JAKARTA, Bisnistoday—Kehadiran anggota Dewan Pertimbangan Presiden Rocky Gerung dalam Diskusi bertema “Gerakan Koperasi Revolusi Ekonomi dalam rangka pra-Kongres ke-42 Syariat Islam, Senin (5/10) memantik perhatian. Dengan gayanya yang khas dan lugas, Rocky menegaskan koperasi adalah sebuah “gerakan”, bukan bangunan fisik. Menurutnya, hanya dengan gerakan maka revolusi ekonomi dapat terjadi. Karena itu, koperasi yang berdiri di seluruh penjuru negeri tidak akan bermakna tanpa adanya prinsip gerakan yang hidup di dalamnya.
Ia berpendapat koperasi adalah DNA sejati bangsa Indonesia. Bahkan, jika ditelisik, Pancasila pada hakikatnya bermuara pada ide tentang koperasi. Mulai dari kesederajatan manusia di hadapan Tuhan dalam sila pertama, penolakan terhadap eksploitasi antar manusia di sila kedua, semangat persatuan dari Sabang sampai Merauke pada sila ketiga, prinsip musyawarah dalam sila keempat dan keadilan sosial yang cita-citakan oleh Bung Hatta pada sila kelima.
“Jadi, sebetulnya ideologi dasar dari negeri ini adalah koperasi yang dibuat 1913 di Surabaya oleh HOS Tjokroaminoto (Pendiri Syarikat Islam),” kata Rocky.
Menanggapi tudingan bahwa koperasi dibangun oleh elit, Rocky mengatakan justru koperasi pada awalnya memang dibangun oleh elit. Ia menyebut bapak Koperasi Dunia Robert Owen yang seorang industrialis, pengusaha sukses di Manchaster melakukan reformasi kemanusiaan dengan menggagas jam kerja yang lebih manusiawi, setelah menyaksikan ketidakadilan yang dialami oleh buruh.
Karena itu, ia menegaskan, ide koperasi berawal dari kemampuan berpikir manusia, yang kemudian tumbuh karena pengalaman konkret dengan ketidakmanusiaan.
Dalam konteks Indonesia, Rocky mengatakan, konstitusi UUD 1945 mengenal tiga pilar ekonomi: korporasi yang berorientasi profit, BUMN bertugas untuk kesejahteraan rakyat dan koperasi sebagai badan usaha berbasis solidaritas. Akan tetapi sangat disayangkan, koperasi seringkali hanya jadi tempat eceran dan wadah penyaluran CSR bagi korporasi dan BUMN.
Itulah sebabnya, Rocky tegas mengatakan harus ada gerakan untuk mengembalikan ekonomi kerakyatan. Dalam hal ini, negara penting memberikan dukungan atau backup.
“Untuk membangun gerakan ini dari Sabang sampai Merauke, mesti ada kekuatan negara. Bukan negara mengambil alih, negara memberi fondasi ideologi dan semangat,” kata Rocky.
Ia juga menambahkan koperasi semakin relevan, di saat dunia mulai beralih dari kapitalisme, akibat kerusakan dan krisis ekologi yang ditimbulkannya. Menghadapi kondisi ini, Rocky meminta agar siapapun tidak ragu dengan gerakan koperasi serta mendorong generasi muda bergerak melakukan revolusi ekonomi untuk menghasilkan ideologi baru tentang ekonomi Indonesia.
Ditegaskan Rocky, Indonesia harus jadi negara yang berbasis pada keadilan sosial, bukan kapitalisme.






































