JAKARTA, Bisnistoday – Investor sampai saat ini masih mempertanyakan mengenai kapan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali pulih. Secara historis, IHSG kerap menunjukkan pola pemulihan berbentuk V-shaped recovery setelah mengalami penurunan tajam dalam dua dekade terakhir. Samuel Sekuritas Indonesia menilai, pergerakan IHSG lebih sensitive terhadap isu nilai tukar rupiah dan yield obligasi.
“Pertanyaan utama investor saat ini adalah kapan IHSG bisa kembali rebound. Jika melihat sejarah, IHSG beberapa kali menunjukkan pemulihan berbentuk V setelah mengalami penurunan tajam. Namun, pemulihan tersebut membutuhkan prasyarat yang jelas, terutama dari arah rupiah dan suku bunga,” ujar Tae Yong Shim, Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama dalam Media Connect Samuel Sekuritas Indonesia di Jakarta, Jumat (4/9).
Tae Yong Shim menjelaskan bahwa dua faktor penting yang perlu diperhatikan untuk mendukung pemulihan pasar adalah USD/IDR dan suku bunga. Dalam paparan Samuel Tumbuh Bersama, nilai tukar rupiah dan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun memiliki korelasi negatif yang kuat terhadap IHSG. Dengan kata lain, pelemahan rupiah dan kenaikan yield cenderung menekan pasar saham, sementara stabilisasi keduanya dapat membuka ruang bagi pemulihan.
Menurut Shim, tekanan rupiah diperkirakan telah mencapai puncaknya pada semester pertama 2026. Berdasarkan konsensus Bloomberg yang dikutip dalam materi Samuel Tumbuh Bersama, rupiah diperkirakan menguat hingga 2028. Dalam paparan tersebut, USD/IDR sempat menyentuh Rp18.187 per dolar AS pada 8 Juni 2026, sebelum bergerak lebih stabil. Apabila tekanan rupiah mereda, pasar berpotensi mulai memperhitungkan ekspektasi kenaikan suku bunga yang lebih rendah.
“Jika pelemahan rupiah sudah melewati titik terburuknya, maka alasan untuk mempertahankan suku bunga pada level tinggi juga menjadi semakin lemah. Ini penting bagi pasar, karena rupiah dan suku bunga merupakan dua prasyarat utama untuk membuka jalan pemulihan IHSG,” ujar Shim.
Suku Bunga Bertahan
Dari sisi suku bunga, menurut Shim, pasar juga mulai memperkirakan bahwa Bank Indonesia tidak akan melanjutkan kenaikan suku bunga hingga kuartal IV 2026 dan bahkan hingga 2027. Samuel Tumbuh Bersama menilai proyeksi tersebut akan sangat bergantung pada arah rupiah. Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun yang berada di sekitar 7% dinilai masih setara dengan negara-negara berperingkat BBB, namun secara teoritis dapat berada di kisaran 6% apabila mempertimbangkan tingkat inflasi dari negara pembanding.
Shim juga menyoroti bahwa likuiditas domestik masih menjadi faktor pendukung penting. Dalam materi Samuel Tumbuh Bersama, uang beredar M2 Indonesia tercatat sebesar Rp10.371 triliun, tumbuh 8% YoY, yang mengindikasikan masih besarnya dana yang dapat bergerak ke pasar ketika kepercayaan investor membaik.
Selain itu, jumlah investor pasar modal telah melampaui 30 juta investor, sementara manajer investasi institusional dan Danantara dinilai siap masuk ke pasar apabila sinyal bottoming semakin jelas. “Kami melihat investor masih memiliki likuiditas yang cukup besar. Ketika sentimen mulai berbalik dan dana mulai bergerak kembali ke pasar saham, pergerakan harga dapat berlangsung cukup cepat,” ujar Shim.
Dana Asing Membaik
Shim mengatakan, arus dana asing juga mulai menunjukkan tanda perbaikan. Sejak Juni 2026, investor asing mulai kembali membeli obligasi dan saham Indonesia. Samuel Tumbuh Bersama menilai pelemahan dolar AS dapat mendorong rotasi dana ke aset emerging market, termasuk Indonesia. Meski Indonesia masih menjadi salah satu pasar dengan kinerja terlemah secara year-to-date, IHSG tercatat menjadi salah satu yang terbaik pada periode 2H26 berjalan, didukung oleh pelemahan dolar AS dan meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Indonesia.
Dari sisi valuasi, Samuel Tumbuh Bersama menilai pasar saham Indonesia mulai menawarkan peluang yang lebih menarik. IHSG memiliki trailing P/E sekitar 14,2 kali, mendekati level terendah 10 tahun di 12,5 kali dan berada di bawah rata-rata 10 tahun sekitar 20,6 kali. Dengan valuasi yang lebih rendah dan proyeksi laba korporasi yang masih kuat, Samuel Tumbuh Bersama melihat risiko kenaikan pasar mulai lebih besar dibandingkan risiko penurunan.
“Valuasi pasar saat ini sudah berada di level yang lebih menarik, sementara fundamental korporasi Indonesia masih solid. Dengan rupiah yang lebih stabil, ekspektasi suku bunga yang mereda, likuiditas domestik yang besar, dan asing mulai kembali masuk, kami melihat peluang pemulihan pasar semakin terbuka,” ujar Shim.//








































