JAKARTA, Bisnistoday- Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis (26/01) ditutup menguat 18 poin ke posisi Rp14.948 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan hari sebelumnya yang berada di Rp14.965 per dolar AS.
Ada beberapa sentimen penggerak rupiah pada perdagangan hari ini, di antaranya penantian terhadap rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS) dalam waktu dekat.
Data pertumbuhan ekonomi AS kuartal empat akan dirilis malam ini dengan perkiraan tumbuh melambat secara tahunan dibandingkan kuartal sebelumnya.
Pasar juga menantikan pertemuan beberapa bank sentral pekan depan. Bank sentral AS, The Fed akan mengumumkan kebijakan moneternya pada 1 Februari, dengan kemungkinan kenaikan hanya 25 bps. Ini mengindikasikan sikap lebih dovish setelah kenaikan bunga secara agresif selama tahun lalu.
Perhatian pasar juga tertuju pada pertemuan bank sentral Eropa (ECB) pekan depan. Ekspektasi yang berkembang bahwa ECB masih akan hawkish dengan potensi kenaikan 50 bps. Bank sentral Inggris (BoE) juga diramal masih akan menaikkan suku bunga pekan depan. Ibrahim menyebut pencabutan kebijakan zero covid-19 di China akan berefek positif ke ekonomi Indonesia. Ini menjadi kabar baik bagi pergerakan rupiah karena perekonomian domestik makin menggeliat.
Selain itu, optimisme kinerja ekonomi domestik yang bagus juga didukung kebijakan pencabutan PPKM. “Penghapusan PPKM membuat keyakinan masyarakat meningkat. Mobilitas masyarakat meningkat dan konsumsi rumah tangga juga akan membaik. Begitu pula dengan investasi yang diperkirakan mengalami peningkatan,” kata Ibrahim dalam catatannya, Kamis (26/1).
Rupiah pada pagi hari dibuka melemah ke posisi Rp14.973 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp14.941 per dolar AS hingga Rp14.986 per dolar AS.
Sementara itu kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Kamis tergelincir ke posisi Rp14.964 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.958 per dolar AS pada Rabu (25/1)./


