www.bisnistoday.co.id
Jumat , 31 Juli 2026
Home BURSA & KORPORASI Bursa IHSG Terkoreksi, Kurs Rupian Kian Melemah
BursaBURSA & KORPORASI

IHSG Terkoreksi, Kurs Rupian Kian Melemah

IHSG KEMBALI MELEMAH:
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (5/1) terkoreksi atau melemah mengikuti terkoreksinya nayoritas indeks bursa saham regional. Pelemahan ini karena saham teknologi di kawasan Asia tertekan oleh naiknya imbal hasil atau yeld surat utang Pemerintah Amerika Serikat.

IHSG pada Rabu (5/1) ditutup melemah 33,07 poin ke posisi 6.662,3. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 8,58 poin ke posisi 939,3.

Tim Riset Phillip Sekuritas dalam ulasannya menyebutkan, investor menilai potensi laba perusahaan teknologi kurang atraktif ketika imbal hasil obligasi merangkak naik.

Imbal hasil obligasi Pemerintah AS telah naik menembus 1,6 persen tahun ini karena investor mengantisipasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS The Federal Reserve pada pertengahan tahun ini untuk menjinakkan lonjakan inflasi.

Pergeseran fokus perhatian investor kembali pada prospek kenaikan suku bunga acuan di AS telah meniupkan angin segar bagi taktik rotasi keluar dari saham-saham yang sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi seperti saham di sektor teknologi dan masuk ke dalam saham-saham yang menawarkan pemasukan dan dividen seperti saham-saham di sektor finansial dan industrial.

Untuk malam nanti, investor menantikan rilis notulen rapat kebijakan bank sentral AS untuk mendapatkan gambaran yang lebih rinci mengenai kondisi seperti apa yang ingin dilihat oleh The Fed sebelum menaikkan suku bunga acuan.

Dibuka menguat, IHSG melemah dan terus bergerak di zona merah hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih tak mampu beranjak dari teritori negatif sampai penutupan bursa saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sepuluh sektor terkoreksi dimana sektor teknologi turun paling dalam yaitu minus 1,91 persen, diikuti sektor properti & real estat dan sektor transportasi & logistik masing-masing minus 1,77 persen dan minus 1,49 persen. Sedangkan satu sektor meningkat yaitu sektor keuangan sebesar 0,19 persen.

Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi beli saham oleh investor asing di seluruh pasar yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau net foreign buy di seluruh pasar sebesar Rp802,02 miliar. Sedangkan, di pasar reguler tercatat aksi beli asing dengan jumlah beli bersih Rp836,37 miliar.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.291.341 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 22,13 miliar lembar saham senilai Rp23,18 triliun. Sebanyak 174 saham naik, 369 saham menurun, dan 138 tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei menguat 30,37 poin atau 0,1 persen ke 29.332,16, indeks Hang Seng turun 382,59 poin atau 1,64 persen ke 22.907,25, dan indeks Straits Times terkoreksi 23,19 atau 0,73 persen ke 3.157,94.

Rupiah Kian Melemah

Sementara itu, nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup melemah dipicu antisipasi pelaku pasar terhadap pengetatan kebijakan bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserve pada tahun ini.

Rupiah sore ini ditutup melemah 58 poin atau 0,41 persen ke posisi Rp14.371 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.313 per dolar AS.

“Dari dolar AS, memang memulai tahun baru dengan pelaku pasar yang kembali fokus pada kebijakan pengetatan The Fed dengan mengantisipasi kenaikan suku bunga dua sampai tiga kali tahun ini dengan imbal hasil obligasi AS yang terus naik,” kata analis DC Futures, Lukman Leong seperti dikutif Antara.

Sepekan ini, lanjut Lukman, dolar AS cukup kuat dengan pelaku pasar menunggu hasil risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal atau FOMC minutes pada Kamis (6/1) pagi dini hari serta ekspektasi tinggi pada data ketenagakerjaan non pertanian atau Non Farm Payroll (NFP) dengan penambahan 400 ribu pekerjaan.

“Dari Indonesia, menurut saya pelarangan ekspor batu bara bulan Januari pastinya akan berdampak pada surplus perdagangan yang selama ini didominasi oleh ekspor batubara,” ujar Lukman./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Didi Max
Bursa

Perdagangan Berjangka : Didimax Broker Terbaik Menjadi Pilihan Banyak Trader

JAKARTA, Bisnistoday - Dalam dunia perdagangan berjangka, memilih broker terbaik Indonesia merupakan...

GEDUNG BEI
Bursa

Penguatan Pasar Sangat Dipengaruhi Sentimen Isu Makro Ekonomi Global pada Semester II 2026

JAKARTA, Bisnistoday – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai setelah fase rebound,...

Rully Arya Wisnubroto
Bursa

Mirae Asset Sekuritas: Investor Tetap Perlu Cermati Tantangan Domestik

JAKARTA, Bisnistoday - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pasar keuangan global...

Bursa

Intercontinental Exchange dan OKX Bentuk Joint Venture, Jembatani Pasar Aset Tradisional dan Digital

JAKARTA, Bisnistoday - Intercontinental Exchange (NYSE: ICE) dan OKX mengumumkan pembentukan joint...