JAKARTA, Bisnistoday – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengaku, kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) selama tahun 2024 relatif berjalan baik. Kendati pada semester I-2024 diwarnai dengan dinamika politik pilpres, serta mulai menanjak pada Agustus hingga akhir tahun 2024.
“APBN, Alhamdulillah 2024 kita tutup dengan jauh lebih baik dari apa yang kami laporkan pada semester pertama di DPR dan di Kabinet,” kata Sri Mulyani di Gedung BEI (Bursa Efek Indonesia) pembukaan perdagangan perdana, di Jakarta, Kamis (2/1).
Pada akhir tahun 2024, lanjut Sri Mulyani, penerimaan negara tercatat masih tumbuh dibandingkan tahun lalu. Meski pertumbuhannya tidak tinggi, tapi cukup decent untuk situasi yang begitu tidak mudah.“Tumbuh dari tahun lalu. Meskipun tidak tercapai target karena target 2024 waktu itu dibuat cukup tinggi,”tuturnya.
Sementara itu, belanja negara pada 2024 melalui APBN juga cukup besar antara lain belanja untuk pemilu, pilkada, pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), hingga tambahan bantuan-bantuan sosial dalam rangka menangani El Nino, termasuk belanja untuk ketahanan pangan seperti pupuk dan pompa air.
“Namun saya sampaikan, defisit APBN 2024 mendekati Undang-undang APBN awal. Ini adalah hasil yang luar biasa. jauh lebih kecil dari laporan semester yang waktu itu diprediksikan 2,7 persen, jauh lebih kecil,” ujar Sri Mulyani.
Dukungan Pasar Modal
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar mengutarakan, bahwa kondisi pasar modal memperlihatkan resilient ditengah tekanan pasar global. Ia mengatakan, kinerja IHSG cukup baik, ditutup 31 Desember 2024 pada level 7.079, 91 atau turun 2,6% dibanding tahun lalu.
Meski begitu, katanya, level terendah diatas tahun lalu pada posisi 6.726 pada Juni 2024 dan sekaligus memperlihatkan volatilitas besar. Kemudian juga, nilai kapitalisasi pasar tercatat Rp12,3 ribu triliun, atau tumbuh 5% setara dengan 56% dari PDB nasional.
Mahendra menuturkan, perlunya penguatan ekosistem pasar modal atau terus meningkat dan efektif. Tahun 2025, di industri pasar modal mengimplementasikan program strategis, melalui pendalaman pasar. “Perluya meningkatkan kuantitas dan kualitas untuk perusahaan tercatat. Dengan jalan mendorong perusahaan kapitalisasi besar masuk ke bursa.”/ant/










































