www.bisnistoday.co.id
Kamis , 24 September 2026
Home EKONOMI Energi Pengamat Soroti Lambanya Pengembangan Energi Terbarukan
Energi

Pengamat Soroti Lambanya Pengembangan Energi Terbarukan

Energi Terbarukan
ENERGI TERBARUKAN Solar PV./
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Pengamat kebijakan energi, menyoroti lambannya pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia. Narasi lingkungan yang dominan dinilai kurang efektif karena kesadaran masyarakat yang masih rendah.

“Jika narasinya diubah menjadi pertumbuhan ekonomi dan kemandirian bangsa, hasilnya akan lebih besar,” ujar Wijayanto Samirin, Ekonom Universitas Paramadina, Ia menyoroti lemahnya posisi EBT dalam dokumen strategis negara seperti RPJMN dan RPJPN, serta menilai target-target seperti COP21 dan JETP terlalu ambisius tanpa peta jalan yang realistis.

Hal ini diungkapkan WIjayanto Samirin saat diskusi publik bertajuk “Mengelola Transisi Energi: Mengapa Indonesia Selalu Tertinggal?” di Auditorium Benny Subianto, Universitas Paramadina Trinity Tower Lt. 45, belum lama ini.

Diskusi hybrid ini dipandu oleh Sudirman Said, mantan Menteri ESDM sekaligus Ketua Institut Harkat Negeri. Didalam diskusi ini, Institut Harkat Negeri bekerja sama dengan Paramadina Public Policy Institute dan Universitas Paramadina.

Dalam diskusi, Eniya Listiani Dewi, Dirjen EBTKE, menegaskan pentingnya transisi energi untuk mencapai ketahanan nasional dan pertumbuhan ekonomi. “Untuk pertama kalinya, RUPTL dan RUKN memasukkan hidrogen dan amoniak dalam bauran energi nasional,” ujarnya.

Namun ia mengakui tantangan besar, terutama dalam konsumsi listrik per kapita yang masih rendah dan ketimpangan pasokan listrik di beberapa wilayah, seperti Sulawesi dan Jawa yang kini berada di status “lampu kuning”.

Energi Adil dan Adaptif

Bhima Yudhistira, Direktur CELIOS, menekankan pentingnya pendekatan energi yang lebih adil dan partisipatif. Ia mengungkapkan bahwa masih banyak daerah mengalami kemiskinan energi meski rasio elektrifikasi tinggi.

“Energi seharusnya dipandang sebagai hak dasar, bukan sekadar produk teknis yang dikuasai oleh segelintir akademisi atau konsultan mahal” tegasnya. Ia juga mengkritik monopoli PLN dan ketidakkonsistenan kebijakan energi nasional, termasuk ironi ekspor-impor batubara dan nikel yang tidak mendukung kemandirian energi.

Paul Patar Butarbutar, Direktur PT JJB Sustainergy, menyoroti tantangan dalam implementasi Just Energy Transition Partnership (JETP). Ia menyebut target dekarbonisasi akan sulit dicapai tanpa pendanaan memadai dan kepastian kebijakan.

“Kita hanya bisa bergerak sesuai dengan dana yang tersedia, yaitu sekitar 2,56 miliar dolar AS. Jumlah ini sangat terbatas jika melihat biaya pembangunan PLTU dan pembangkit EBT, termasuk jaringan transmisinya” jelasnya.

Paul mendorong insentif fiskal yang setara untuk EBT dan menekankan pentingnya regulasi karbon serta kejelasan PPA yang bankable.//

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Pameran listrik
Energi

Enlit Asia dan MKI Electricity Connect 2026 Perkuat Kolaborasi Menuju Ketahanan Energi ASEAN

JAKARTA, Bisnistoday – Enlit Asia dan MKI Electricity Connect 2026 resmi dibuka...

Energi

JTB Zona 12 Bidik Proper Hijau, Perkuat Budaya HSSE Sejak Tahap Konstruksi hingga Operasi

BOJONEGORO, Bisnistoday - Komitmen terhadap aspek keselamatan, keamanan dan lingkungan menjadi fondasi...

PLN Icon Plus
Energi

GI Jampang Kulon Beroperasi Lagi, Potensi Ekonomi Selatan Sukabumi Kian Terbuka

BANDUNG, Bisnistoday - Kembali beroperasinya Gardu Induk (GI) Jampang Kulon 150 kV...

Energi

Pengamat Ungkap Strategi Percepat Transisi Energi Indonesia: PLTS hingga Smart Grid

BANDUNG, Bisnistoday - Percepatan transisi energi menjadi salah satu tantangan penting dalam...