SEBENARNYA, Isu jual tol oleh PT Waskita Karya (Persero) sudah meluas di media masa dalam lima tahun terakhir. Strategi untuk pengembangan jalan tol yang diperankan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) seperti Waskita Karya memang cukup ciamik.

PT Waskita Karya melalui anak usaha PT Waskita Toll Road (WTR) awalnya mendapat konsesi menjadi pemegang saham pengendali dalam BUJT pembangunan ruas jalan tol. Pembangunan jalan tolnya diserahkan kepada PT Waskita Karya Tbk sebagai perusahaan induk sekaligus sebagai kontraktor pelaksana.
Nah, pada fase ini, perusahaan induk akan mendapatkan cuan dari pembangunan konstruksi jalan tol. Selanjutnya, setelah masa beroperasinya jalan tol, saham mayoritas PT WTR sebagai BUJT dijual ke pihak lain yang dengan harapan mendapat capital gain.
“Skenario ini di atas kertas dapat dibilang bagus dan sekaligus memenuhi ambisi pemerintah dalam menpercepat pembangunan jalan tol.”
Apa Yang Terjadi?
Hanya saja, skenario awal penjualan jual saham jalan tol di Waskita Toll Road tampaknya sulit direalisasikan. Hal ini disebabkan banyak hal seperti, biaya konstruksi cenderung tidak kompetitif karena bukan hasil kompetisi harga lelang yang baik. “Ada benturan kepentingan.”
Seharusnya BUJT yang dikendalikan Waskita Toll Road mengadakan tender konstruksi yang ketat agar memperoleh harga “terbaik” yang rendah. Sementara, Waskita Karya sebagai kontraktor menginginkan harga setinggi mungkin untuk mengejar margin konstruksi.
“Di sini terjadi bad corporate governance. Belum lagi kalau Waskita sebagai peusahan induk mengerjakan sedikit di bawah spek, akan sulit bagi anak menolak hasil kerja induk. Jadi sampai di sini harga perolehan jalan sudah tinggi.”
Sementar itu, kebanyakan ruas tol yang diambil adalah ruas jalan tol yang traffic-nya relatif rendah. Hal ini menyebabkan valuasi proyek jalan tol menjadi rendah, hasil evaluasi jauh di diatas nilai buku atau nilai perolehannya
“Akibatnya transaksi penjualan nggak kunjung terjadi, dan selama itu pula Waskita akan mengkonsolidasi keuangan semua jalan tol yang dikendalikan oleh waskita toll.”
Negative Cashflow
Tidak hanya itu, untuk jalan tol yang dinilai bagus kelayakannya pun, pada awal operasi juga mengalami negatif cash flow, apalagi jalan tol yang rendaf traffic-nya. Periode minus itu lebih lama, bahkan ada yang revenunya tidak bisa menutup biaya operasi.
“Ini menyebabkan Waskita Toll Road harus memberikan tambahan modal ke BUJT yang minus dalam tersebut.
Sementara waskita toll road sendiri sebagai SPV (Special Purpose Vehicle), belum punya cash flow sendiri dan ini pasti akan di-pass through ke induknya, yaitu Waskita Karya.
Hal ini mungkin bisa menjelaskan kenapa banyak sub-kon PT Waskita Karya yang macet tagihannya bertahun-tahun..“Barangkali juga, dana pencairan skema supply chain financing (SCF), sebagian ada yang digunakan untuk menutup defisit ini. Sampai di sini situasi semakin ruwet dan penuh drama.”
“Kebayang kan pusingnya jadi direksi waskita? Mau jual “jalan tol” di bawah nilai buku nggak akan laku. Mau jual di bawah nilai buku juga nggak mungkin.”
Nah selama situasi dilematis berlangsung operasi jalan tol harus terus berjalan dan kewajiban pembayaran bunga pinjaman baik bank maupun obligasi atau utang jangka pendek lainnya tidak bisa ditunda.
“Konsultan sekelas PwC, atau Deloitte, atau Boston Consulting Group (BCG)-pun saya rasa cukup mumet mencarikan solusi.”
Jakarta, 27 Mei 2023
Oleh : Leny Maryouri.PhD, Pengamat Infrastruktur dan Muh Najib Fauzan.




