BEBERAPA hari lalu, kawan saya membagikan Reels tentang air Bendung Katulampa yang mengering sampai bebatuannya terlihat. Bendung Katulampa (orang kadang menyebutnya Pintu Air Katulampa), selama ini dikenal sebagai salah satu penanda penting kehidupan di wilayah Bogor, Depok, hingga Jakarta. Ia bukan sekadar infrastruktur pengendali banjir, melainkan simpul kehidupan yang menghubungkan hulu dan hilir Daerah Aliran Sungai Ciliwung.
Ketika musim hujan tiba, kondisi tinggi muka air di pintu air ini kerap jadi rujukan masyarakat, terutama mereka yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Ciliwung yang bermuara hingga Teluk Jakarta. Maklum, ibu kota rawan banjir. Tak heran pintu air yang dibangun sejak zaman Hindia Belanda ini, kerap jadi spot favorit para jurnalis televisi untuk melangsungkan live report. Mereka bahkan sebagian ada yang nekat sambil berbasah ria, biar laporannya terlihat dramatis.
Namun, pada musim kemarau yang berkepanjangan seperti sekarang, Katulampa yang kerontang, jarang lagi disambangi wartawan. Mungkin hanya satu dua orang yang menjadikannya materi konten, seperti Reels yang dibagikan kawan saya tadi. Ia memang bukan konten kreator, jurnalis, maupun aktivis, tapi aware soal lingkungan. Kami sering berbagi dan berdiskusi mengenai berbagai fenomena alam, termasuk banjir, gempa, kebakaran hutan, hingga jatuhnya benda langit alias meteor.
Jadi, tak heran jika ia merasa perlu mengabarkan soal menyusutnya air di Katulampa, karena itu merupakan sinyal bahwa krisis air sedang mengintai. Faktanya memang begitu. Setidaknya, di komplek rumah saya di kawasan Depok, air kran mulai berkurang, tidak lagi deras seperti biasanya. Saya memang bukan pakar lingkungan, tapi dari literatur yang saya baca, berkurangnya debit air bukan cuma karena musim kemarau, melainkan akibat dari berbagai faktor yang saling terkait.
Perubahan iklim menyebabkan pola hujan menjadi tidak menentu, sementara suhu udara yang belakangan ini meningkat mempercepat penguapan. Pada saat yang sama, lahan resapan semakin berkurang akibat pembangunan permukiman dan infrastruktur. Tanah kehilangan kemampuannya menyerap air hujan. Akibatnya, ketika musim kemarau datang, mata air yang selama ini memasok aliran Sungai Ciliwung berkurang, bahkan sebagian mengering.
Persoalan ekosistem
Fenomena ini menunjukkan bahwa air bukan hanya persoalan cuaca, tetapi juga persoalan ekosistem. Sungai sangat bergantung pada kelestarian hutan, tanah yang mampu menyimpan air, serta daerah resapan yang tetap terjaga. Jika salah satu unsur tersebut rusak, seluruh sistem akan kehilangan keseimbangannya. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Bogor, tetapi juga oleh warga Depok dan Jakarta yang memanfaatkan air dari wilayah hulu.
Oleh karena itu, debit air di Katulampa yang mengering, patut jadi perhatian. Apalagi BMKG bilang, musim kemarau tahun ini bakal panjang. Kondisi ini merupakan peringatan bahwa tantangan masa depan bukan hanya banjir, tetapi juga krisis air bersih. Fenomena ini sekaligus mengajarkan cara pandang kita terhadap air sebagai warisan bersama yang harus dijaga, bukan sekadar komoditas yang melulu dikonsumsi .
Dalam berbagai kitab sejarah, air disebut sebagai sumber peradaban. Ia merupakan bahasa alam yang mengajarkan kebersamaan. Ia mengalir dari hulu ke hilir tanpa memilih siapa yang akan menerima manfaatnya. Karena itu, merawat air bukan sekadar tindakan ekologis, melainkan juga tindakan kebudayaan dan kemanusiaan. //
oleh: Adiyanto, wartawan Bisnis Today
















![Seorang petugas pemadam kebakaran menyemprotkan air ke hutan yang terbakar di wilayah Lege-Cap-Ferret, Prancis barat, pada 24 Juli 2026 [Caroline Blumberg/AP]](https://bisnistoday.co.id/wp-content/uploads/2026/07/Karhutla-680x533.jpg)






















