www.bisnistoday.co.id
Minggu , 11 Oktober 2026
Home GLOBAL Ilmuwan Deteksi Semburan Energi dari Galaksi yang Sangat Jauh
GLOBALHumaniora

Ilmuwan Deteksi Semburan Energi dari Galaksi yang Sangat Jauh

Dalam sebuah studi baru yang diterbitkan di jurnal Science, para peneliti mendeteksi FRB yang berasal dari masa ketika alam semesta baru berusia sekitar 3 miliar tahun.

Para ilmuwan mendeteksi semburan tersebut menggunakan teleskop radio MeerKAT di Afrika Selatan dan kemudian mengidentifikasi galaksi induknya menggunakan teleskop antariksa James Webb milik NASA. Foto: Brendon Wainwright/Wikipedia.
Para ilmuwan mendeteksi semburan tersebut menggunakan teleskop radio MeerKAT di Afrika Selatan dan kemudian mengidentifikasi galaksi induknya menggunakan teleskop antariksa James Webb milik NASA. Foto: Brendon Wainwright/Wikipedia.
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Dahulu kala di galaksi yang sangat jauh, sebuah kilatan energi misterius dilepaskan ke alam semesta. Bermilyar tahun kemudian, semburan gelombang radio itu sampai ke Bumi.

Para astronom kini telah mendeteksi kilatan tersebut, sebuah semburan gelombang radio yang telah menempuh perjalanan selama lebih dari 10 miliar tahun, yang mereka yakini sebagai fast radio burst (FRB) atau semburan radio cepat terjauh yang pernah tercatat.

FRB adalah semburan gelombang radio intens yang dapat memancarkan energi dalam hitungan milidetik yang setara dengan energi yang dihasilkan Matahari dalam hitungan bulan atau tahun. Pulsa misterius ini pertama kali ditemukan pada tahun 2007 dan terus membuat para ilmuwan bingung hingga kini. Spekulasi dari sebagian pihak menyatakan fenomena ini mungkin berasal dari alien.

Dalam sebuah studi baru yang diterbitkan di jurnal Science, para peneliti mendeteksi FRB yang berasal dari masa ketika alam semesta baru berusia sekitar 3 miliar tahun. Ini berarti sinyal tersebut telah menempuh perjalanan melintasi “sekitar 80% sejarah kosmik”.

Semburan yang dijuluki FRB 20240304B ini diyakini sebagai yang terjauh yang pernah dideteksi, dengan jarak lebih dari dua kali lipat rekor jarak sebelumnya.

Para ilmuwan mendeteksi semburan tersebut menggunakan teleskop radio MeerKAT di Afrika Selatan dan kemudian mengidentifikasi galaksi induknya menggunakan teleskop luar angkasa James Webb (JWST) milik NASA.

Dr. Themiya Nanayakkara dari University of Sydney, salah satu peneliti utama dalam studi tersebut, mengatakan bahwa saat semburan itu terjadi saat belum ada Bumi dan Matahari.

Data dari JWST menunjukkan bahwa semburan tersebut berasal dari galaksi muda yang sangat kecil yang sedang membentuk bintang dengan kecepatan sangat tinggi, serta memiliki kandungan logam yang rendah di sekitarnya.

Terdapat beberapa teori mengenai sumber FRB, termasuk dugaan bahwa fenomena ini berasal dari magnetar, yaitu bintang neutron dengan medan magnet yang sangat kuat.

“Apa pun mekanisme yang menyebabkan semburan radio ini, mekanisme tersebut harus dapat menjelaskan fakta bahwa semburan ini dapat dihasilkan di galaksi yang sangat muda dengan kandungan logam yang sangat rendah,” ujar Nanayakkara. Seperti dikutip The Guardian.

Lebih dari 10.000 FRB telah terdeteksi sejak tahun 2007. Beberapa di antaranya berulang secara terus-menerus, kata Nanayakkara, sementara ada yang berulang untuk beberapa waktu lalu berhenti dan ada pula FRB yang hanya muncul sekali dan tidak pernah terlihat lagi.

Masih harus dilihat apakah semburan baru yang berasal dari jarak jauh ini merupakan kejadian sekali saja atau akan menghasilkan sinyal berulang.

“Namun hal menarik dari FRB adalah kita tidak perlu mengetahui penyebabnya untuk melakukan penelitian yang sedang kita jalankan saat ini,” ujar Nanayakkara.

“Semburan khusus ini telah menempuh perjalanan selama 80% dari usia alam semesta,” katanya, seraya menambahkan bahwa deteksi lebih lanjut terhadap FRB jarak jauh akan memungkinkan para ilmuwan memetakan materi yang tak terlihat di alam semesta yang jauh.

Penelitian Alam Semesta

Profesor Matthew Bailes dari Swinburne University, salah satu astrofisikawan yang pertama kali menemukan FRB, menyebut makalah baru tersebut sebagai “bukti betapa ampuhnya FRB untuk meneliti alam semesta”.

Bailes menggambarkannya sebagai “cara yang sangat mendasar untuk menghitung jumlah atom di alam semesta”. FRB dipengaruhi oleh partikel-partikel yang dilewatinya, sehingga memungkinkan para ilmuwan mengukur materi yang tidak dapat dilihat melalui teleskop optik.

Dr. Sara Webb, seorang astrofisikawan dari Swinburne University yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, mengatakan: “Pada dasarnya, Anda dapat menggunakannya sebagai metode penghitungan sepanjang garis pandang untuk mengetahui seberapa banyak materi yang harus dilewati sinyal tersebut untuk sampai ke Bumi.”

“Penemuan ini mengisyaratkan bahwa “FRB mungkin merupakan fenomena yang sangat umum terjadi di alam semesta awal,” tambahnya.//

 

Arsip

Beritasatu Network




BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

PMKRI
Humaniora

Nota Pastoral KWI Jadi Spirit Gerakan PMKRI 2026–2028, Kader Diminta Rawat Keadaban Publik

JAKARTA, Bisnistoday.co.id - Nota Pastoral Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menjadi pijakan moral dan...

Anne Carson, peraih Nobel Sastra 2026 (Dok: Nobelprize.org)
HumanioraKawasan Global

Penyair asal Kanada Anne Carson Raih Nobel Sastra 2026

JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Penulis puisi asal Kanada, Anne Carson meraih Nobel Sastra...

Talkshow IDAFLW 2026 (dok: Ist)
Humaniora

IDAFLW 2026: Mewujudkan Potensi Ekonomi, Sosial dan Lingkungan dalam Atasi Susut dan Sisa Pangan

JAKARTA, Bisnistoday.co.id - Peringatan International Day of Awareness of Food Loss and...

Mendikdasmen
Humaniora

Mendikdasmen Bersama Menko PMK Pantau Hasil Perbaikan Sekolah di SD Negeri Cirimekar 2 Kab.Bogor

KAB.BOGOR, Bisnistoday.co.id - Ruang kelas yang sebelumnya mengalami kerusakan kini telah diperbaiki,...