TOMOHON, Bisnistoday – Sinergi dua raksasa energi pelat merah memasuki babak baru. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) bersama PT PLN Indonesia Power (PLN IP) resmi menyepakati tarif listrik dengan PT PLN (Persero) untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulubelu Bottoming Unit berkapasitas 30 megawatt (MW). Kesepakatan ini menandai percepatan langkah Indonesia menuju pemanfaatan energi bersih yang lebih optimal.
Ulubelu Bottoming Unit menjadi proyek berbasis teknologi binary pertama yang dikembangkan kedua entitas di wilayah kerja eksisting Ulubelu. Teknologi ini memanfaatkan panas sisa dari pembangkit, sehingga energi yang sebelumnya terbuang dapat diubah kembali menjadi listrik. Selain efisiensi, proyek ini juga menjadi bagian dari skema Independent Power Producer (IPP) PLN, sekaligus mendukung target PGE mencapai kapasitas terpasang 1 gigawatt (GW) dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Direktur Eksplorasi & Pengembangan PGE, Edwil Suzandi, menilai kesepakatan tarif ini sebagai “langkah signifikan” yang akan mempercepat pembentukan joint venture, pengadaan EPCC, hingga penandatanganan Power Purchase Agreement (PPA). Seluruh proses ditargetkan berjalan simultan mulai Januari 2026 demi mengejar operasi komersial pada 2027. Menurutnya, proyek ini diharapkan menjadi model yang dapat direplikasi di wilayah lain seperti Lahendong (Sulawesi Utara) dan Lumut Balai (Sumatera Selatan).
Kerja sama kedua BUMN energi ini tidak berdiri sendiri. Pada Agustus lalu, Pertamina dan PLN telah menandatangani nota kesepahaman pengembangan panas bumi di 19 proyek eksisting dengan total kapasitas 530 MW. Sinergi tersebut difasilitasi Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) dan membuka jalan bagi pengembangan lebih luas.
Kesepakatan PLTP Lehendong
Tidak hanya Ulubelu, konsorsium juga menyepakati proyek PLTP Lahendong Bottoming Unit 1 berkapasitas 15 MW. Jika keduanya terealisasi, tambahan kapasitas yang dihasilkan mencapai 45 MW — langkah penting untuk mendukung bauran energi nasional berbasis sumber daya dalam negeri. Dalam skala lebih besar, potensi pengembangan panas bumi dari kerja sama ini diperkirakan dapat mencapai tambahan 1.130 MW dengan nilai investasi sekitar US$5,4 miliar.
Sebagai pionir panas bumi lebih dari empat dekade, PGE saat ini mengelola 727 MW dari enam wilayah operasi. Sejumlah proyek strategis lain juga tengah digarap, termasuk PLTP Hululais Unit 1 & 2 (110 MW) dan beberapa proyek co-generation berkapasitas total 230 MW. Langkah-langkah ini diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga menurunkan emisi dari sektor pembangkit listrik.
Dengan berbagai inisiatif tersebut, Ulubelu Bottoming Unit dipandang sebagai simbol perubahan: dari sekadar menambah kapasitas, menuju pemanfaatan energi lebih cerdas dan berkelanjutan. Jika seluruh target berjalan sesuai rencana, Indonesia selangkah lebih dekat pada ambisi besar transisi energi yang konsisten, terukur, dan berdampak nyata bagi masa depan.//









































