JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Guncangan geopolitik global berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui kenaikan harga energi, gangguan rantai pasok, serta gejolak pasar keuangan. Pemerintah perlu memperkuat ketahanan ekonomi nasional untuk mengantisipasi peningkatan biaya produksi, tekanan nilai tukar rupiah, dan menyempitnya ruang fiskal.
Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eisha M. Rachbini, Ph.D., mengatakan perekonomian Indonesia tidak bisa dianggap baik-baik saja di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Menurut dia, terdapat tiga jalur utama yang perlu menjadi perhatian pemerintah, yakni energi dan fiskal, rantai pasok global, serta investasi dan pasar keuangan.
“Guncangan ini berpotensi terus menjadi tantangan bagi ekonomi Indonesia di tengah tekanan geopolitik dan dinamika ekonomi secara luas,” ujarnya.
Pada sektor energi dan fiskal, eskalasi geopolitik berisiko mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan biaya input produksi. Kondisi tersebut dapat memperbesar beban subsidi energi pemerintah, memicu inflasi, serta mempersempit ruang fiskal untuk membiayai berbagai program pembangunan.
Ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) turut memperbesar risiko tersebut. Kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya logistik dan distribusi, yang pada akhirnya berpotensi menggerus daya beli masyarakat.
Jalur kedua berasal dari gangguan rantai pasok global. Fragmentasi perdagangan dan disrupsi jalur distribusi internasional dapat meningkatkan kebutuhan modal kerja perusahaan serta menekan pembiayaan perdagangan. Jika berlangsung berkepanjangan, kondisi ini berpotensi menghambat produksi, investasi, dan penciptaan lapangan kerja.
Sementara itu, gejolak pasar keuangan global dapat mendorong investor mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman. Perubahan portofolio tersebut berisiko menekan rupiah dan meningkatkan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN). Biaya pendanaan yang semakin mahal juga dapat membuat perbankan lebih selektif dalam menyalurkan kredit kepada dunia usaha.
Dalam Kajian Tengah Tahun INDEF 2026 bertajuk Menavigasi Guncangan Global: Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Krisis Geopolitik, Energi, dan Iklim, INDEF menggunakan model Computable General Equilibrium (CGE) untuk mengukur dampak risiko global terhadap perekonomian nasional.
Simulasi tersebut memperkirakan lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah berpotensi menekan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebesar 0,21 persen. Ekspor diperkirakan melambat 2,44 persen, sedangkan upah riil turun 0,28 persen. Sebaliknya, inflasi berpotensi meningkat 0,28 persen dan impor melonjak 7,8 persen.
INDEF menilai pemerintah perlu mengantisipasi tekanan tersebut melalui penguatan ketahanan energi, diversifikasi sumber pasokan, serta pengelolaan subsidi yang lebih efektif. Pengembangan energi terbarukan dan peningkatan produksi domestik juga menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar energi global.
Dengan kebijakan yang tepat, Indonesia diharapkan mampu meredam dampak guncangan eksternal sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi, daya beli masyarakat, dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional.//







































