JAKARTA, Bisnistoday – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (25/03) ditutup menguat 27,60 poin ke posidi 7.377,75. Sementara indeks LQ45 naik 5,16 poin ke posisi 1.001,90.
Tim Riset Phillip Sekuritas Indonesia dalam kajiannya di Jakarta, Senin (25/03) menyebutkan, perdagangan pekan ini, investor akan memantau rilis data Inflasi dari sejumlah negara di dunia, terutama Amerika Serikat (AS).
Data Personal Consumption Expenditure (PCE) Price Index dari AS, sebagai indikator favorit The Fed untuk mengukur inflasi di AS dijadwalkan akan dirilis pada Jumat (29/03), dan diperkirakan akan memperlihatkan laju kenaikan harga-harga yang masih cukup tinggi pada Februari 2024.
PCE Price Index diprediksi akan tumbuh 0,4 persen month to month (mtm) pada Februari 2024, atau lebih cepat dari laju kenaikan 0,3 persen (mtm) pada bulan sebelumnya.
Sebaliknya, Core PCE Price Index diprediksi akan naik 0,3 persen (mtm) pada Februari 2024, atau melambat dari 0,4 persen (mtm) pada bulan sebelumnya.
Di sisi lain, prospek tercapainya gencatan senjata di jalur Gaza, berpotensi membuat pasokan minyak mentah dapat bergerak lebih leluasa secara global, sehingga memberi tekanan atas harga sementara perang di Eropa dan penyusutan jumlah rig pemboran migas di AS menahan kejatuhan harga.
Dibuka melemah, IHSG betah di teritori negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG bergerak ke zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, empat sektor meningkat yaitu dipimpin sektor keuangan yang naik sebesar 1,05 persen, diikuti sektor barang baku dan sektor barang konsumen primer yang masing-masing naik 0,94 persen dan 0,51 persen.
Tujuh sektor terkoreksi dimana sektor transportasi & logistik turun paling dalam minus 0,62 persen, diikuti sektor teknologi dan sektor infrastruktur yang masing-masing minus 0,57 persen dan 0,47 persen.
Baca juga: Pasar Sambut Positif Penetapan Prabowo-Gibran sebagai Pemenang Pemilu, IHSG Menguat
Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu SLIS, GPSO, UNIQ, PNLF dan PNIN. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni BUAH, TOSK, PTMP, IRRA, dan AEGS.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 988.212 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 15,34 miliar lembar saham senilai Rp11,38 triliun. Sebanyak 247 saham naik, 334 saham menurun, dan 193 tidak bergerak nilainya.
Rupiah Melemah
Di pasar uang, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di akhir perdagangan Senin melemah menjadi Rp15.800 per dolar AS dipengaruhi data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang solid. Kurs rupiah ditutup melemah 17 poin atau 0,10 persen menjadi Rp15.800 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp15.783 per dolar AS.
“Data-data perekonomian dan tenaga kerja AS yang rilis Jumat, minggu kemarin masih menunjukkan penguatan,” kata analis Bank Woori Saudara Rully Nova seperti dikutif Antara.
Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur AS menguat ke level 52,5. Proyeksi pertumbuhan ekonomi AS dari bank sentral AS atau The Fed naik 2,4 persen. Sementara data klaim pengangguran AS turun menjadi 210 ribu.
Meskipun Federal Reserve atau The Fed mempertahankan kebijakan moneter tak berubah seperti yang diharapkan, mereka condong sedikit dovish karena pernyataan tersebut mengatakan ekonomi Amerika Serikat (AS) tumbuh dan inflasi telah mereda, tetapi masih tinggi.
Pernyataan dovish itu berbunyi takkan ada penurunan suku bunga sampai The Fed lebih yakin inflasi telah dikendalikan. Namun demikian, pernyataan dari The Fed melihat adanya tiga kali penurunan suku bunga pada tahun ini yang lebih menjadi fokus pelaku pasar.
Dari domestik, adanya gugatan pemilu di Mahkamah Konstitusi memberikan ketidakpastian politik dalam negeri. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Senin merosot ke level Rp15.795 per dolar AS dari sebelumnya Rp15.773 per dolar AS./





































