www.bisnistoday.co.id
Selasa , 1 September 2026
Home EKONOMI Ekonomi & Bisnis Prof. Jomo Kwame Sundaram : Pertumbuhan Ekonomi Tinggi Bukan Jaminan Rakyatnya Sejahtera
Ekonomi & BisnisHEADLINE NEWS

Prof. Jomo Kwame Sundaram : Pertumbuhan Ekonomi Tinggi Bukan Jaminan Rakyatnya Sejahtera

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak serta merta menjamin kehidupan rakyatnya menjadi sejahtera, namun ekonomi dibentuk melalui karakter struktural secara spesifik masing-masing negara.

Prof Jomo
PROF. Jomo Kwame Sundaram, Ekonom dari Malaysia, dalam kuliah umum yang bertajuk “Sejak Kapan Kita Menjadi Liberal?: Sejarah Ilmu Ekonomi di Asia Tenggara” yang dimotori Program Doktor Ilmu Manajemen dan Bisnis Universitas Paramadina bekerja sama dengan Megawati Institute, di Jakarta, baru-baru ini./
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Ekonom Malaysia, Prof. Jomo Kwame Sundaram, dalam kuliah umum yang bertajuk “Sejak Kapan Kita Menjadi Liberal?: Sejarah Ilmu Ekonomi di Asia Tenggara” menjelaskan, bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak menjamin rakyatnya hidup sejahtera.

Seperti liberalisasi ekonomi India sejak 1991, diakui bahwa peningkatan pertumbuhan ekonomi India setelah reformasi, hanya saja mengingatkan pula bahwa pertumbuhan ekonomi tidak secara otomatis berarti peningkatan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

“Kalau kita lihat dari segi pertumbuhan ekonomi, perkembangan ekonomi, tidak boleh dinafikan India telah tumbuh. Tetapi kalau kita lihat dari segi nasib orang biasa, ceritanya lain sekali,” kata Jomo Kwame Sundaram saat diskusi yang dimotori Program Doktor Ilmu Manajemen dan Bisnis Universitas Paramadina bekerja sama dengan Megawati Institute, di Jakarta, Senin (31/8).

Menurutnya, kebijakan pembangunan harus dinilai berdasarkan dampaknya terhadap masyarakat luas, bukan hanya melalui indikator pertumbuhan ekonomi. Ia mengingatkan bahwa liberalisasi dapat menciptakan peluang besar bagi kelompok yang telah memiliki modal. Karena itu, distribusi manfaat pembangunan menjadi persoalan penting yang tidak boleh diabaikan.

“Perkembangan ekonomi sepatutnya memberi manfaat kepada orang ramai. Itu sepatutnya menjadi prioritas,” tegas Prof. Jomo.

Disisi lain, Prof. Jomo kembali menekankan pentingnya sikap kritis terhadap berbagai teori dan model pembangunan. Pengalaman Tiongkok, India, Brasil, Jepang, maupun negara-negara Asia Timur dapat menjadi referensi penting, tetapi penerapannya harus disesuaikan dengan konteks nasional masing-masing.

“Belajar daripada India, belajar dari mana-mana saja, tetapi jangan menganggap ini semua memberi apa yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai ‘magic bullet’,” tuturnya.

Konteks Indonesia dan Asia Tenggara

Dalam konteks Indonesia dan Asia Tenggara, pendekatan berbasis konteks tersebut menjadi penting karena setiap negara memiliki pengalaman kolonial, sistem politik, institusi, bahasa, serta tradisi intelektual yang berbeda.

Prof. Jomo menjelaskan bahwa perkembangan pemikiran ekonomi Indonesia, misalnya, turut dipengaruhi oleh jaringan pendidikan internasional, termasuk pengaruh universitas di Amerika Serikat, Australia, Jepang, dan negara-negara lainnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa sejarah pendidikan dan jaringan intelektual turut membentuk cara suatu negara memahami ekonomi dan merumuskan kebijakan.

Liberalisme Tidak Memiliki Satu Makna Tunggal

Dalam paparannya, Prof. Jomo menegaskan bahwa liberalisme bukanlah konsep yang memiliki satu pengertian tunggal. Maknanya dapat berubah sesuai dengan konteks sejarah, negara, serta kepentingan politik yang melatarbelakanginya.

Karena itu, menurutnya, istilah liberalisme yang digunakan dalam kebijakan ekonomi perlu dipahami secara kritis dengan melihat siapa yang menggunakan istilah tersebut dan dalam konteks apa.

“Tidak ada satu liberalisme yang dipersetujui semua orang. Maksud liberalisme itu kabur. Jadi kalau kita dengar istilah liberal, kita mesti tahu siapa yang menggunakannya, apa maksudnya,” tutur Prof. Jomo.

Ia menjelaskan bahwa pemikiran ekonomi yang berkembang saat ini tidak dapat dilepaskan dari perjalanan sejarah, termasuk kolonialisme, imperialisme, perubahan politik global, serta perkembangan institusi ekonomi internasional.

Berbagai teori ekonomi yang sering dipandang sebagai kebenaran universal, menurut Prof. Jomo, pada dasarnya lahir dari konteks sejarah tertentu. Karena itu, teori dan model tersebut tidak selalu dapat diterapkan begitu saja pada negara lain.

