www.bisnistoday.co.id
Minggu , 1 November 2026
Home HEADLINE NEWS Indonesia Gandeng AS Antisipasi Lonjakan Investasi Manufaktur dan Pengembangan Teknologi Industri
HEADLINE NEWS

Indonesia Gandeng AS Antisipasi Lonjakan Investasi Manufaktur dan Pengembangan Teknologi Industri

KIT Batang
KAWASAN Industri Terpadu Batang di Kab.Batang, Jawa Tengah, belum lama ini.
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkokoh posisi Indonesia sebagai magnet investasi utama di kawasan. Langkah strategis ini ditegaskan lewat pertemuan penting antara Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji dengan delegasi US-ASEAN Business Council (USABC) melalui ajang 2026 Indonesia Business Mission di Jakarta. Pertemuan ini menjadi momentum krusial untuk menindaklanjuti delapan rekomendasi utama USABC guna mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen.

Menteri Perindustrian, Muhammad Sarmuji mengapresiasi kemitraan erat serta kontribusi berkelanjutan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat dalam mendorong investasi, inovasi, transfer teknologi, dan pertumbuhan sektor manufaktur di tanah air.

Hubungan ekonomi kedua negara terbukti sangat strategis dan saling melengkapi. Dengan populasi Indonesia yang mencapai 285,7 juta jiwa pada 2025 sebagai pasar domestik yang masif, dipadukan dengan keunggulan teknologi, inovasi, serta jaringan global Amerika Serikat (berpenduduk 341,8 juta jiwa), kolaborasi ini menciptakan sinergi raksasa. Catatan impresif turut menghiasi neraca perdagangan bilateral 2025 yang menembus US43,80 miliar, di mana Indonesia mengantongi surplus sebesar US18,02 miliar (ekspor US30,95 miliar berbanding impor US12,93 miliar). Sementara itu, realisasi investasi AS di Indonesia pada tahun yang sama sukses menyentuh angka US$2,97 miliar.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Setia Diarta, menekankan bahwa kerja sama ini dirancang bukan sekadar mengejar angka investasi. “Kemitraan dengan AS kami arahkan untuk menghasilkan dampak nyata: mempercepat alih teknologi (transfer of technology), mengintegrasikan industri dalam negeri ke dalam rantai pasok global, serta menggenjot kompetensi SDM industri kita,” tegas Setia.

Delapan Pilar Penguatan Kolaborasi Strategis

Dalam misi bisnis kali ini, fokus kerja sama dijabarkan ke dalam delapan bidang krusial yang siap mendongkrak daya saing industri nasional, yang pada 2025 lalu sukses menyumbang 19,07 persen terhadap PDB dengan pertumbuhan mengesankan di angka 5,30 persen:

  • Transformasi Digital & Semikonduktor: Membuka pintu lebar bagi penerapan Industri 4.0, kecerdasan buatan (AI), otomasi, keamanan siber, hingga pengembangan ekosistem semikonduktor. Kemenperin melalui BPSDMI dan PIDI 4.0 siap memperluas kolaborasi vokasi dengan raksasa teknologi seperti Apple, termasuk pengembangan Apple Skill Center.
  • Kedirgantaraan (Aerospace): Menyambut antusias kerja sama lanjutan dengan Boeing untuk memperkuat kapasitas pemasok lokal. Saat ini, lebih dari 10 produsen komponen lokal telah tersertifikasi dan 5 di antaranya resmi terdaftar sebagai pemasok global Boeing, yang semakin dikuatkan lewat rencana pembangunan Kertajati Aerospace Park.
  • Energi & Sumber Daya Mineral: Mendorong Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) melalui proyek-proyek energi raksasa, seperti proyek Tangguh Ubadari, CCUS, dan Compression oleh bp yang sukses melibatkan tenaga kerja lokal dalam pelapisan ribuan sambungan pipa lepas pantai.
  • Kesehatan & Farmasi: Memacu pengembangan alat kesehatan berstandar global, teknologi medis mutakhir, serta penguatan jaminan halal dan sertifikasi SNI melalui platform digital SIINas dan koordinasi bersama BPJPH.
  • Makanan, Minuman & Manufaktur Hijau: Menyoroti kepastian bahan baku dan percepatan mandatori halal. Pemerintah juga mematok target ambisius berupa rasio pemanfaatan material sirkular sebesar 15 persen pada 2029 di delapan sektor prioritas (elektronik, tekstil, pulp dan kertas, plastik, kaca, keramik, logam, serta baterai EV).
  • Perdagangan & Rantai Pasok: Menyambut kemitraan material maju bersama Lubrizol dan penjajakan ekspansi logistik oleh UPS guna menjaga kelancaran pasokan bahan baku dan barang modal.
  • Pembiayaan & Pengembangan Manufaktur: Mengoptimalkan hilirisasi dan pendalaman struktur industri demi menciptakan nilai tambah di dalam negeri.
  • Penguatan Iklim Investasi: Pemerintah terus mempermudah perizinan, menjaga transparansi regulasi, serta memperkuat program P3DN dan reformasi kebijakan TKDN demi memberikan insentif terbaik bagi investor.

Berdasarkan laporan BISA 2026 dari USABC, tercatat ada 91 inisiatif inovasi dari 43 perusahaan AS di Indonesia sepanjang periode 2020–2026. Angka ini membuktikan bahwa potensi perluasan investasi sangat terbuka lebar, khususnya di sektor manufaktur berteknologi tinggi, kimia, farmasi, dan elektronik.

“Kami berharap pertemuan ini segera berwujud menjadi aksi nyata—baik berupa investasi baru, perluasan pabrik, alih teknologi, hingga penyerapan tenaga kerja lokal. Bersama AS, kita wujudkan integrasi rantai pasok global yang tangguh dan berkelanjutan,” papar Setia optimistis./

Arsip

Beritasatu Network




BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Kemendag
HEADLINE NEWS

Wujudkan Campuspreneur, Kemendag Ajak Mahasiswa IPB Jadi Eksportir Muda

JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Kementerian Perdagangan mengajak mahasiswa IPB University Bogor, Jawa Barat,...

Menteri Dudy
HEADLINE NEWS

Bertemu Perwakilan USABC, Menhub Dudy Bahas Peluang Investasi Sektor Transportasi

JAKARTA, Bisnistoday.co.id - Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi bertemu dengan US-ASEAN Business Council...

Kemendikdasmen
HEADLINE NEWS

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Kemendikdasmen Perkuat Empat Dasar Peningkatan Mutu Pendidikan

JAKARTA, Bisnistoday.co.id - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkuat empat dasar...

Menteri Bahlil
HEADLINE NEWS

Forek Hulu Migas : Menteri Bahlil Minta Kontraktor Migas Segera Eksekusi Blok yang Sudah PoD  Untuk Kejar Lifting dan Tekan Impor

JAKARTA , Bisnistoday.co.id - Indonesia masih mengimpor sekitar 700–750 ribu barel minyak...