www.bisnistoday.co.id
Jumat , 4 September 2026
Home GLOBAL Aktivis Perempuan dan HAM, Gloria Steinem Tutup Usia
GLOBAL

Aktivis Perempuan dan HAM, Gloria Steinem Tutup Usia

Sebagai penulis sembilan buku, ia berkampanye melawan kekerasan dalam rumah tangga, industri pornografi, serta menentang Perang Vietnam dan Perang Teluk.

Tokoh feminis Gloria Steinem (dokRichard Saker/The Observer)
Tokoh feminis Gloria Steinem (dokRichard Saker/The Observer)
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Tokoh feminis yang juga seorang mantan jurnalis, Gloria Steinem, Kamis (3/9/2026) pagi waktu setempat, wafat di kediamannya di New York,  Amerika Serikat, pada usia 92 tahun.

“Steinem meninggal dengan tenang di kediamannya di New York City, dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya,” demikian bunyi pernyataan yang dibagikan di akun Instagram-nya.

“Hampir satu abad kehidupan Gloria di dunia ini telah dijalani dengan bermakna, dan ia terus memperjuangkan kesetaraan hingga akhir hayatnya,” tambah unggahan tersebut.

“Anugerah terbesar Gloria adalah kemampuannya mendengarkan orang lain, serta membuat mereka merasa dilihat dan didengar. Kata-kata, tindakan, dan teladannya memberikan keberanian bagi orang lain untuk menjadi diri mereka yang sesungguhnya.”

The Guardian menyebut Steinem membawa perspektif feminis ke ranah arus utama melalui jurnalisme yang mendalam, pidato publik, dan aktivisme politik. Sebagai penulis sembilan buku, ia berkampanye melawan kekerasan dalam rumah tangga, industri pornografi, serta menentang Perang Vietnam dan Perang Teluk.

Ia juga mendukung berbagai gerakan seperti Black Lives Matter, reunifikasi Korea, hak reproduksi perempuan, dan gerakan Time’s Up. Pada 1984, ia sempat ditangkap saat berunjuk rasa menentang apartheid di depan Kedutaan Besar Afrika Selatan di Washington DC.

Pada Kamis pagi, orang-orang yang melintas meninggalkan penghormatan di depan rumah klasik nan elegan milik Steinem di kawasan Upper East Side, Manhattan. Debbie Goldberg, yang mengaku tinggal di dekat sana, meletakkan sebuket bunga merah di samping anak tangga menuju pintu depan.

“Saya belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Namun, dia layak mendapatkannya,” ujarnya. Ia menggambarkan Steinem sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah perjuangan hak-hak perempuan dan hak asasi manusia.

“Dia adalah pahlawan bagi semua perempuan, baik mereka menyadarinya maupun tidak,” katanya.

Goldberg menceritakan bahwa ia pernah menyaksikan Steinem berpidato di Washington DC sekitar 30 tahun yang lalu, dan kemudian berpapasan dengannya saat keduanya hendak menonton film Barbie di bioskop yang berjarak beberapa blok dari sana pada 2023.

Goldberg juga berencana untuk menyaksikan Steinem berbicara dalam sebuah acara di YMCA setempat beberapa minggu lagi. “Dia selalu menjadi sosok idola bagi saya,” tambah Goldberg.

Latar belakang

Lahir di Ohio pada 1934, Steinem tumbuh besar di sebuah rumah karavan (trailer home). Gangguan jiwa yang diderita ibunya membuat sang ibu kesulitan mempertahankan pekerjaan serta harus keluar-masuk sanatorium.

Saat Steinem berusia 10 tahun, orang tuanya berpisah; ketika tumbuh besar bersama ibunya di sebuah rumah yang tidak terawat di Toledo, Steinem mulai menyadari perlakuan tidak adil yang harus dihadapi ibunya sebagai seorang wanita pekerja.

Setelah lulus dari sebuah perguruan tinggi seni liberal khusus perempuan pada 1956, Steinem pergi ke India selama dua tahun dan bekerja sebagai staf administrasi hukum di Mahkamah Agung negara tersebut.