Pentingkan Aspek Teknis Ekonomi

Prof. Jomo juga mengkritisi kecenderungan pendidikan ekonomi modern yang dinilainya terlalu menekankan aspek teknis dan kurang memberikan ruang bagi sejarah pemikiran ekonomi.Menurutnya, memahami asal-usul sebuah gagasan merupakan bagian penting dalam merumuskan kebijakan ekonomi yang tepat. “Ide itu tidak jatuh dari langit. Ini bukan wahyu. Kita mesti berpijak di atas bumi dalam memikirkan kebijakan yang sesuai.”

Dalam kuliah umum tersebut, Prof. Jomo menjelaskan perubahan paradigma ekonomi dunia dari pemikiran Keynesian menuju neoliberalisme sejak akhir 1970-an. Kemunculan stagflasi di negara-negara Barat menjadi salah satu momentum yang mendorong kritik terhadap pemikiran Keynesian dan memperkuat gagasan yang menekankan mekanisme pasar.

Perubahan tersebut kemudian berkembang melalui kebijakan yang diasosiasikan dengan pemerintahan Margaret Thatcher di Inggris dan Ronald Reagan di Amerika Serikat. Deregulasi, pengurangan pajak, liberalisasi perdagangan, serta pengurangan peran negara menjadi gagasan yang kemudian memperoleh pengaruh luas, termasuk dalam kebijakan ekonomi di negara-negara berkembang.

Washington Consensus dan Asia Timur

Prof. Jomo turut menyoroti kemunculan Washington Consensus yang menurutnya mencerminkan kesamaan pandangan antara lembaga-lembaga keuangan internasional, seperti IMF, Bank Dunia, dan US Treasury. Kebijakan stabilisasi dan penyesuaian struktural yang diterapkan di negara-negara berkembang, menurutnya, menghasilkan dampak yang berbeda-beda di berbagai kawasan.

Sebaliknya, pengalaman negara-negara Asia Timur menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi tidak selalu berjalan melalui pengurangan peran negara. Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Tiongkok menjadi contoh negara yang menunjukkan bagaimana negara dapat memainkan peran strategis dalam proses industrialisasi dan pembangunan ekonomi.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan membangun “konsensus baru” dari Global South sebagai alternatif terhadap Washington Consensus, Prof. Jomo menolak gagasan tentang satu formula kebijakan yang dapat berlaku universal. “Kebijakan ekonomi yang tepat sepatutnya berakar umbi dalam konteksnya. Tidak ada satu dasar yang sesuai untuk semua negeri, apalagi di dunia ketiga.”

Ia menekankan bahwa setiap negara memiliki kondisi sejarah, struktur ekonomi, institusi, serta posisi geopolitik yang berbeda. Karena itu, pengalaman negara lain sebaiknya dipelajari sebagai sumber pembelajaran, bukan ditiru secara mentah.

“Kita harus belajar dari India, kita harus belajar dari mana-mana saja. Tetapi itu tidak bermakna bahwa apa yang dilakukan Cina atau India sesuai bagi kita semua,” serunya./

Ekonomi Liberal

Ketua Program Studi Doktor Ilmu Manajemen dan Bisnis Universitas Paramadina, Prof. Dr. Ahmad Badawi Saluy, mengatakan pemahaman terhadap sejarah ekonomi liberal di Asia Tenggara penting untuk membaca perkembangan geopolitik dan kesejahteraan kawasan.

“Sejarah Ekonomi Liberal di Asia Tenggara adalah hal penting dan sangat krusial bagi lanskap geopolitik dan kesejahteraan kawasan kita, sebagai institusi yang selalu mengedepankan pemikiran kritis dan nilai-nilai kemanusiaan,” tutur Prof. Badawi.

Menurutnya, sejarah ekonomi tidak semata-mata berkaitan dengan masa lalu, tetapi memiliki keterkaitan langsung dengan struktur sosial, kebijakan publik, dan realitas ekonomi yang dihadapi masyarakat saat ini.

“Melalui diskusi ini, Program Doktor Universitas Paramadina berkomitmen untuk terus menghidupkan tradisi keilmuan yang tajam dan kritis. Kita ingin melihat bagaimana liberalisasi ekonomi membawa peluang sekaligus tantangan, serta bagaimana kita dapat merumuskan model ekonomi yang tidak hanya efisien secara pasar, tetapi juga berkeadilan sosial bagi masyarakat,” ujarnya./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Gedung Kemenperin
Ekonomi & Bisnis

Kemenperin Catat Indeks Kepercayaan Industri per Agustus 2026 Masih Ekspansif

JAKARTA, Bisnistoday - Kementerian Perindustrian mencatat Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Agustus...

Harga Emas
HEADLINE NEWS

Permintaan Naik, Harga Emas Periode Pertama September 2026 Meningkat

JAKARTA, Bisnistoday – Kementerian Perdagangan menetapkan Harga Patokan Ekspor (HPE) emas sebesar...

Rupiah
Ekonomi & BisnisHEADLINE NEWS

Rupiah Terancam Terus Melemah, Prof Didik: BI Tak Bisa Bekerja Sendirian

JAKARTA, Bisnistoday - Bank Indonesia (BI) diperkirakan masih menghadapi tantangan berat dalam...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Kemenkop Tutup Program Magang Pengurus KDKMP Dari 31 Provinsi

LAMONGAN, Bisnistoday - Kementerian Koperasi menutup program magang pengurus Koperasi Desa/Kelurahan Merah...