JAKARTA, Bisnistoday.co.id – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai tekanan di pasar saham domestik masih berlanjut setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 2,59% ke level 5.936 pada perdagangan Selasa (13/10)kemarin. Pelemahan ini dipimpin oleh koreksi tajam sejumlah saham konglomerasi, seperti DSSA, BREN, TPIA, dan CUAN.
Sebanyak 11 sektor saham melemah, dengan 632 saham turun dan hanya 118 saham menguat. Meskipun indeks terkoreksi, asing justru mencatatkan net buy sebesar Rp81 miliar di pasar reguler.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai sentimen pasar masih rapuh di tengah risiko konsentrasi indeks, kenaikan harga minyak, dan ketidakpastian terkait pengawasan pasar.
Dari pasar global, bursa saham Amerika Serikat ditutup bervariasi. Dow Jones menguat 0,4%, sedangkan S&P 500 turun 0,1% dan Nasdaq melemah 0,4%. Harga minyak Brent melonjak 1,8% ke USD106,65 per barel seiring intensnya ketegangan geopolitik. Sementara itu, harga emas terkoreksi 0,6%.
Indeks dolar AS (DXY) menguat ke sekitar 102,6, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun terakhir berada di level 5,24% karena pasar obligasi AS libur. Dari dalam negeri, rupiah melemah ke sekitar Rp17.900 per dolar AS.
“Katalis utama yang perlu dicermati ke depannya adalah data inflasi Amerika Serikat pada Rabu dan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada pekan berikutnya. Dalam kondisi tersebut, pendekatan selektif terhadap saham tetap relevan dibandingkan mengambil eksposur secara luas terhadap indeks,” jelas Rully.
Selain kondisi pasar secara keseluruhan, investor juga perlu memperhatikan risiko fundamental dan struktur pembiayaan masing-masing emiten. Salah satu yang menjadi perhatian adalah pembiayaan akuisisi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) oleh kelompok usaha Jhonlin dan implikasinya terhadap risiko kredit PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).
Saham BYAN Jadi Perhatian
Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nurkholis Syafruddin, menerangkan bahwa kemampuan pembayaran utang seharusnya menjadi dasar penilaian kredit, bukan semata-mata nilai aset yang dijaminkan.
“Setelah transaksi, PT Jhonlin Baratama memegang 30,25% saham BYAN. Pada periode tahun buku 2021–2025, BYAN rata-rata membagikan dividen sebesar USD960 juta per tahun, termasuk USD500 juta untuk tahun buku 2025,” ujar Nurkholis.
Berdasarkan porsi kepemilikan tersebut, bagian dividen Jhonlin secara historis berpotensi mencapai sekitar USD290 juta per tahun. Nilai tersebut setara dengan imbal hasil dividen sekitar 20% terhadap asumsi fasilitas pembiayaan sebesar Rp26,1 triliun atau sekitar USD1,45 miliar yang sepenuhnya dibiayai utang. Angka ini jauh di atas asumsi biaya pinjaman sebesar 8%.
“Dengan struktur cicilan selama 7-8 tahun, dividen rata-rata BYAN berpotensi menopang pelunasan pinjaman. Beban bunga tahunan sekitar USD116 juta dapat ditutup 2,5 kali oleh dividen rata-rata lima tahun dan 1,3 kali oleh dividen tahun buku 2025. Sementara itu, cicilan tahunan sebesar USD252-USD279 juta dapat ditutup sekitar 1,04-1,15 kali sehingga pinjaman berpotensi lunas dalam sekitar 6,6 tahun,” jelas Nurkholis.
Kemampuan pembayaran ini turut didukung oleh kinerja operasional BYAN. Pada semester I 2026, perusahaan membukukan laba bersih sebesar USD410 juta, tumbuh 17% secara tahunan, serta memiliki kas sebesar USD934 juta. Struktur pembiayaan, seperti gadai saham BYAN, rekening penampungan dividen dan cadangan pembayaran utang dapat membantu mengelola risiko. Namun, pembayaran tetap bergantung pada arus kas dan siklus batu bara./



















![Polisi antihuru-hara berhadapan dengan siswa SMA saat unjuk rasa di Paris [Yves Herman/Reuters]](https://bisnistoday.co.id/wp-content/uploads/2026/10/Pelajar-prancis-680x533.jpg)






