Sekembalinya ke Amerika Serikat, ia bekerja sebagai direktur Independent Research Service, sebuah organisasi bentukan CIA yang merekrut mahasiswa Amerika untuk mengacaukan Festival Pemuda Sedunia yang dikendalikan Uni Soviet di Wina dan Helsinki. Steinem kemudian mengungkapkan bahwa ia sejak awal mengetahui siapa yang mendanai operasi tersebut: “Jika diberi pilihan, saya akan melakukannya lagi,” katanya.

Pada 1962, ia menerima “tugas serius” pertamanya di bidang jurnalisme dari editor majalah Esquire, Clay Felker. Artikel liputan khususnya mengenai kontrasepsi, yang berjudul The Moral Disarmament of Betty Coed, menguraikan bagaimana perempuan dipaksa memilih antara karier dan keluarga.

Tahun berikutnya, Steinem menyamar sebagai ‘waitress’ selama 11 hari demi menulis artikel investigasi yang menghebohkan tentang perlakuan terhadap para model glamor saat bekerja di Playboy Club milik Hugh Hefner.

Karena harus mengenakan kostum ketat dan sepatu hak tinggi, berat badan Steinem turun 10 pon (sekitar 4,5 kg)—setengahnya hilang hanya dalam satu malam—selama masa kerjanya; manajernya justru merayakannya dengan membuat kostum Steinem dua inci lebih ketat. Setelah artikel itu terbit, ia kesulitan mendapatkan pekerjaan karena telah dicap sebagai pekerja klab malam—dan alasannya tidak lagi penting”.

Pada tahun 1968, Felker mempekerjakannya di majalah New York; di sana, ia mencetuskan istilah “kebebasan reproduksi” (reproductive freedom) dalam sebuah artikel mengenai acara diskusi terbuka (speakout) tentang aborsi di Greenwich Village.

Setelah menjalani aborsi di London pada usia 22 tahun, ia kemudian menggambarkan adanya momen yang kuat saat mengikuti sebuah aksi protes dan mengatakan bahwa hari itu menandai awal kehidupannya sebagai seorang aktivis feminis.

“Menurut saya, orang yang mengatakan, ‘Sayang, jika laki-laki bisa hamil, aborsi akan dianggap sebagai sakramen,’ itu benar,” ujarnya kepada Observer pada 2011. “Bagi saya pribadi, saya sadar bahwa saat itulah pertama kalinya saya mengambil tanggung jawab atas hidup saya sendiri. Saya tidak ingin membiarkan berbagai hal terjadi begitu saja pada diri saya. Saya ingin mengarahkan hidup saya, itu terasa positif.”

Ia juga mengakui peran para feminis kulit hitam—termasuk Florynce Kennedy, Evelyn Cunningham, Shirley Chisholm, dan Fannie Lou Hamer—yang telah mengajarkannya tentang pentingnya aktivisme. “Rasanya seperti menemukan keluarga,” ujarnya mengenang masa itu. “Betapapun berbedanya kami satu sama lain—dan kami memang sangat berbeda—para perempuan memiliki harapan dan visi yang sama mengenai dunia.”//

 

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Petugas berusaha mencari korban banjir di Nepal. (cnsphoto/Reuters)
GLOBAL

Ribuan Korban Banjir di Nepal Belum Ditemukan

JAKARTA, Bisnistoday - Sejak banjir bandang melanda lembah-lembah Himalaya di Nepal dan...

Selat Hormuz (Ilustrasi/dok:unsplash/scott-tobin)
GLOBAL

AS-Iran Saling Serang, Ketegangan di Selat Hormuz Kembali Meningkat

JAKARTA, Bisnistoday - Pasukan Amerika Serikat menyerang peluncur tudal Milik Iran di...

Rudal Iran (dok:Unsplash/Moslem daneshzadel)
GLOBAL

AS Siapkan Sanksi Ekonomi Terberat untuk Iran

JAKARTA, Bisnistoday — Konfrontasi antara Amerika Serikat dan Iran memasuki fase baru...

Politikus Partai Demokrat Abdul El-Sayed (Dok:Reuters)
GLOBAL

Kemenangan El-Sayed Permalukan Kubu Pro-Israel

JAKARTA, Bisnistoday – Kemenangan Abdul El-Sayed di Michigan dalam pemilihan pendahuluan Partai...