JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Dunia infrastruktur tengah memasuki babak baru. Pembangunan tidak lagi sekadar berorientasi pada penyediaan aset fisik, seperti jalan tol, jaringan energi, transportasi, dan fasilitas publik. Kini, integrasi teknologi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta konektivitas antarsistem menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan pembangunan infrastruktur masa depan.
Perubahan tersebut terungkap dalam laporan terbaru Deloitte bertajuk 2026 Future of Infrastructure Survey. Survei global ini menunjukkan bahwa investasi infrastruktur diperkirakan terus meningkat di berbagai sektor, mulai dari jaringan digital, energi, air, transportasi, hingga infrastruktur sosial. Namun, tantangan terbesar bukan semata-mata meningkatkan investasi, melainkan bagaimana membangun dan mengelola seluruh aset tersebut sebagai satu ekosistem yang terintegrasi.
Survei terhadap 985 pemimpin infrastruktur di 21 negara mengungkapkan, sebanyak 69% responden memperkirakan permintaan terhadap infrastruktur pintar dan saling terhubung akan meningkat. Sementara itu, 45% mengidentifikasi ketergantungan antarsistem sebagai tantangan utama dalam pengembangan infrastruktur global.
Infrastructure Practice Leader Deloitte Consulting LLP, Kelly Marchese, mengatakan, infrastruktur tidak lagi dapat dipandang sebagai kumpulan aset yang berdiri sendiri. Keterhubungan sistem fisik dan digital menuntut perubahan pendekatan dalam perencanaan, pembiayaan, pembangunan, hingga pengamanan infrastruktur.
Di sisi lain, kompleksitas regulasi masih menjadi penghambat utama. Sebanyak 39% pemimpin global menyebut regulasi sebagai tantangan terbesar implementasi proyek. Keterbatasan anggaran juga menjadi persoalan bagi 31% responden. Kondisi ini menuntut model pembiayaan yang lebih fleksibel melalui kolaborasi pemerintah dan swasta.
Pemanfaatan AI turut menjadi perhatian penting. Sebanyak 61% responden telah menggunakan AI untuk pemeliharaan prediktif atau predictive maintenance. Dalam tiga tahun mendatang, 44% berencana memperluas penggunaannya untuk memprediksi kebutuhan energi, sedangkan 40% akan memanfaatkannya dalam pengelolaan logistik rantai pasok.
Keamanan Siber
Namun, transformasi digital juga menghadirkan tantangan baru, terutama keamanan siber dan ketersediaan tenaga ahli teknologi. Sebanyak 60% responden pemerintah menempatkan keamanan siber sebagai prioritas investasi, sementara 56% mengakui cuaca ekstrem sebagai ancaman terbesar terhadap infrastruktur.
Temuan Deloitte tersebut menegaskan bahwa masa depan infrastruktur akan ditentukan oleh kemampuan mengintegrasikan teknologi, tata kelola, pembiayaan, dan sumber daya manusia. Infrastruktur modern bukan hanya dituntut kuat secara fisik, tetapi juga cerdas, adaptif, aman, dan mampu merespons kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan.//









































