JAKARTA, Bisnistoday- Pertumbuhan ekonomi kuartal III 2021 yang tumbuh melambat menjadi 3,51 persen (yoy) atau 1,55 persen (mom) menjadi sentimen negatif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Jumat (5/11) ditutup melemah 4,66 poin ke posisi 6.581,79, sementara Indeks LQ45 turun 0,2 poin ke posisi 947,97
Tim Riset Phillip Sekuritas dalam ulasannya menyebutkan, pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada periode tersebut menjadi penyebab melambatnya ekonomi. Realisasi tersebut lebih rendah dari perkiraan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia yang memproyeksikan PDB tumbuh 4,5 – 5 persen. Sedangkan penopang kinerja ekonomi datang dari segmen ekspor yang tumbuh 22,23 persen.
Selain itu, Bank Indonesia mengumumkan cadangan devisa Indonesia per Oktober turun 1,4 miliar dolar AS menjadi 145,5 miliar dolar AS akibat pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Selain pertumbuhan ekonomi yang melambat, pelemahan IHSG juga dipengaruhi oleh bursa regional Asia yang bergerak mixed cenderung melemah.
Selain itu juga dipengarui sentimen regional berasal dari pasar saham Hong Kong dan China yang mencatatkan pelemahan ditekan oleh emiten properti. Selain itu, Jepang dihadapkan dengan potensi perlambatan ekonomi pada kuartal III tahun ini akibat turunnya konsumsi masyarakat.
Dibuka menguat, IHSG tak lama melemah dan terus berada di zona merah hingga sesi pertama perdagangan saham berakhir. Pada sesi kedua, IHSG tak mampu beranjak dari teritori negatif hingga penutupan bursa saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, delapan sektor terkoreksi dengan sektor energi turun paling dalam yaitu 1,02 persen, diikuti sektor properti & real estat dan transportasi & logistik masing-masing 1,01 persen dan 0,42 persen.
Sedangkan tiga sektor meningkat dengan sektor teknologi dan sektor infrastruktur naik paling tinggi yaitu masing-masing 0,36 persen, diikuti sektor kesehatan 0,4 persen.
Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau net foreign buy sebesar Rp1,1 triliun.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.146.683 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 18,19 miliar lembar saham senilai Rp12,33 triliun. Sebanyak 206 saham naik, 301 saham menurun, dan 164 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain Indeks Nikkei melemah 182,8 poin atau 0,61 persen ke 29.611,57, Indeks Hang Seng turun 354,68 poin atau 1,41 persen ke 24.870,51, dan Indeks Straits Times meningkat 22,67 atau 0,7 persen ke 3.242,36.
Rupiah Menguat
Sementara itu, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup menguat, setelah sempat tertekan akibat sentimen kebijakan tapering yang diumumkan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (Fed).
Rupiah sore ini ditutup menguat 35 poin atau 0,24 persen ke posisi Rp14.331 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.366 per dolar AS.
“Saya kira penguatan rupiah hari ini hanya penguatan teknikal pasca-pertemuan FOMC yang sebenarnya dianggap kurang hawkish sehingga sempat melemahkan dolar AS,” kata Analis DC Futures Lukman Leong, seperti dikutif Antara. The Fed menyatakan akan mulai melakukan pengurangan stimulus pada November ini dan kemungkinan tidak memerlukan kenaikan suku bunga yang cepat.
Bank sentral AS itu mengumumkan pemotongan bulanan 15 miliar dolar AS menjadi 120 miliar dolar AS dalam pembelian bulanan obligasi pemerintah.
“Namun saya melihat dolar AS masih akan kembali mendominasi minggu depan dengan antisipasi data inflasi AS yang paling penting dalam arah kebijakan suku bunga The Fed,” ujar Lukman./





































