JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Partai Demokrat berhasil menang telak dalam pemili paruh waktu di Amerika Serikat. Sejauh ini mereka menguasai 240 kursi di DPR AS dan 54 kursi di Senat AS, sekaligus merebut kendali atas kedua kamar Kongres dari Partai Republik.
Pertanyaannya, bagaimana hasil pemilu ini dapat memengaruhi kebijakan luar negeri AS di Asia? Menurut Brendon O’Connor, profesor politik dan hubungan luar negeri AS di University of Sydney, kebijakan luar negeri AS kemungkinan besar akan kembali ke “landasan yang lebih familier dengan sekutu-sekutunya” di Asia.
“Menurut saya, hal ini akan mengarah pada politik yang lebih bersifat status quo, sesuatu yang sebenarnya sudah lebih familier bagi kita, mungkin sejak berakhirnya Perang Korea,” ujarnya kepada Al Jazeera.
“Bagi Jepang dan Korea Selatan, ini bisa menjadi semacam jaminan bahwa pendekatan Presiden Donald Trump yang lebih tidak menentu, tidak akan lagi menjadi poros utama dalam hubungan di Asia Timur Laut,” katanya.
Namun, ia memperkirakan akan ada pandangan yang sedikit lebih kritis terhadap Tiongkok, terutama isu mengenai apakah Washington harus berbagi cip teknologi tercanggihnya dengan Beijing bisa muncul kembali.
“Trump selama ini bersikap jauh lebih santai terhadap Tiongkok. Ia sempat diyakinkan oleh Jensen Huang dari Nvidia bahwa menjual teknologi tingkat tinggi ke Tiongkok adalah hal yang tidak masalah,” ujar O’Connor.
Tanggapan Korsel
Sementara itu, Kementerian Keuangan Korea Selatan menyatakan bahwa pihaknya akan memantau dengan cermat perubahan kebijakan dan regulasi terkait kecerdasan buatan (AI) di Amerika Serikat setelah pemilihan umum paruh waktu (midterm elections).
Dalam sebuah pernyataan yang dirilis setelah pertemuan antara Wakil Menteri Keuangan Lee Hyoung-il dengan para pembuat kebijakan ekonomi utama negara tersebut pada Kamis (5/11/2026), kementerian itu menyebutkan bahwa pemerintah juga akan memantau perubahan kebijakan tarif AS serta perkembangan konflik di Timur Tengah.
Pihak Korsel juga berkomitmen untuk melakukan persiapan matang guna mengantisipasi kemungkinan meningkatnya volatilitas di pasar keuangan, serta berupaya menjaga pertumbuhan ekonomi yang stabil dengan merespons perubahan kondisi eksternal.//






































