JAKARTA, Bisnistoday – Amar perintah yang menjadi judul tulisan di atas, bukan berasal dari siapa-siapa. Itu perintah langsung dari Tuhan YME kepada langit. Amar itu diabadikan dalam Alqur’an. Dia yang menurunkan hujan dan hanya Dia yang kuasa menghentikannya. Kalau berkehendak, Tuhan tinggal memerintah langit menahan curah hujan. Agar limpahan air tak bikin petaka, seperti banjir dan bah, maka Dia perintahkan bumi menelannya.
Syahdan, di saat para durjana dihempas badai air raksasa yang menderu, menerjang semua yang ada di atas punggung bumi, Allah menurunkan keputusan-Nya. Cukup sudah. Para pengingkar keesaaan Tuhan yang didakwahkan Nabiyuna Nuh As, telah lenyap ditelan bumi. Tuhan berkehendak menyelamatkan orang-orang beriman yang bergabung ke dalam perahu Nabi Nuh. Kemudian turunlah amar pada bumi dan langit.
Kalau berkehendak, sangat mudah bagi-Nya membuat awan jadi hujan. Atau sebaliknya. Kun Fa Yakuun–Jadilah, maka jadilah ! Tapi, Dia mengucap perintah dalam firman. “Hai bumi, telanlah airmu ! Dan hai langit (hujan), berhentilah ! Dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan, dan bahtera itu pun berlabuh di atas Bukit Judi, dan difirmankan, “Binasalah orang-orang yang lalim !” (QS : Hud : 44).
Para Pengendali Awan
Saat hendak mengisi acara malam tahun baru 2019, Rhoma Irama yang dikenal gemar berdakwah lewat musik, minta disiapkan pawang. “Pemprov saya harap menyediakan pawang-pawang [hujan] yang asli ya. Pawang-pawang yang ahli,” ucapnya. Namun, Sekdaprov DKI Jakarta Saefullah mengaku belum dapat referensi menggunakan jasa pawang. “Belum dapat referensi nih, kita berdoa saja,” kata Saefullah.
Konon, rumah mode kenamaan asal Perancis, Louis Vuitton, tahun 2018 silam, memanfaatkan keahlian pengendali awan asal Brasil. Acara peragaan busana di Rio de Janeiro dan Kyoto, berlangsung lancar. Saat Festival Teater Ibero-Amerika menghadirkan ratusan perusahaan teater, grup tari, dan musisi dari beberapa negara ke Kolombia, tidak sempat terganggu oleh kekuatiran akan tumpahan air hujan dari langit.
Figur penting di balik sukses gelar Festival Teater Ibero-Amerika itu adalah Jorge Elias Gonzales. Menurut catatan, dia tak lebih dari seorang petani kopi. Akan tetapi, “kedekatannya” kepada langit, membuat dia mudah bernegosiasi dengan gelombang awan. Dalam ritualnya, Jorge Elias Gonzales menggabungkan unsur-unsur keagamaan dengan tradisi Kolombia yang telah berakar sangat lama.
Bangsa-bangsa di Asia Tenggara, seperti Thailand juga meyakini adanya ritual penghentian hujan. Mereka biasa menggunakan serai dan seorang gadis perawan sebagai penghalau hujan. Bangsa Thai menanam sebatang serai ke tanah dan minta perawan berdoa supaya hujan dapat segera berhenti. Ritual ini dipercaya dapat menahan awan badai. Hingga akhirnya mereka keranjingan teknologi, para pawang tetap eksis.
Bangsa lain di kawasan Asia yang juga “nyandu” pawang hujan adalah Jepang. Negeri paling depan dalam urusan sains dan teknologi ini, memiliki tradisi yang kuat dalam berkolaborasi dengan alam. Di sini, ritual pawang hujan disebut Teru Teru Bozu. Dengan menggantung boneka putih di jendela, penakluk awan dari Jepun meminta awan untuk tidak tumpah atau tumpah di tempat tertentu yang “disepakati”.
Teru berarti bercahaya atau cerah, sedang Bozu bermakna biksu. Oleh, masyarakat Jepang, boneka ini dipercaya jadi perantara yang dapat mencegah turunnya hujan. Konon, ritual pawang hujan dilakukan pertama kali di Jepang pada Zaman Edo, atau sekitar abad ke-17. Saat kemudian dikenal sebagai lokomotif besar teknologi, Jepang tetap melestarikan ritual pawang hujan. Teru Teru Bozu dilakukan saat acara keluarga atau vakansi luar ruangan.
Semata Semantik
Di Madura, negosiator awan disebut Nyarang Ojen, di Bali Nerang Hujan dan di Riau dipanggil Bomoh. Para ahli ini bertebaran dari banyak suku dan daerah di Indonesia. Kehidupan di Betawi dan Jawa juga akrab dengan pengendali awan. Dahulu, pawang hujan yang kadang disapa shaman, tidak semata memodifikasi cuaca tapi juga memiliki keahlian sebagai tabib. Bagi masyarakatnya, ia jadi narahubung bagi dewa-dewa.
Saat dua kaki Rara Isti Wulandari melenggang di lintasan sirkuit Mandalika, dunia terpana. Wajahnya menengadah. Ia tengah berdialog. Dari langit ia menangkap kata dalam sosok tidak umum. Dengan tongkat pendek berbelalai di tangannya, Rara mengirim pesan magis. Ia bersahabat dengan guyuran hujan, badai dan petir. Rara mengitari sejumlah titik di paddock pembalap. Melalui mangkuk chakra, ia mengikat janji langit.
Ritual yang dilakukan, sarat tradisi Pulau Dewata, tempat dia tinggal selama ini. Sebagai penganut aliran kepercayaan Kejawen, tarian Rara kaya akan simbol. Dengan caranya yang tak biasa, ia menghubungi Sang Prima Kausa. Membuat hujan bertahan atau turun ke sebagian punggung bumi, adalah kehendak Sang Mahakuasa. Di semua agama dan keyakinan, Zat Tunggal adalah kampung halaman segala makhluk.
Pada sebagian praksis, apa yang dilakukan Rara, bisa ditemukan legitimasinya dalam nash dan teks keagamaan. Hanya karena sebagian pihak menyebut keahlian Rara sebagai “pengendali” awan, maka tindakannya dianggap menodai akidah. Akidah siapa ? Akidah umat yang tidak sealiran dengan Rara. Tapi, bagi Rara yang Kejawen, itu justeru diyakini sebagai cara khas berkomunikasi dengan Tuhan YME.
Terlebih, ini dilakukan Rara di agenda wisata yang profan. Di tengah tatap dan sorot mata jutaan penggemar superbike dunia, dan bukan di rumah ibadah dan acara keagamaan. Sangat bisa jadi akan kian memicu arus kontroversi jika ikhtiar memodifikasi cuaca, oleh pihak penyelenggara, justeru didekati dengan agenda keagamaan semacam salawatan, hadrah, nasyid relijius atau pengajian akbar.
Akhirul Kalam, memohon agar hujan disarang, awan dibatalkan, badai dijinakkan, adalah hak makhluk kepada Sang Khaliq. Nabi pernah mencoba, bahkan sejumlah sahabat shalat istisqa’, memohon agar Allah SWT berkenan menurunkan hujan. Dalam sebuah riwayat, Nabi yang mulia memohon pemindahan lokasi hujan. Bedanya ini dilakukan dalam rangka ibadah, sedangkan Rara dan “pawangiyun” lewat medium berbeda. Wallaahu A’lam./
Oleh: Ishaq Zubaedi Raqib, peminat masalah-masalah sosial keagamaan






































