www.bisnistoday.co.id
Selasa , 1 September 2026
Home OPINI Gagasan Mengenang Enny Sri Hartati
GagasanOPINI

Mengenang Enny Sri Hartati

Enny Sri Hartati
Social Media

Enny panggilan akrabnya memang mengukuhkan karirnya sebagai ekonom sejak muda. Asal muasal semangatnya meniti karir dalam bidang ekonomi tersebut bermula sejak masa mahasiswa, yang menjadi redaksi majalah Eden, majalah mahasiswa kampus Universitas Diponegoro.

Melalui majalah mahasiswa Eden ini, Enny mengenal INDEF dan setelah lulus menceburkan diri sebagai peneliti INDEF, menjadi direktur selama hampir satu dekade dan kemudian menjadi peneliti senior. Hampir seluruh karirnya memang diniatkan untuk menjadi ekonomi, yang kritis di dalam wadah lembaga pemikir INDEF.

Memang pada saat yang sama Enny menjadi dosen tetap di Universitas Trisakti.Tetapi kegiatan mengajarnya dihentikan demi untuk mengembangkan diri di INDEF bersama rekan-rekannya, sekaligus membangun INDEF itu sendiri menjadi lebih besar.

Pada akhir 1990-an ketika INDEF baru berdiri, Enny mengidolakan Faisal Basri, ekonom pendiri Indef yang sudah dikenal luas sebagai dosen UI dan sebagai ekonom nasional.

Dari Semarang Enny datang ke Jakarta untuk menemui Faisal Basri, sekaligus melakukan wawancara untuk majalahnya. INDEF baru berumur 2 tahun ketika itu dan pindah kantor dari Jalan Kartanegara, yang elit, ke jalan Wijayakarta, lokasi suatu perumahan di sekitar Jalan Tendean. Di kantor inilah Enny terus menerus berhubungan dengan INDEF, menekuni riset-riset bidang ekonomi, dan lambat laun dikenal secara nasional sebagai ekonom nasional karena banyak menyampaikan pemikirannya di ruang publik.

Sebagai ekonom, Enny menuliskan pemikirannya di berbagai media. Dan sebagai ekonom nasional, Enny dipilih oleh harian Kompas sebagai ekonomi, yang rutin menuliskan analisa-analisa tentang perkembangan ekonomi terkini. Hanya beberapa ekonom saja yang dipilih harian ini untuk menjadi kolumnis dan analis tetapnya di halaman depan. Hal itu merupakan penghargaan yang tinggi dan pengakuan terhadap kepakaran Enny.

Regenerasi INDEF sempat terhambat dari generasi pertama ke generasi berikutnya. Masalah hambatan regenerasi ini selalu terjadi di lembaga think tank bukan pemerintah. Sudah belasan atau bahkan puluhan lembaga think tank yang tutup tidak melakukan aktivitasnya karena gagal dalam menjalankan regenerasi.Tetapi INDEF terus berkembang semakin maju karena peranan Enny, yang memimpin INDEF selama satu dekade.

Enny adalah transmisi regenerasi di Indef sampai INDEF sendiri berkembang sampai seperti sekarang ini. Puluhan ekonom bergabung di INDEF melakukan kegiatan riset dan akademik, sembari memainkan peranan kritis terhadap kebijakan-kebijakan ekonomi. Banyak Enny-Enny yang lain akan menggantikan peranannya, yang datang dari generasi di bawahnya.

Tidak hanya keluarganya dan keluarga besar INDEF yang kehilangan, tetapi juga para ekonom, wartawan dan kerabat akademis merasa sangat kehilangan atas kepergian ekonom Enny Sri Hartati.

Sebenarnya, Enny terlalu muda untuk pergi, tetapi takdir dan ketentuan Allah swt tetap berlaku, tidak dapat dihentikan. Bagi kami, proses dan langkah kepergian itu terjadi begitu cepat. Semua tidak menduga karena 2-3 hari sebelumnya Enny masih semangat menyampaikan pandangan dan pemikirannya di media massa, media daring dan berbagai forum lainnya.

Dua hari lalu, Rabu 30 Juni 2021 Enny dibawa ke rumah sakit dengan saturasi sangat rendah 70, Ibu Hendri dan kawan-kawan berkeliling mencari rumah sakit di Jakarta penuh. Akhirnya bisa mendapatkan tempat di Rumah Sakit Islam Pondok Kopi Jakarta. Tetapi oksigen tidak ada dan harus mencari di tempat lain dan akhirnya didapat dari pak Saleh Husin, mantan Menperin.

Dengan oksigen kuat dari terapi Dr Slamet Budiarto, akhirnya naik menjadi 92. Hari kamis 1 Juni 2021 dini hari sekitar pukul 01.41 malam, Enny berkomunikasi dengan rekan-rekannya di INDEF dan sempai mengirim WA kepada Faisal Basri mengabarkan kondisinya drop jatuh ke saturasi 77. Masa kritis belum berhasil dilewati, akhirnya Enny pergi karena takdir Allah swt./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Ustadz Das'ad
Gagasan

Meneladani Rasulullah Disaat Riuh Digitalisasi

JAKARTA, Bisnistoday- Di tengah kehidupan yang semakin cepat, tuntutan gaya hidup yang...

Bencana Banjir Bandang dan Longsor di Nepal, 26 Agustus 2026 (Dok: NDTV)
Gagasan

Ketika Alam Mulai Kehilangan Daya Tahannya

SEJUMLAH  kengerian demi kengerian terjadi di berbagai belahan dunia: badai, kebakaran hutan,...

Saiful Chaniago
Gagasan

Gas sebagai Jembatan Energi Indonesia

MENJAGA lampu tetap menyala bukan sekadar perkara menekan sakelar. Di baliknya terdapat...

Patung Kota Jakarta
Gagasan

Mengurai Benang Kusut Jakarta: Saatnya Fakta dan Data Berbicara

MEMBAHAS Kota Jakarta tidak pernah kekurangan persoalan. Dari urusan bantuan sosial, transportasi...