JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Aksi protes siswa sekolah menengah di Prancis terus berlanjut. Aksi yang sudah berlangsung selama tiga pekan itu, bahkan kini merebak di berbagai kota.
Awalnya, para siswa mulai memboikot kegiatan belajar di wilayah-wilayah kurang mampu di Paris pada 21 September sebagai bentuk protes terhadap kekurangan guru dan kondisi sekolah yang buruk. Namun, protes tersebut dengan cepat berkembang menjadi gerakan berskala nasional.
Demonstrasi terbesar terjadi pada Selasa (6/10/2026). Aksi blokade sekolah ini berubah menjadi kekerasan. Para pengunjuk rasa dituduh melemparkan benda ke arah polisi, sementara petugas diduga merespons dengan tindakan kasar menggunakan tongkat pemukul, gas air mata, dan peluru karet. Dalam satu insiden, seorang remaja kehilangan tangannya akibat ledakan granat.
Demonstrasi massal ini, yang juga bertepatan dengan pemogokan sektor publik terkait rencana anggaran pemerintah pekan lalu, menjadi tantangan tambahan bagi pemerintahan Presiden Emmanuel Macron, yang sedang mengalami kesulitan keuangan di tengah krisis fiskal yang terus berlangsung akibat lonjakan utang pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.
Tuntutan pengunjuk rasa
Para siswa protes terkait kondisi buruk di sekolah menengah atas (SMA) atau lycée di Prancis, khususnya di wilayah-wilayah yang kurang mampu. Aksi protes terjadi di Strasbourg, Bordeaux, Nantes, Marseille, Lyon, serta berbagai kota lainnya.
Para siswa mengeluhkan tidak adanya pengganti bagi guru yang absen, kondisi bangunan sekolah yang rusak parah dan terkadang dipenuhi hama (seperti tikus), fasilitas meja dan kursi yang tidak memadai, ukuran kelas yang terlalu besar, serta jam pelajaran yang panjang.
Gelombang panas ekstrem yang melanda Prancis pada musim panas, memperparah masalah yang sudah ada di gedung-gedung sekolah yang kurang terawat dan juga tidak memiliki fasilitas pendingin ruangan, menurut keterangan para siswa.
Aksi protes ini berlangsung bersamaan dengan pemogokan sektor publik berskala nasional yang sedang berlangsung terkait usulan anggaran penghematan untuk tahun 2027. Pemotongan nggaran ini bertujuan menghemat 54 miliar euro (US$61,3 miliar) di tengah upaya pemerintah Macron untuk mengendalikan defisit publik yang besar.
Pegawai sektor publik dan serikat pekerja secara khusus menentang rencana pemerintah untuk membekukan gaji demi menghemat sekitar dua miliar euro (US$2,27 miliar).
Para orang tua juga semakin banyak yang hadir dalam aksi protes di tengah kemarahan luas terkait respons polisi terhadap para demonstran yang masih di bawah umur.
Namun, protes ini terjadi di tengah ketidakpuasan yang lebih luas akibat melonjaknya harga bahan bakar dan komoditas serta berkurangnya belanja publik di bawah pemerintahan Macron.
Sementara itu, pejabat pemerintah menuduh kelompok oposisi politik dan aktivis serikat pekerja memanfaatkan gerakan pelajar tersebut. Pekan lalu, Perdana Menteri Sebastien Lecornu menuduh lawan politiknya memicu eskalasi.
Ribuan Siswa Ditangkap
Setidaknya 6.100 orang telah ditangkap hingga Selasa pagi, banyak di antaranya berusia di bawah 18 tahun. Sejumlah orang juga dilaporkan mengalami cedera.
Al jazeera mewartakan seorang remaja berusia 15 tahun bahkan kehilangan tangannya di kota Lens, wilayah utara, pada hari Senin setelah ia dilaporkan bersentuhan dengan granat kejut (stun grenade) milik polisi yang kemudian meledak.
Pihak kejaksaan menyatakan penyelidikan sedang berlangsung untuk memastikan apakah remaja tersebut secara sengaja memungut granat itu atau apakah granat tersebut jatuh menimpanya.
“Secara keseluruhan, setidaknya 190 siswa sekolah menengah mengalami cedera,” ungkap Menteri Pendidikan Edouard Geffray pada hari Senin. Sebelumnya ia menyebutkan bahwa 78 staf pengajar terluka, serta 24 sekolah dibakar atau dijarah.
Menurut keterangan Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez sekitar 715 petugas kepolisian mengalami cedera.//
















![Polisi antihuru-hara berhadapan dengan siswa SMA saat unjuk rasa di Paris [Yves Herman/Reuters]](https://bisnistoday.co.id/wp-content/uploads/2026/10/Pelajar-prancis-680x533.jpg)



















![Polisi antihuru-hara berhadapan dengan siswa SMA saat unjuk rasa di Paris [Yves Herman/Reuters]](https://bisnistoday.co.id/wp-content/uploads/2026/10/Pelajar-prancis.jpg)



