JAKARTA, Bisnistoday- Di tengah-tengah anjloknya bursa saham kawasan dan bursa global, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menjelang akhir pekan justru menguat 59,93 poin ke posisi 6.928,33. Sementara indeks LQ45 naik 15,89 poin ke posisi 994,05.
Tim Riset Pilramas Investindo Sekuritas dalam kajiannya menyebutkan, sentimen konflik di Ukraina yang belum terlihat titik perdamaian, masih menjadi perhatian pelaku pasar.
Di sisi lain, pelaku pasar juga terkonsolidasi pasca Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan akan menaikkan suku bunga acuan bank sentral pada bulan ini.
The Fed diprediksi akan menaikkan tingkat suku bunga sebanyak 25 basis poin pada Maret sebagai langkah awal untuk mulai menaikkan tingkat suku bunganya ke depan.
Dibuka menguat, IHSG terus bergerak di zona hijau hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih terus bertahan di teritori positif hingga penutupan bursa saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tujuh sektor menguat dimana sektor energi naik paling tinggi yaitu 6,88 persen, diikuti sektor perindustrian dan sektor kesehatan masing-masing 2,49 persen dan 1,13 persen.
Sedangkan empat sektor terkoreksi dimana sektor transportasi & logistik turun paling dalam yaitu minus 1,32 persen, diikuti sektor barang konsumen primer dan sektor barang konsumen non primer masing-masing minus 1,03 persen dan minus 0,69 persen.
Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi beli saham oleh investor asing di seluruh pasar yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau “net foreign buy” di seluruh pasar sebesar Rp2,4 triliun. Sedangkan di pasar reguler tercatat aksi beli asing dengan jumlah beli bersih Rp1,9 triliun.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.726.353 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 27,07 miliar lembar saham senilai Rp21,63 triliun. Sebanyak 202 saham naik, 345 saham menurun, dan 135 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei melemah 591,8 poin atau 2,23 persen ke 25.985,47, indeks Hang Seng turun 562,05 poin atau 2,5 persen ke 21.905,29, dan Straits Times terkoreksi 27,75 poin atau 0,85 persen ke 3.225,9.
Rupiah Menguat
Sementara itu, nilai tukar (kurs) rupiah, yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup menguat 7 poin atau 0,05 persen ke posisi Rp14.387 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.394 per dolar AS.
“Hanya segelintir mata uang yang menguat terhadap USD di tengah kekhawatiran di Ukraina, salah satunya rupiah dan AUD. Safe haven cenderung menguat seperti USD, Yen dan CHF,” kata analis DCFX Futures, Lukman Leong seperti dilansir Antara.
Menurut Lukman, rupiah sangat diuntungkan dengan kenaikan pada harga komoditas seperti batu bara. “Ini juga tercerminkan dengan kenaikan bursa JKSE di tengah penurunan tajam pada bursa utama lainnya di Asia maupun global,” ujar Lukman.
Terkait geopolitik, Rusia dan Ukraina telah menyepakati perlunya mendirikan koridor kemanusiaan dan kemungkinan gencatan senjata di sekitar mereka untuk warga sipil yang melarikan diri.
Pasukan invasi Rusia telah mengepung dan membombardir kota-kota di Ukraina saat konflik memasuki minggu kedua.
Sementara itu, Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell menegaskan kembali bahwa dia mendukung kenaikan 25 basis poin bulan ini. Powell mengulangi komentarnya pada hari kedua kesaksiannya di depan Kongres.
Rupiah pada pagi hari dibuka menguat ke posisi Rp14.380 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp14.369 per dolar AS hingga Rp14.393 per dolar AS.
Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Jumat melemah ke posisi Rp14.383 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya Rp14.373 per dolar AS./










































