JAKARTA, Bisnistoday- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Kamis (4/11) ditutup menguat 34,31 poin ke posisi 6.586,44, sementara indeks LQ45 naik 3,04 poin ke posisi 948,17. Penguatan kali ini mengikuti penguatan bursa regional dan global.
Tim Riset Indo Premier Sekuritas Sekuritas dalam ulasannya menyebutkan, sentimen positif bagi IHSG adalah kenaikan harga komoditas seperti minyak sawit mentah atau CPO, timah, dan batu bara.
Selain itu menguatnya indeks di bursa Wall Street seiring program pengurangan pembelian obligasi yang sesuai ekspektasi baik dari segi jumlah dan waktu, serta The Fed yang tidak akan buru-buru menaikkan suku bunga acuan.
Dibuka menguat, IHSG menghabiskan waktu di zona hijau hingga sesi pertama perdagangan saham berakhir. Pada sesi kedua, IHSG terus berada di teritori positif hingga penutupan bursa saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sepuluh sektor meningkat dimana sektor transportasi & logistik naik paling tinggi yaitu 2,99 persen, diikuti sektor energi dan sektor barang baku masing-masing 2,16 persen dan 1,07 persen. Sedangkan satu sektor terkoreksi yaitu sektor kesehatan sebesar minus 0,19 persen.
Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau net foreign buy sebesar Rp315,66 miliar.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.203.777 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 18,1 miliar lembar saham senilai Rp11,05 triliun. Sebanyak 328 saham naik, 191 saham menurun, dan 154 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei menguat 273,47 poin atau 0,93 persen ke 29.794,37, indeks Hang Seng menguat 200,44 poin atau 0,8 persen ke 25.225,19, dan indeks Shanghai naik 28,33 atau 0,81 persen ke 3.526,87.
Rupiah Melemah
Sementara itu nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup melemah 53 poin atau 0,37 persen ke posisi Rp14.366 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.313 per dolar AS. Pelemahan dipicu naiknya imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS pasca pengumuman tapering oleh The Fed.
“Yield obligasi pemerintah AS menguat pasca pengumuman tapering. Ini yang mendorong penguatan dolar terhadap nilai tukar sepanjang hari ini. Yield tenor 10 tahun sempat menyentuh kembali 1,6 persen,” kata pengamat pasar uang, Ariston Tjendra seperti dilansit Antara.
The Fed menyatakan akan mulai melakukan pengurangan stimulus pada November ini dan kemungkinan tidak memerlukan kenaikan suku bunga yang cepat.
Bank sentral AS itu mengumumkan pemotongan bulanan 15 miliar dolar AS menjadi 120 miliar dolar AS dalam pembelian bulanan obligasi pemerintah dan sekuritas yang didukung hipotek, tetapi tidak banyak memberi sinyal kapan mungkin bank sentral memulai fase berikutnya dari “normalisasi” kebijakan dengan menaikkan suku bunga.
Rupiah pada pagi hari dibuka melemah ke posisi Rp14.331 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp14.309 per dolar AS hingga Rp14.381 per dolar AS.
Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Kamis melemah ke posisi Rp14.327 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya Rp14.301 per dolar AS./
















![Polisi antihuru-hara berhadapan dengan siswa SMA saat unjuk rasa di Paris [Yves Herman/Reuters]](https://bisnistoday.co.id/wp-content/uploads/2026/10/Pelajar-prancis-680x533.jpg)
























