan signifikan./

Arsip

Beritasatu Network




BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Transmisi tegangan tinngi
Energi

LUTD PLN UID Jabar Perlu Sesuaikan Karakter dan Kebutuhan Wilayah

BANDUNG, Bisnistoday.co.id – Program Light Up the Dream (LUTD) PLN UID Jawa...

kabel Udara
Energi

Listrik Jampang Kulon Dinilai Buka Peluang Investasi di Selatan Jawa Barat

BANDUNG, Bisnistoday.co.id – Penguatan infrastruktur kelistrikan di Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi, dinilai...

Energi

PHE Lepas Pantai Bunyu Sosialisasikan Rencana Eksplorasi di Kalimantan Utara

TANJUNG SELOR, Bisnistoday.co.id – PT Pertamina Hulu Energi Lepas Pantai Bunyu (PHE...

Wartsila, perusahaan teknologi global asal Finlandia, berpartisipasi di Enlit Asia – MKI Electricity Connect, dengan menghadirkan teknologi mesin dual-fuel Wärtsilä 34DF yang mengedepankan fleksibilitas jaringan listrik untuk mendukung semakin meningkatnya kebutuhan pasokan listrik di Indonesia.(dok:Ist)
Energi

Fleksibilitas Jaringan Listrik jadi Kunci Percepatan Energi Terbarukan dan Pertumbuhan Pusat Data AI

JAKARTA, Bisnistoday - Indonesia memasuki fase baru dalam transisi energinya, yang didorong...