www.bisnistoday.co.id
Saturday , 28 January 2023
Home OPINI Gagasan Kenaikan BI Rate Upaya Menjaga Momentum Pertumbuhan
Gagasan

Kenaikan BI Rate Upaya Menjaga Momentum Pertumbuhan

LOGO BANK INDONESIA : Logo Bank indonesia di komplek gedung Bank Indonesia di Jakarta, belum lama ini.
Social Media
Didalam Rapat Dewan Gubernur  Bank Indonesia (BI), Kamis, 17 November 2022 memutuskan kenaikan kembali BI7DRRR sebesar 50 bps menjadi 5,25% dengan diikuti Landing dan Deposit Facility yang kompak naik dengan poin persentase 50 bps merupakan keputusan yang tepat, brilian dan forward looking atau antisipatif. 

Keputusan ini pada dasarnya mengacu kepada tujuan BI untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi sesuai jangkar BI  berkisar 2%-4% lebih cepat tercapai pada paruh pertama tahun 2023 nanti. 

Langkah BI sebagai respon untuk tetap dapat menjaga momentum pertumbuhan pasca Presidensi G20 yang memberikan tambahan optimisme melalui komunike bersama yang dicapai secara konstruktif dan kolaboratif. 

Mempertimbangkan inflasi tahunan (year on year/yoy) per Oktober lalu yang sebesar 5,71% yang berarti masih jauh di atas jangkar inflasi pada level 3% serta ekspektasi inflasi sepanjang 2022 sebesar 5%. Demikian pula stance kebijakan moneter di AS dan Uni Eropa serta Inggris yang ketat (hawkish) untuk melandaikan inflasi menuju sasaran 2%, maka kenaikan BI7DRRR sebesar 50 bps merupakan opsi keputusan yang tepat. 

Ekspektasi Inflasi

Sementara, tekanan inflasi November ini dipicu oleh peningkatan konsumsi kelompok transportasi dan makanan minuman. Dimana efek lanjutan kenaikan harga BBM  pada kenaikan tarif angkutan umum dan harga barang-barang kebutuhan pokok masih ada meskipun dengan tekanan yang berkurang. 

Hal itu tetap dapat meningkatkan ekspektasi inflasi di 2022 yang akan melampaui target yang 2%-4% (versi BI) dan yang 3% (versi pemerintah atau asumsi APBN 2022). 

Jadi pendorong kenaikan BI Rate mutlak karena adanya kenaikan ekspektasi inflasi hingga akhir tahun  ini ditambah potensi kenaikan inflasi musiman di Desember karena aktivitas masyarakat terkait perayaan Natal dan tahun baru. 

Memang ada juga faktor eksternal yang menjadi  faktor tambahan, yaitu konsensus perkiraan kenaikan suku bunga oleh The Fed (FFR) yang agresif sebesar 75 bps pada pertemuan FOMC Desember nanti menjadi 4,75%-5,0% untuk mengerem laju inflasi yang tinggi dari sekarang sekitar 7% di Oktober lalu. 

Takaran Tepat

Dengan demikian ruang bagi BI untuk menahan BI Rate tampaknya tipis sekali. Jadi dengan pertimbangan domestik dan eksternal, RDG BI yang menaikkan BI Rate 50 bps merupakan keputusan tepat dan timely. Besaran kenaikan 50 bps ini pun menjadi ukuran atau takaran yang tepat, melanjutkan kenaikan RDG BI sebelumnya dengan besaran kenaikan yang sama. 

Sekaligus ini memberikan sinyal keputusan tersebut betul-betul hati-hati, pre-emptive dan cenderung masih pro stabilitas (terkait inflasi dan nilai tukar Rupiah) dan tetap pro pertumbuhan (melalui relaksasi kebijakan makroprudensial).

Kalau pun sektor perbankan kemudian akan juga menyesuaikan suku bunga simpanan dan kreditnya, hal ini merupakan respon kebijakan yang lumrah atau wajar sesuai dengan mekanisme pasar. 

Oleh karena itu, dengan menaikkan BI Rate yang terukur dengan besaran hanya 50 bps di tengah momentum pertumbuhan dan indikator utama makroekonomi (leading indicator economic) yang tetap terjaga dengan baik (PDB di Q3-2022 tumbuh tinggi 5,72% dan surplus selama 29 bulan terakhir) diharapkan tidak akan terlalu berdampak kontraktif (menahan atau mengerem) pada pertumbuhan ekonomi. 

Dengan upaya mencapai target inflasi 2-4% di tahun ini, opsi menaikkan BI Rate kali ini sudah tepat dari segi timing dan besaran kenaikannya. 

Ini sekaligus mencerminkan sikap BI yang ahead the curve atau forward looking menyikapi dinamika internal dan eksternal. Kenaikan BI Rate kali ini pun sudah diperkirakan banyak analis dan ekonom serta pelaku pasar sehingga sebenarnya sudah price-in di pasar. 

Pernyataan BI yang akan selalu memantau perkembangan pasar dan perekonomian global dan domestik memberikan garansi bahwa bank sentral selalu ada di pasar dan kebijakannya a head the curve (antisipatif dan preemptive) sehingga tetap mampu menjaga kepercayaan pasar. 

Oleh : Ryan Kiryanto, Ekonom dan Co-Founder & Dewan Pakar Institute of Social, Economics and Digital (ISED)

Archives

Bisnistoday - Inspire Your Business

Pertamina is The Energy

Semangat Bangkit

PT Waskita Karya Tbk

Terserah Kamu

Sorotan Bisnistoday

Bisnistoday - Inspire Your Business

Jasa Marga Raih Emiten Terbaik Dalam Ajang Bisnis Indonesia Award 2022

Related Articles

GagasanOPINI

MenkopUKM Hanya Gertak Sambal Bubarkan Koperasi Abal-Abal

PERNYATAAN Menteri Koperasi Dan UKM, Teten Masduki beberapa waktu lalu soal maraknya...

GagasanHEADLINE NEWSOPINI

Gas Bumi Bernilai Tambah Dalam Transisi Energi

Pemanfaatan gas bumi sebagai jembatan transisi energi dan untuk mendorong pengembangan industri...

GagasanOPINI

Perpanjangan Jabatan Kades Makar Terhadap Konstitusi

Usulan tentang perpanjangan masa jabatan kepala desa menjadi 9 tahun semakin menuai...

GagasanOPINI

Melawan “Welfare State”

PADA 12 Januari 2023 lalu Blok Politik Pelajar (BPP) dan LSM Lokataru...