JAKARTA, Bisnistoday – Prospek pelonggaran kebijakan moneter Indonesia pada awal 2026 dinilai semakin terbatas seiring tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang masih tinggi. Analis Senior dari PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai kondisi ini membuat premi risiko aset rupiah tetap tinggi dan peluang pemangkasan suku bunga acuan dalam waktu dekat kian terbatas.
Menurut Rully, otoritas moneter cenderung mempertahankan suku bunga di level saat ini sambil mengandalkan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas kurs. Sejak awal tahun, rupiah telah melemah sekitar 1,2% year-to-date, berbanding terbalik dengan mata uang regional seperti ringgit Malaysia dan peso Filipina yang justru menguat.
Situasi tersebut ikut menahan potensi penguatan valuasi pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat turun sekitar 0,4% ke level 8.274 pada perdagangan terakhir, mencerminkan dominasi sentimen risk-off jangka pendek. Arus jual bersih investor asing pun masih berlanjut, terutama pada saham kapitalisasi besar sektor perbankan dan komoditas.
Stabilitas Nilai Tukar Rupiah
Sementara itu, analis Mirae lainnya, Jessica Tasijawa, menilai keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga di 4,75% selama lima pertemuan berturut-turut memang sudah sesuai ekspektasi pasar. Kebijakan ini menunjukkan fokus bank sentral pada stabilitas nilai tukar di tengah rupiah yang masih tertekan, termasuk penurunan bulanan sekitar 0,6% ke level Rp16.880 per dolar AS.
Jessica menambahkan, transmisi pelonggaran moneter masih lemah. Walau suku bunga kebijakan telah turun kumulatif 125 basis poin sejak 2025, suku bunga deposito dan pinjaman hanya turun masing-masing sekitar 60 bps dan 40 bps.
Dari sisi global, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi ketidakpastian kebijakan tarif dari Donald Trump yang memicu volatilitas pasar dan meningkatkan permintaan aset safe haven seperti emas, yang naik hampir 14% sejak awal tahun. Di dalam negeri, sentimen investor turut tertekan oleh kekhawatiran terkait kebijakan dan tata kelola, tercermin dari kenaikan premi risiko kredit Indonesia (CDS 5-tahun) di atas level 80.
Meski demikian, data perbankan menunjukkan sisi positif. Pertumbuhan dana pihak ketiga dan kredit masing-masing mencapai 13,5% dan 9,96% secara tahunan. Bank sentral pun menegaskan komitmennya mempercepat penyaluran kredit melalui program pelonggaran makroprudensial untuk mendorong pembiayaan, khususnya di sektor konsumsi dan UMKM.
Ke depan, analis memperkirakan ruang penurunan suku bunga tahun ini tetap terbatas, terutama pada paruh pertama 2026, karena tekanan nilai tukar dan risiko inflasi. Faktor eksternal, termasuk perbedaan pandangan di kalangan pejabat Federal Reserve, juga diperkirakan terus menjaga volatilitas global.
Dengan kondisi tersebut, arah pasar ke depan dinilai akan lebih banyak ditentukan oleh efektivitas stimulus fiskal pemerintah dalam menjaga pertumbuhan laba emiten di tengah likuiditas global yang masih ketat./



