www.bisnistoday.co.id
Sabtu , 24 Oktober 2026
Home OPINI Gagasan Memaknai Berita Cuaca
GagasanLingkungan

Memaknai Berita Cuaca

Cuaca ekstrem sering dikonsumsi sebagai hiburan daripada dipahami sebagai peringatan.

Banjir di Inggris (Ilustrasi: Unsplash/Chris Gallagher)
Banjir di Inggris (Ilustrasi: Unsplash/Chris Gallagher)
Social Media

BEBERAPA hari lalu, derasnya banjir bandang melintas di beranda media sosial saya. Meski peristiwa itu terjadi di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, yang jaraknya beribu kilometer dari tempat tinggal saya, kengerian yang dihadirkan tampak nyata. Saya membayangkan bagaimana jika kejadian itu terjadi di tempat tinggal saya.

Rasa penasaran menuntun saya untuk terus berselancar dan algoritma lantas menghadirkan kengerian serupa dari belahan dunia lain; angin yang bertiup sangat kencang, tornado, hingga jilatan api yang melahap lahan dan permukiman. Sumber dari tayangan itupun beragam, baik dari media arus utama, pembuat konten, maupun warga biasa.

Di antara gambar-gambar visual itu, beberapa di antaranya disertai narasi dan musik yang mencekam. Tujuannya mungkin untuk menarik perhatian. Namun, di kolom komentar, reaksi warganet tidak semuanya sama. Sebagian bahkan menganggapnya sebagai lelucon atau menuduhnya itu buatan akal imitasi alias AI.

Bagi saya, realitas ini sangat mengkhawatirkan karena peristiwa cuaca yang semakin sering dihubungkan dengan perubahan iklim, justru diabaikan. Jangankan sistem peringatan dini cuaca yang tiap hari disampaikan BMKG, peristiwa yang jelas telah terjadi saja, kadang cuma dijadikan bahan candaan. Media dan pembuat konten juga lebih tertarik menayangkan peristiwanya, bukan mengedukasi tentang persoalan ekologis yang melahirkan bencana.

Realitas ini mungkin menjadi salah satu tantangan komunikasi terbesar di abad ini. Meski banjir, gelombang panas, dan badai semakin sering terjadi, belum tentu membuat warga menjadi lebih peduli. Sebaliknya, cuaca ekstrem sering dikonsumsi sebagai hiburan daripada dipahami sebagai peringatan.

Ekosistem informasi

Masalahnya bukan lagi hanya tentang kurangnya informasi, tapi tentang bagaimana budaya membentuk informasi apa yang dianggap bermakna oleh masyarakat. Informasi kini melimpah dan mudah diakses, tidak secara otomatis menghasilkan kesadaran publik yang lebih besar.

Persoalannya mungkin terletak pada perubahan ekosistem informasi. Platform media sosial yang menuhankan kecepatan, kebaruan, dan sensasi, membuat konten kreator, termasuk media arus utama, bersaing untuk mendapatkan klik dan viralitas.

Dalam ekosistem seperti ini, berita peringatan cuaca mesti bersaing dengan berita emak-emak yang joget berjamaah, orang yang berkelahi hanya gara-gara senggolan motor, gosip selebritas, serta berita viral lainnya yang nggak penting, seperti tawuran.

Stuart Hall, filsuf Inggris, pernah bilang, pesan media dikodekan dengan makna tertentu tetapi diinterpretasikan secara berbeda tergantung pada pengalaman sosial audiens. Jika terus dijejali hal remeh-temeh semacam ini, nggak heran jika iklim yang berubah, cuaca yang semakin panas, tidak menjadi perhatian publik. Ia baru akan menarik jika telah berubah menjadi bencana. Itu pun sebatas menghasilkan video dramatis, alih-alih pengingat akan perubahan iklim. Akibatnya, video ular yang melintas di tengah banjir  lebih viral daripada penjelasan rinci BMKG tentang kondisi cuaca esok hari.

Ini juga mungkin tantangan bagi BMKG dan juga media arus utama. Perubahan iklim dan dampaknya seringkali dikomunikasikan melalui statistik dan terminologi teknis, bukan diterjemahkan ke dalam bentuk yang bermakna secara budaya. Komunikasi yang efektif saat ini membutuhkan lebih dari sekadar data. Hal ini menuntut penceritaan, literasi visual, dan kolaborasi dengan tokoh publik, seniman, atau aktivis lingkungan yang dapat menjembatani keahlian ilmiah dan pengalaman sehari-hari.

Peringatan tentang cuaca harus jadi percakapan publik dengan bahasa yang sederhana, bukan informasi yang terlalu teknis ala pemerintah.  Almarhum Gombloh dengan sangat baik menyampaikan hal semacam ini melalui Berita Cuaca yang diciptakan dan dilantunkannya, beberapa dekade lalu. Pesan dalam lagu itu sangat bermakna, mengena, dan masih relevan hingga hari ini .//

oleh Adiyanto, wartawan Bisnis Today

Arsip

Beritasatu Network




BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Lingkungan

Karhutla di Ketapang Masih Jadi Sorotan, Natur Gondowangi dan Rumah Zakat Salurkan Bantuan di Pontianak

PONTIANAK , Bisnistoday.co.id,– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat masih...

Lingkungan

700 Delegasi dari 25 Negara Beradu Gagasan di Asia World Model United Nations XV

Bali, Bisnistoday.co.id— Asia World Model United Nations (AWMUN) XV kembali mempertemukan ratusan...

IHSG Anjlok
Gagasan

Pasar Modal Bisa Runtuh Ketika Kepercayaan Punah

JAKARTA, Bisnistoday.co.id - Pasar modal bukan sekadar tempat bertemunya penjual dan pembeli...

Lingkungan

Bali Dorong Transisi Nusa Penida Menuju 100% Energi Terbarukan Melalui “Satu Hari Energi Bersih 2026”

SANUR,Bisnistoday.co.id – Dalam mendukung agenda Bali Net Zero Emission (NZE) 2045 dan...