www.bisnistoday.co.id
Senin , 31 Agustus 2026
Home OPINI Profile Sosok Gus Kikin, Ulama Pengusaha di Pusaran Kepemimpinan Baru PBNU
Profile

Sosok Gus Kikin, Ulama Pengusaha di Pusaran Kepemimpinan Baru PBNU

Gus Kikin
KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin menjadi salah satu sosok penting dalam dinamika kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU)./
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Nama KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin menjadi salah satu sosok penting dalam dinamika kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU). Lahir di Jombang, 17 Agustus 1958, Gus Kikin datang dari lingkungan keluarga pesantren yang memiliki akar kuat dalam tradisi keulamaan NU.

Ia merupakan putra KH Mahfudz Anwar, pendiri Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang, dan Nyai Hj Abidah Ma’shum. Dari garis ibunya, Gus Kikin merupakan cicit Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU sekaligus pendiri Pondok Pesantren Tebuireng. Sementara dari garis ayah, ia merupakan keturunan KH Anwar Alwi, pendiri Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyi’in Paculgowang, Jombang.

Latar belakang tersebut membuat perjalanan Gus Kikin tidak dapat dilepaskan dari tradisi pesantren dan sejarah panjang NU. Namun, jalur hidupnya tidak semata-mata berlangsung di lingkungan pesantren.

Setelah menyelesaikan pendidikan formal hingga Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta, Gus Kikin sempat menempuh dunia profesional. Ia kemudian menyelesaikan pendidikan S1 Ilmu Komunikasi di Universitas Terbuka. Pengalaman pendidikannya juga dilengkapi dengan pendidikan pesantren di Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang dan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak Jombang.

Pengalaman di luar pesantren menjadi warna tersendiri dalam perjalanan hidupnya. Selepas STIP, Gus Kikin bekerja di Djakarta Lloyd dan pernah memimpin cabang perusahaan tersebut di Cilegon. Tahun 1998 menjadi titik penting ketika ia mendirikan lima perusahaan di Surabaya.

Bisnis yang dibangunnya kemudian berkembang menjadi 22 perusahaan yang bergerak di berbagai sektor, mulai transportasi laut, pelayaran, kontraktor migas, teknologi informasi hingga media televisi. Pengalaman tersebut membuat Gus Kikin dikenal sebagai sosok “ulama pengusaha”, seorang tokoh pesantren yang juga memiliki kemandirian ekonomi.

Dari Tebuireng ke Panggung NU

Di lingkungan pesantren, Gus Kikin kemudian dipercaya meneruskan estafet kepemimpinan Pondok Pesantren Tebuireng setelah wafatnya KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah. Tebuireng sendiri memiliki posisi historis yang sangat penting karena didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari, salah satu pendiri NU.

Karier organisasinya semakin menonjol ketika Gus Kikin dipercaya memimpin PWNU Jawa Timur. Ia sebelumnya ditunjuk sebagai Penjabat Ketua PWNU Jawa Timur pada Januari 2024. Dalam Konferwil XVIII NU Jawa Timur pada 3 Agustus 2024 di Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng, ia kemudian terpilih sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur periode 2024–2029 dengan memperoleh 38 dari 43 suara PCNU. Ia juga pernah menjadi pengurus PBNU pada periode sebelumnya.

Pengalaman mengelola pesantren, organisasi NU dan dunia usaha menjadi kombinasi yang membentuk karakter kepemimpinannya. Gus Kikin dikenal membawa gagasan tentang pentingnya mengembalikan NU kepada Qanun Asasi, pedoman yang dirumuskan KH Hasyim Asy’ari.

Baginya, organisasi sebesar NU membutuhkan tata kelola yang teduh dengan memperkuat ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah nahdliyah. Persatuan warga NU juga ditempatkan sebagai fondasi utama. “NU itu kebersamaan yang paling penting,” menjadi salah satu prinsip yang sering disampaikannya.

Pandangan tersebut semakin terlihat ketika ia menyampaikan pesan dalam momentum Muktamar: “Siapa pun yang terpilih jadi Ketum PBNU, NU harus tetap rukun.”

Membawa NU Kembali ke Khittah Organisasi

Dalam pencalonan Ketua Umum PBNU periode 2026–2031, Gus Kikin masuk dalam lima besar calon berdasarkan proses penjaringan. Dalam dokumen biografi tersebut, ia tercatat memperoleh 472 suara, sekaligus menjadi peraih suara tertinggi dalam penjaringan. Namun, mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU tetap berada dalam proses yang ditentukan melalui Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

Gus Kikin menawarkan corak kepemimpinan yang menekankan persatuan, penguatan tradisi keulamaan, kemandirian ekonomi dan tata kelola organisasi. Perpaduan pengalaman pesantren dengan dunia profesional menjadi modal yang membedakannya dari banyak tokoh lainnya.

Jika NU adalah rumah besar dengan jutaan warga, maka kepemimpinan Gus Kikin menawarkan satu pesan sederhana: rumah besar itu harus tetap teduh, kokoh dan tidak kehilangan akar sejarahnya.

Di tengah perubahan zaman dan kompleksitas organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, sosok Gus Kikin hadir dengan pengalaman yang tidak hanya dibentuk dari kitab dan pesantren, tetapi juga dari dunia usaha, organisasi dan kehidupan profesional. Perjalanan panjang itulah yang kini membawanya ke salah satu panggung paling penting dalam sejarah NU./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Profile

Sekapur Sirih Seulas Pinang, Sebait Rindu dari Tepian Teluk

JAKARTA, Bisnistoday-Waktu mungkin terus berjalan menjauh, tapi kenangan selalu punya cara untuk...

Mendikdasmen
Profile

Abdul Mu’ti Berbagi Kisah Perjalanan dari Anak Desa hingga Menteri

SURABAYA, Bisnistoday  - Sesi kelas inspiratif yang menjadi bagian dari rangkaian Puncak...

Profile

Fadhly Rafiansyah, Mahasiswa Terbaik UPI yang Berhasil Bangun Karier Sebelum Lulus

BANDUNG, Bisnistoday - Menjadi mahasiswa terbaik tidak pernah direncankan oleh Muhammad Fadhly...

Wamendagri
HEADLINE NEWSProfile

Kepemimpinan Berlandaskan Nilai, Harapan, dan Merawat Dukungan Masyarakat

JAKARTA, Bisnistoday – Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto, Ph.D. menegaskan...